KETIK, SURABAYA – Banyak yang menganggap sahur sebagai “momen terakhir” sebelum berpuasa seharian. Tak sedikit yang kemudian makan dalam porsi besar dengan harapan bisa menahan lapar lebih lama. Namun, kebiasaan ini apakah baik untuk tubuh?
Prinsip tidak berlebihan dalam makan telah ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-A‘raf ayat 31:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Dalam Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa ayat ini menegaskan perintah Allah kepada manusia untuk menikmati makanan dan minuman yang halal dan baik, namun tetap dalam batas kewajaran, karena sikap berlebih-lebihan tidak di sukai oleh Allah.
Pesan tersebut menjadi relevan dalam praktik sahur, ketika sebagian orang justru memilih makan dalam porsi besar dengan alasan agar kuat berpuasa seharian. Dari sisi kesehatan, pola makan berlebihan juga berisiko memicu gangguan pencernaan.
Dokter Tirta Mandira Hudhi dalam akun YouTube miliknya, Tirta PengPengPeng, pada 6 Maret 2025 menjelaskan kebiasaan mengisi lambung secara berlebihan berpotensi memicu gangguan pencernaan seperti mual, muntah, hingga naiknya asam lambung (GERD).
Lambung manusia memiliki kapasitas terbatas, sehingga ketika diisi hampir penuh dalam waktu singkat, tubuh akan bekerja lebih keras untuk mencerna makanan.
“Makan secukupnya, tubuh itu bisa bertahan bahkan tanpa makan 4 hari. Tubuh manusia normal ya,” terangnya.
Menurutnya kekurangan asupan air jauh lebih berisiko karena sekitar dua pertiga komposisi tubuh manusia terdiri dari cairan. “Jadi kamu kalau sahur secukupnya tuh bisa hidup mas, gak akan kurus dan jangan gunakan ini sebagai event balas dendam makan,” jelasnya lagi.
Pandangan serupa juga dijelaskan oleh Dokter Suhardjanto dalam akun TikTok miliknya, @doktersuhardjanto, pada 24 Februari 2026 ia menjelaskan bahwa Sahur yang tepat selama Ramadan bukan sekadar makan banyak, melainkan memperhatikan keseimbangan gizi. “Kalau kita makan sahur pada bulan Ramadan, maka yang betul adalah gizi yang seimbang,” sarannya.
Ia juga menjelaskan, apabila ingin memprioritaskan antara karbohidrat dan protein maka yang lebih diutamakan adalah protein, karena protein dapat membuat rasa kenyang lebih lama, selain itu protein juga dapat memantu untuk mencegah kehilangan massa otot ketika sedang berpuasa dan menjaga gula darah agar tetap stabil. Untuk sumber protein bisa dari telur, ayam, tahu ataupun tempe.
Selain itu ia juga menyarankan untuk mengkonsumsi karbohidrat komplek saat sahur, seperti nasi merah, ubi atau kentang. Hal ini dikarenakan karbohidrat komplek di cerna lebih lambat dan kadar gula dalam darah lebih stabil.
Apabila sahur dengan nasi putih ia menyarankan agar porsinya lebih sedikit. Ia juga menyarankan untuk perbanyak serat dan minum air putih dengan cukup untuk menghindari dehidrasi.
Dengan demikian, sahur bukanlah ajang “balas dendam” sebelum berpuasa, melainkan kesempatan menyiapkan tubuh secara bijak. Pola makan yang seimbang, tidak berlebihan, dan memperhatikan kebutuhan gizi justru lebih membantu menjaga stamina sepanjang hari. Ramadan pun dapat dijalani dengan lebih sehat dan optimal dalam beribadah. (*)
