KETIK, JAKARTA – Israel kembali serang Palestina di jalur Gaza meski Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan rencana perdamaian. Akibat dari serangan tersebut, sedikitnya 19 warga Palestina tewas.
Dikutip dari laporan Aljazeera pada Senin, 3 Agustus 2026 dijelaskan, serangan tersebut terjadi pada Minggu, 2 Agustus 2026 waktu setempat. Serangan itu menyasar sejumlah wilayah di Gaza dan menimbulkan korban dari kalangan warga sipil.
Di Gaza City bagian barat misalnya, tiga orang dari satu keluarga tewas setelah serangan udara menghantam sebuah apartemen di Menara Al-Sousi.
Serangan lain di wilayah al-Qarara, barat laut Khan Younis, juga menewaskan tiga anggota keluarga Al-Hams, termasuk putri mereka yang masih kecil.
Di wilayah Deir el-Balah, Gaza tengah, pasangan suami istri juga dilaporkan tewas setelah rumah mereka menjadi sasaran serangan. Dua saudara laki-laki lainnya meninggal dunia ketika sedang mengendarai sepeda motor di kawasan yang sama.
Baca Juga:
Iran Siaga Penuh, AS dan Israel Dikabarkan Siap Gempur Infrastruktur EnergiSementara di kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara, juga menewaskan seorang warga Palestina. Sementara di al-Mawasi, Khan Younis, satu orang tewas dan lima lainnya terluka setelah sebuah tenda pengungsi diserang.
Selain itu, serangan drone Israel terhadap tenda pengungsi di kawasan Remal, Gaza City bagian barat, menyebabkan dua orang tewas. Empat warga lainnya meninggal dalam serangan terhadap sebuah kendaraan di Gaza City.
Pejabat kesehatan Palestina menyebut serangkaian serangan tersebut menjadi jumlah korban harian terbesar dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, pada Sabtu, serangan Israel juga menghantam gudang obat yang berada di dekat Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir el-Balah.
Baca Juga:
Hamas dan Faksi Palestina Sepakati Rencana Pelucutan Senjata GazaDirektur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, mengatakan penghancuran fasilitas medis membuat obat-obatan dan penyakit menjadi bagian dari dampak perang.
“Penghancuran pasokan medis mengubah obat-obatan dan penyakit itu sendiri menjadi alat perang,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan dua fasilitas mengalami kehancuran total, sementara dua fasilitas lainnya mengalami kerusakan parah. (*)