KETIK, LUMAJANG – Upaya Indonesia menangani soal timbunan sampah tidak bisa hanya mengandalkan sistem hilir. Kunci perubahan justru berada di hulu, yakni rumah tangga.
Di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pendekatan ini mulai dijalankan melalui gerakan Tim Penggerak PKK yang mendorong pengelolaan sampah menjadi sumber ekonomi produktif.
Melalui sosialisasi dan bimbingan teknis di Desa Tukum, Kamis, 23 April 2026, Ketua TP PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, menyampaikan, perubahan pola pikir masyarakat menjadi fondasi utama.
“Selama ini sampah dianggap selesai saat dibuang. Padahal, jika dikelola, justru bisa menjadi sumber pendapatan keluarga,” ujarnya.
Data nasional menunjukkan, komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik rumah tangga. Artinya, intervensi di tingkat keluarga memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan beban lingkungan secara keseluruhan.
Baca Juga:
Anggota Komisi A DPRD Kota Malang Sebut Kedekatan dengan Masyarakat Jadi Modal Utama Jelang Pemilu 2029Di Lumajang, pendekatan tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan limbah organik, seperti sisa sayur dan buah menjadi media budidaya cacing. Hasilnya tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi, seperti pakan ternak dan pupuk organik.
Model ini mencerminkan praktik ekonomi sirkular, di mana limbah diproses kembali menjadi sumber daya produktif. Dalam skala rumah tangga, pendekatan ini dinilai efektif karena sederhana, murah, dan mudah direplikasi.
“Ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tetapi penguatan ekonomi keluarga berbasis potensi yang ada di rumah,” kata Dewi Natalia.
Gerakan ini juga selaras dengan arah kebijakan nasional dalam pengembangan ekonomi hijau dan implementasi SDGs Desa, khususnya pada tujuan desa peduli lingkungan, desa tanpa sampah, serta desa dengan pertumbuhan ekonomi inklusif.
Baca Juga:
Perjuangan Orang Tua Dampingi Anak UTBK di Universitas Brawijaya, Tanpa Bimbel Andalkan Doa dan SemangatPeran PKK menjadi krusial karena memiliki jaringan hingga tingkat dasawisma. Dengan struktur yang kuat di akar rumput, edukasi dan praktik pengelolaan sampah dapat menyebar secara cepat dan berkelanjutan.
“PKK berada di garis depan perubahan perilaku masyarakat. Dari ibu-ibu, gerakan ini bisa meluas ke seluruh keluarga,” ujarnya.
Selain berdampak pada lingkungan, pengelolaan sampah berbasis rumah tangga juga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Produk hasil olahan memiliki nilai jual dan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan, terutama bagi perempuan sebagai pengelola ekonomi domestik.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak harus dimulai dari teknologi besar atau investasi tinggi. Pendekatan sederhana berbasis komunitas justru memiliki daya ungkit yang kuat jika dilakukan secara konsisten.
Ke depan, integrasi gerakan ini dengan kebijakan desa, dukungan pemerintah daerah, serta akses pasar bagi produk turunan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan.
Dari Lumajang, praktik ini menjadi contoh bahwa transformasi pengelolaan sampah dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketika rumah tangga mampu mengelola sampahnya sendiri, desa menjadi lebih mandiri, dan kontribusi terhadap agenda nasional pun semakin nyata.(*)