KETIK, PROBOLINGGO – Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menggelar aksi lingkungan bertajuk "Santri Beraksi Bumi Lestari" dalam rangka memperingati Hari Bumi, Selasa, 21 April 2026.
Kegiatan ini melibatkan Santri Kalpataru, Gugus Depan Lengkap Saka Kalpataru Pramuka dan Tim Ekspedisi Raden Fatah ini menitikberatkan pada aksi bersih-bersih, pemilahan sampah, serta edukasi lingkungan di seluruh area pesantren.
Kegiatan ini diawali dengan apel pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan bakti lingkungan berupa pengumpulan dan pemilahan sampah berdasarkan kategori organik dan anorganik di seluruh kawasan Pesantren Nurul Jadid.
Muhammad Ilzamul Khoir, pembina apel sekaligus penggagas kegiatan, menyatakan bahwa gerakan ini merupakan bentuk internalisasi nilai-nilai ekologis dalam kehidupan santri sehari-hari.
Baca Juga:
Menag Nasaruddin Umar: Pesantren Nurul Jadid Salah Satu Pesantren Terbaik di IndonesiaHal ini juga termuat pada trilogi santri nomor 3, yaitu berbuat baik kepada Allah dan sesama makhluk seperti memelihara kelestarian lingkungan.
"Menjaga bumi bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi juga manifestasi spiritualitas yang hidup. Alam adalah ayat kauniyah yang harus dibaca, dipahami, dan dijaga," ujarnya.
Selain aksi kebersihan, kegiatan ini juga menghadirkan sesi sosialisasi berbasis konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai pendekatan ilmiah dalam pengelolaan limbah berkelanjutan.
Kampanye pengurangan plastik sekali pakai turut menjadi bagian dari agenda, mengingat plastik merupakan salah satu kontributor utama pencemaran lingkungan secara global.
Baca Juga:
Kunjungi Ponpes Nurul Jadid, Menteri Agama Dorong Pesantren Bangkitkan Semangat Baitul HikmahAlfantino Zuhri dari Tim Ekspedisi Raden Fatah, sebuah komunitas yang berfokus pada lingkungan kawasan gunung dan hutan, turut memberikan materi terkait konservasi biodiversitas dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
"Ekosistem adalah sistem yang saling terintegrasi. Kerusakan di satu titik berdampak pada titik yang lain, termasuk pada kehidupan manusia itu sendiri," kata Cak Cebong, panggilan kerabnya.
Kegiatan ini menunjang peran santri sebagai agen perubahan sosial di bidang lingkungan. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan nilai-nilai teologis Islam, konsep khalifah fil ardh atau tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi, dengan prinsip-prinsip ilmiah pengelolaan lingkungan.
Kolaborasi antara Santri Kalpataru, Saka Kalpataru Pramuka dan Ekspedisi Raden Fatah dalam kegiatan ini juga mencerminkan pola kemitraan lintas komunitas dalam mendorong gerakan lingkungan berbasis lokal.
Ilzam menegaskan bahwa kegiatan semacam ini tidak akan berhenti pada momen peringatan Hari Bumi semata, melainkan menjadi bagian dari pembentukan karakter dan habitus ekologis santri secara berkelanjutan.
"Kami ingin ini menjadi budaya, bukan cuma acara. Kesadaran menjaga lingkungan harus menjadi bagian dari identitas santri Nurul Jadid," tegasnya.(*)