Sepanjang 65 tahun perjalanan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, sebuah perjalanan panjang yang penuh makna. Jika diibaratkan perjalanan hidup manusia, maka kampus ini sudah berada pada fase Integrity vs. Despair, yaitu fase di mana seseorang melakukan sebuah refleksi atas kehidupannya.
Jika merasa perjalanannya memuaskan dan berhasil, maka ia akan mencapai kebijaksanaan dan integritas. Namun sebaliknya jika refleksinya penuh dengan penyesalan ia akan merasa putus asa.
Tentunya, universitas bukanlah makhluk hidup, namun didalamnya dipenuhi dengan kehidupan manusia. Maka proses refleksi perlu dilakukan oleh orang-orang yang ada didalamnya. Arah refleksi yang diinginkan tentunya adalah menjadi kampus yang bijaksana dalam berbagai aspek, baik pendidikan, penelitian maupun pengabdian.
Perjalanan yang dimulai dari fakultas kecil di tahun 1960an kemudian menjadi universitas besar yang dikenal khalayak ramai bahkan masuk dalam 10 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia versi Times Higher Education World University Rankings.
Perjalanan yang ditopang banyak generasi dengan cita-cita luhur yakni melahirkan generasi ulul -albab yang dzikirnya mendalam dan pikirnya yang luas. Tentunya ini adalah pencapaian besar yang sudah ditorehkan oleh Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Baca Juga:
Upgrade Mindset Profesional & Spiritual: Rahasia Civitas UIN Malang Bangun Budaya Kerja Masa DepanNamun demikian, zaman terus berganti, generasi pun berbeda maka kebiasaan dan tantangan pun tentunya tidak akan sama dengan generasi sebelumnya. Pertanyaanya apakah kita akan tetap melakukan metode atau cara-cara yang sama? Sementara mahasiswa saat ini hidup dengan teknologi dan media sosial yang penuh dengan perbandingan.
Ditambah lagi dengan persoalan ketidakpastian ekonomi, pasar kerja dan dominasi AI dan tuntutan akademik yang semakin beragam. Sementara di sisi yang lain, mahasiswa tidak memasuki gerbang universitas sebagai selembar kertas kosong. Sebagian dari mereka bahkan membawa persoalan lama yang belum terselesaikan.
Studi sebelumnya mengenai kondisi kesehatan mental mahasiswa ditambah dengan berbagai kasus kesehatan mental seperti kecemasan, ketakutan bahkan sampai dengan depresi.
Kondisi ini seharusnya sudah cukup untuk menyadarkan bahwa kampus saat ini tidak selesai hanya dengan menyiapkan kompetensi akademik namun juga menjadi ruang aman untuk mental mereka bertumbuh bahkan dalam situasi yang tidak menyenangkan sekalipun.
Baca Juga:
Bermula dari Kampus ke Masyarakat: Strategi Ekonomi Syariah UIN Malang Menuju Kesejahteraan BerkelanjutanLantas apa yang bisa dilakukan untuk refleksi 65 tahun ini?
Layanan Kesehatan Mental yang Utuh dan Berjenjang
Selama ini fakultas psikologi memiliki layanan konseling, namun demikian mayoritas pelayanan berfokus pada penanganan kuratif. Oleh sebab itu kedepannya layanan kesehatan mental perlu dibangun secara berjenjang. Pertama promotif, yaitu membangun budaya dan keterampilan hidup dan menangani masalah pada mahasiswa.
Kedua preventif yaitu melakukan deteksi dini dan dukungan kelompok bagi yang berisiko, fakultas psikologi sudah melakukan layanan tersebut walaupun masih belum optimal. Deteksi ini juga akan dilengkapi dengan screening kesiapan ma’had sebagai distingsi dan kekuatan proses pendidikan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Ketiga, kuratif yakni layanan penanganan setelah munculnya persoalan. Tentunya layanan ini tidak akan terlaksana tanpa adanya kesadaran dan dukungan dari semua pihak. Baik dari tatanan pimpinan, dosen tenaga kependidikan dan juga mahasiswa.
Dukungan Sebaya yang Suportif
Menciptakan situasi belajar yang suportif di kalangan mahasiswa, khususnya pada peran-peran kegiatan kemahasiswaan. Mahasiswa dicetak untuk tidak hanya menyelesaikan tugas akademik, namun juga menjadi sebaya yang bisa saling mendukung dan mampu menguatkan daya lenting dalam menyikapi tugas-tugas akademik.
Pelatihan Psychological First Aid
Pelatihan ini diberikan kepada dosen wali, pengelola ma’had pengurus organisasi mahasiswa dan tenaga kependidikan. Mereka dilatih untuk memiliki keterampilan dasar pertolongan pertama psikologis. Yaitu kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi, mengenali tanda bahaya dan menyambungkan ke layanan.
Merancang Kebijakan dan Menjadikan Kesejahteraan Psikologis sebagai Indikator Mutu
Kebijakan yang membuka ruang bagi mahasiswa yang rentan, mengalami krisis atau tertinggal perlu untuk dijelaskan secara jelas. Jika selama ini prakteknya sudah ada yang melakukan, namun legitimasi di atas kertas juga penting sebagai dasar bersihkan dan bekerja secara profesional serta proporsional.
Selain itu kesejahteraan psikologis mahasiswa dan dosen juga perlu menjadi perhatian. Jika kampus ingin menjadi ruang bertumbuh, maka perlu ada survei berkala, pemantauan akses layanan sampai pada evaluasi atas kebijakan yang berbasis data.
Ulul albab yang digambarkan dengan sosok insan yang berdzikir dan berpikir mengarah pada sosok yang hatinya tenang dan akalnya jernih. Mungkin ini sudah sering dibicarakan dan dicita-citakan dalam bahasa kurikulum.
Namun demikian dalam konteks psikologi, bahwa dzikir dan pikir sama-sama membutuhkan keadaan jiwa yang aman dan tenang. Sehingga ia menjadi lulusan yang agung akhlaknya, dalam spiritualnya, luas ilmunya dan matang secara profesional.
Oleh karena itu, merawat rasa aman dan sejahtera secara psikologis di lingkungan kampus bukanlah agenda pelengkap di luar misi akademik. Namun ia adalah bagian dari misi itu sendiri, sebagai salah satu cara untuk memastikan bahwa ilmu yang kita ajarkan benar-benar sampai pada mahasiswa dengan utuh dan menyeluruh.
Sebuah harapan sederhana di usia yang ke-65 tahun ini, semoga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, senantiasa terus bertumbuh menjadi kampus yang unggul, berdampak dan bermartabat. Menjadi rumah tempat berjuang dan bertumbuh mahasiswa dengan segala dinamikanya.
Tempat mahasiswa ditempa pikirannya namun juga jiwanya. Menjadi wadah dimana mahasiswa yang kehilangan harap menuju mahasiswa yang penuh optimis.
*) Prof. Dr. Hj. Siti Mahmudah, M.Si adalah Dekan Fakultas Psikologi UIN Malang
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis.
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat pada redaksi