KETIK, SURABAYA – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu, 10 Juni 2026.

Aksi yang berlangsung sekitar pukul 17.20 WIB tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Massa aksi menyoroti berbagai persoalan ekonomi, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Koordinator Lapangan aksi, Muhammad Ivan Akiedozawa, mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam situasi yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan otoritas moneter.

Menurutnya, berbagai kebijakan ekonomi yang membutuhkan anggaran besar berpotensi menimbulkan dampak lanjutan terhadap stabilitas ekonomi apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang tepat.

Baca Juga:
BBM Naik di Tengah Rupiah Anjlok, PMII Jatim: Rakyat Lagi yang Menanggung Beban

"Jangan sampai bangsa ini kembali mengalami krisis seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Karena itu kami turun untuk mengingatkan dan mengawal kondisi ekonomi nasional," kata Edo dalam orasinya.

Selain menyoroti kenaikan harga kebutuhan masyarakat, massa aksi juga menilai pelemahan nilai tukar rupiah menjadi indikator yang menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kebijakan moneter yang dijalankan Bank Indonesia.

Edo menyebut rupiah tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga mencerminkan kedaulatan ekonomi bangsa.

"Rupiah bukan sekadar alat tukar. Rupiah adalah simbol kedaulatan bangsa dan harga diri negara. Bank Indonesia harus menjadi benteng utama pertahanan ekonomi nasional," ujar Ketua PKC PMII Jatim itu.

Baca Juga:
Prabowo Ungkap Alasan Ingin Jadi Presiden: Saya Sudah Lihat Indonesia ke Arah yang Salah Sejak 1990-an

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan tujuh tuntutan utama kepada pemerintah dan Bank Indonesia.

Pertama, mendesak Bank Indonesia membuka secara transparan peta jalan penyelamatan rupiah kepada publik. Kedua, meminta DPR RI melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Bank Indonesia.

Ketiga, mendorong penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Keempat, mendesak adanya reformasi kelembagaan di tubuh Bank Indonesia.

Kelima, meminta seluruh pejabat Bank Indonesia bekerja lebih serius dalam menjaga stabilitas nilai rupiah. Keenam, mendesak Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk mengevaluasi dan mencopot Gubernur Bank Indonesia beserta jajaran yang dinilai tidak mampu menjalankan tugasnya secara optimal.

Sedangkan tuntutan ketujuh adalah meminta Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur melakukan sumpah mubahalah sebagai bentuk pembuktian bahwa selama menjalankan tugas tidak pernah melakukan penyimpangan.

Aksi sempat berlangsung tegang ketika massa tidak kunjung mendapatkan tanggapan maupun kesempatan berdialog dengan perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur.

Kekecewaan peserta aksi memuncak hingga mereka melakukan pembakaran ban di depan kantor BI Jawa Timur sebagai bentuk protes.

Petugas kepolisian yang telah bersiaga di lokasi langsung melakukan pengamanan dan memadamkan api untuk mencegah situasi berkembang lebih jauh.

Meski sempat diwarnai aksi bakar ban, demonstrasi berlangsung dalam pengawasan aparat keamanan dan tidak sampai menimbulkan gangguan yang lebih luas di kawasan Jalan Pahlawan Surabaya.

Hingga aksi berakhir, belum ada pernyataan resmi dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur terkait tuntutan yang disampaikan mahasiswa.(*)