Sembilan Kasta di Pelataran Suci: Antara Ibadah Langit dan Pajak Sosial

Jurnalis: Fajar Rianto
Editor: Rahmat Rifadin

14 Mar 2026 23:01

Thumbnail Sembilan Kasta di Pelataran Suci: Antara Ibadah Langit dan Pajak Sosial
Berada di tengah lautan manusia di sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H, Masjidil Haram menjadi saksi gradasi spiritualitas jamaah. Ada yang bertahan dengan mental baja, ada pula yang tergelincir menjadi 'i'tikaf komuter' karena beban oleh-oleh. (Foto: Muhsin Budiono/Ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Di bawah pendar lampu kristal raksasa dan hamparan marmer dingin Masjidil Haram, sepuluh malam terakhir Ramadan bukan sekadar ritual. Ia adalah medan magnet yang menyedot jutaan manusia ke dalam satu ambisi kolektif: "mengikat diri" demi menjemput Lailatul Qadr. Namun, di balik seragam putih ihram dan gumam doa yang membubung, praktik i’tikaf para jamaah rupanya tidaklah tunggal. Ia berjenjang, dari yang paling asketis hingga yang paling pragmatis.

Selama berada di jantung kota suci ini, saya menangkap sebuah fenomena menarik tentang "derajat ketahanan" fisik dan mental. Saya menyebutnya sebagai klasifikasi sembilan tingkatan "KW I’tikaf"—sebuah potret sosiologis yang membedah sejauh mana seorang hamba mampu bertahan di barisan depan spiritualitas atau justru terlempar ke pinggiran karena urusan domestik.

Puncak Piramida dan Kompromi Durasi

Kasta tertinggi, atau I’tikaf KW 1, adalah standar emas (The Gold Standard). Kelompok ini mereplikasi secara presisi laku Nabi Muhammad ﷺ: menetap penuh sepuluh hari terakhir tanpa keluar masjid kecuali untuk urusan darurat. Merujuk riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha, sang Nabi "mengurung diri" untuk menjemput wahyu dan keberkahan hingga akhir hayatnya. Namun, di era umroh massal hari ini, golongan ini adalah "barang langka".

Baca Juga:
Jalan Longsor di Cijaku Mulai Diperbaiki, Akses Tiga Kecamatan Segera Pulih

Penurunan daya tahan kemudian melahirkan KW 2 hingga KW 4. Di sini, kompromi mulai terjadi. Ada yang menerapkan sistem selang-seling—sehari di masjid, sehari di hotel (KW 2)—hingga mereka yang menggunakan sistem "satu putaran" dengan masuk sebelum Dzuhur dan baru kembali ke hotel setelah fajar menyingsing (KW 3), atau mereka yang baru masuk menjelang Ashar (KW 4). Di titik ini, aroma kenyamanan hotel mulai menggoda konsistensi.

Fenomena I’tikaf Komuter

Gradasi berlanjut pada KW 5 sampai KW 7. Inilah yang saya sebut sebagai fenomena "i’tikaf komuter". Jamaah di kasta ini biasanya bertahan hingga tarawih pertama atau kedua, pulang ke hotel untuk mereguk istirahat nyaman, lalu kembali lagi menjelang dini hari untuk tahajud hingga Syuruq. Pergeseran ini menunjukkan betapa empuknya kasur hotel dan dinginnya fasilitas air conditioner penginapan sering kali menjadi lawan tanding yang berat bagi kerasnya lantai masjid.

Namun, yang paling paradoks adalah munculnya KW 8 dan KW 9. Pada tingkatan kedelapan, i’tikaf menyusut maknanya menjadi sekadar "setor muka" saat salat fardu. Sementara di titik nadir, KW 9 merepresentasikan sebuah kegagalan total. Niat yang telah dipancang sejak dari tanah air rontok seketika, bukan karena kurangnya iman, melainkan karena kelelahan fisik, meriang, atau terjebak dalam labirin pusat perbelanjaan.

Baca Juga:
Tinjau Perbaikan Jalan Rangkasbitung–Gajrug, Bupati Lebak Minta Warga Ikut Kawal Pembangunan

Beban "Pajak Sosial"

Melihat fenomena ini, kita tidak bisa terburu-buru menghakimi jamaah di kasta rendah sebagai sosok yang kurang takwa. Ada beban struktur sosial yang mereka panggul yang saya sebut sebagai Pajak Sosial. Di Indonesia, umroh adalah peristiwa komunal. Pulang tanpa buah tangan sering kali dianggap sebagai "cacat sosial".

Ekspektasi dari tetangga, kerabat, hingga kolega kantor inilah yang memaksa banyak jamaah mengorbankan malam-malam mustajab demi berburu sajadah, parfum, atau tasbih di pertokoan sekitar Masjidil Haram. Jam biologis yang seharusnya digunakan untuk bersujud, habis tersita untuk tawar-menawar harga riyal.

Pada akhirnya, sembilan kasta ini menjadi cermin bagi tiap-tiap kita. Kita mungkin memaklumi mereka yang tertahan di kasta bawah karena keterbatasan fisik atau tugas mulia menjaga orang tua yang sepuh. Namun, kritik tajam seharusnya dialamatkan pada diri sendiri jika kita berakhir di KW 9 hanya karena gagal mengelola syahwat belanja dan disiplin diri agar tetap fit.

I’tikaf, pada hakikatnya, adalah upaya melepaskan dunia untuk sementara. Ironis jika di tempat paling suci di muka bumi, kita justru semakin erat menggenggamnya. (*)

Baca Sebelumnya

DPD PPNI Santuni Anak Yatim di HUT PPNI ke 52

Baca Selanjutnya

Pimpinan Kasih Banyak Tugas? Amalkan Doa Ini Agar Tidak Stres di Tempat Kerja

Tags:

I'tikaf masjidil Haram Umroh ramadhan Lailatul Qadr Makkah Sosiologi Ibadah Muhsin Budiono ketik.com Fenomena Sosial Jamaah Indonesia Fajar Rianto Ramadandimakkah Lebarandimakkah

Berita lainnya oleh Fajar Rianto

Pemkab Sleman dan Pengadilan Agama Perkuat Sinergi, Bidik Penurunan Pernikahan Dini

13 April 2026 22:04

Pemkab Sleman dan Pengadilan Agama Perkuat Sinergi, Bidik Penurunan Pernikahan Dini

Intip Perencanaan Sumber Daya Air (SDA) Sleman Tahun N+1: Fokus Rehabilitasi Irigasi dan Embung

13 April 2026 15:21

Intip Perencanaan Sumber Daya Air (SDA) Sleman Tahun N+1: Fokus Rehabilitasi Irigasi dan Embung

Pengamat Hukum Yogyakarta: Inkonsistensi Aktivis Ancam Kredibilitas Gerakan Anti-Korupsi

9 April 2026 16:31

Pengamat Hukum Yogyakarta: Inkonsistensi Aktivis Ancam Kredibilitas Gerakan Anti-Korupsi

Sleman Genjot Pemeliharaan Jalan, DPUPKP Targetkan Kemantapan Infrastruktur 80 Persen

9 April 2026 16:18

Sleman Genjot Pemeliharaan Jalan, DPUPKP Targetkan Kemantapan Infrastruktur 80 Persen

Babak Baru Penanganan Korupsi: MK Ketok Palu, BPK Satu-Satunya Penghitung Kerugian Negara

9 April 2026 05:50

Babak Baru Penanganan Korupsi: MK Ketok Palu, BPK Satu-Satunya Penghitung Kerugian Negara

Bupati Harda Kiswaya Kukuhkan Pengurus LKK Banyuraden, Tekankan Sinergi Membangun Sleman

8 April 2026 08:20

Bupati Harda Kiswaya Kukuhkan Pengurus LKK Banyuraden, Tekankan Sinergi Membangun Sleman

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar