KETIK, MOJOKERTO – Kelompok Tani Bangun Jaya tersenyum lebar setelah buah jeruk hasil bertaninya dibeli oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto.

Kebun jeruk itu memanfaatkan bantaran Sungai Ngotok di Lingkungan Balongcangkring II, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

Bantaran sungai dengan luas 10 hektare itu sebelumnya terbengkalai, namun ditangan para pria yang tergabung dalam Kelompok Tani Bangun Jaya mampu menghasilkan ratusan kilogram jeruk dengan jenis Siam Madu.

Koordinator Kelompok Tani Bangun Jaya Eko Darsono, mengatakan saat ini dia mampu memenuhi 3,5 kuintal jeruk untuk kebutuhan MBG di SPPG Jabon, Mojoanyar.

"Kita butuh tiga setengah kuintal untuk kita kirimkan ke SPPG Jabon Mojoanyar. Kalau kita panen lima sampai enam bisa, tapi kita minta jadwal dari SPPG Nyapon Mojoanyar. Kita mau dijadwalkan untuk pengiriman," kata Eko, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Baca Juga:
Kejari Kota Mojokerto Lelang 9 Kendaraan Rampasan Negara, Masyarakat Bisa Ikut Berburu Murah

Kelompok tani yang dia koordinir totalnya 10 hektare, namun lahan yang saat ini panen hanya 1,4 hektare dengan jumlah 200 pohon yang berada di bantaran sungai.

"Bantaran sungai. Dimanfaatkan untuk petani dari masyarakat sekitar. Mulai awal pembuahan itu 4 tahun sampai 4 tahun setengah, awal-awal kita panen pohon jeruk ini. Kita usahakan itu setahun itu bisa 3 atau 4 kali, karena kita habis panen itu banyak yang pentil (kecil) nanti ada yang besar lagi kita panen lagi tetap bertahap," ungkapnya.

Menurutnya, pihak SPPG Jabon Mojoanyar membeli jeruk hasil tani sama dengan harga pasar yang saat ini berharga Rp15.000 per kilogram.

"Sesuai harga pasar ya, sementara ini Rp15.000 per kilo. Ini jenis jeruk siem madu. Perawatannya kita belajarnya ya, autodidak ya kita untuk pupuk ya pakai kimia, tapi sekarang kita coba pupuk organik karena harga pupuk kimia yang agak lumayan," terangnya.

Baca Juga:
Turnamen Jujitsu Wali Kota Mojokerto Cup 2026 Resmi Berakhir, Jujitsu Bantar Angin Raih Juara Umum

Masih kata Eko, ada perbedaan sebelum dibeli oleh SPPG dan dibeli. Sebelum dibeli petani kesulitan setelah panen untuk memasarkan hasil panennya.

"Yang jelas ada perbedaan, awal-awal kita panen dulu itu kita kesulitan pasar, jadinya agak patah semangat ya. Terus ada SPPG Jabon Mojoanyar ke kita siap menampung harga yang lebih tinggi ya, sama sesuai pasar, jadinya para tani kelompok tani ini semangat lagi," bebernya.

Sementara, Kepala SPPG Jabon Mojoanyar Yanse Young Pribadi, menyebut dirinya berani membeli jeruk langsung dari petani lantaran ingin mensejahterakan petani.

"Jadi dari yang awal petani ini tidak punya pasar untuk bahan bakunya dibeli, kita menawarkan untuk membeli bahan baku mereka, tapi tetap untuk mengedukasi mereka juga, agar kualitas dari bahan baku mereka itu bagus dan anak-anak atau para penerima manfaat ini jadi suka dengan bahan baku yang kita suplai. Khususnya di TK sampai SMP dengan porsi total itu 3 ribu dalam sehari," pungkasnya. (*)