KETIK, YOGYAKARTA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus berupaya mengantisipasi lonjakan sampah plastik dan potensi pencemaran lingkungan menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H. Melalui Surat Edaran (SE) Bupati Sleman Nomor 0355 Tahun 2026, pemkab memperketat aturan pelaksanaan ibadah kurban, mulai dari pelarangan penggunaan plastik sekali pakai hingga penanganan limbah secara mandiri.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Sleman, Makwan, menegaskan bahwa kebijakan ini diambil sebagai langkah konkret mitigasi risiko lingkungan dan kesehatan di wilayah Sleman sekaligus mendukung UMKM. Pihaknya menginstruksikan seluruh panitia kurban untuk meninggalkan kantong plastik dan beralih ke kemasan yang ramah lingkungan.

"Kami minta panitia kurban tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai untuk membagikan daging. Gunakan wadah yang bisa dikomposkan atau dipakai ulang, seperti besek bambu atau dedaunan," ujar Makwan Minggu 24 Mei 2026.

Tak hanya soal sampah plastik, Makwan juga menggarisbawahi larangan keras terkait pembuangan limbah kurban ke fasilitas air publik.

"Darah, isi rumen/blodot, dan limbah pemotongan dilarang keras dibuang langsung ke sungai, selokan, irigasi, embung, atau badan air lainnya karena bisa mencemari perairan dan merusak ekosistem lingkungan," imbuhnya.
 

Wedomartani: Ratusan Besek dan Cairan EM4

Aturan ketat dari Pemkab Sleman ini langsung direspons positif di tingkat akar rumput. Salah satu contoh nyata ditunjukkan oleh Panitia Kurban Padukuhan Blotan RW 40, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak.
Ketua Panitia Kurban Padukuhan Blotan, H Kalis Purwanto, menyatakan kesiapannya melaksanakan ibadah kurban yang higienis, bersih, dan hijau demi mematuhi SE Bupati tersebut. Tahun ini, pihaknya berencana menyembelih 10 ekor lembu dan 12 ekor kambing.

Untuk mendistribusikan daging ke warga tanpa kantong plastik, panitia telah memesan ratusan wadah tradisional.

"Kami menindaklanjuti arahan pemkab dengan menyiapkan 714 besek bambu serta daun jati sebagai pembungkus daging kurban. Warga juga diimbau membawa wadah sendiri dari rumah untuk mengurangi timbulan sampah," ujar Kalis seperti yang disampaikan pada Makwan.

Mengenai pengelolaan limbah yang biasanya menjadi persoalan pelik, panitia telah meninggalkan kebiasaan lama mencuci jeroan di selokan. Sebagai gantinya, mereka membuat sistem penguburan mandiri yang ramah lingkungan di lokasi pemotongan.

"Sesuai dengan standar teknis dari edaran Bupati, kami menyiapkan lubang penampungan rumen berukuran 0,5 m x 0,5 m × 1,5 m. Sebelum ditimbun kembali dengan tanah, kotoran rumen atau blodot tersebut akan disiram terlebih dahulu menggunakan cairan fermentasi EM4 (Effective Microorganisms 4) untuk mempercepat pembusukan dan menghilangkan bau tak sedap," papar Kalis secara detail.

Selain lubang rumen, panitia juga memastikan pembuatan lubang penampungan darah yang terpisah sesuai komoditas ternak demi menjaga higienitas tempat penanganan daging kurban.

Pengetatan Lalin Ternak dan Kewaspadaan Penyakit

Di sisi lain, SE Bupati Sleman juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) dan zoonosis, seperti antraks, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), serta Lumpy Skin Disease (LSD). Hal ini dipicu oleh meningkatnya lalu lintas ternak antar daerah menjelang hari raya.

Makwan menambahkan, seluruh hewan kurban yang masuk dan beredar di Kabupaten Sleman wajib memenuhi kriteria syariat sekaligus kesehatan veteriner.

"Hewan kurban harus sehat, tidak cacat, cukup umur, dan yang paling penting memiliki Sertifikat Veteriner (SV) atau Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) resmi," tegas Makwan.

Pemerintah Kabupaten Sleman menurunkan Petugas Medik dan Paramedik Pusat Kesehatan Hewan, petugas pemantauan pasar tiban, serta tim pemantau pemotongan untuk mengawasi pelaksanaan kurban selama 4 hari (10 hingga 13 Dzulhijah).

Sinergi antara regulasi yang ketat dan kesadaran tinggi dari panitia kurban seperti di Padukuhan Blotan diharapkan menjadi cetak biru (blueprint) pelaksanaan Iduladha yang bersih, sehat, dan bebas sampah plastik di seluruh Bumi Sembada. (*)

Baca Juga:
Diikuti 2.500 Peserta, Defile 17 Kapanewon Meriahkan Puncak Hari Jadi ke-110 Sleman, Sri Sultan HB X Ajak Warga Mulat Sarira
Baca Juga:
Kelebihan Besek Bambu Sebagai Pembungkus, Daging Kurban Tetap Segar dan Ramah Lingkungan