KETIK, SURABAYA – Sebagai upaya kolaborasi menangani persoalan kerusakan lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur menyambut positif audiensi Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Timur (PKC PMII Jatim), Selasa, 21 April 2026.

Menurut Kepala DLH Provinsi Jatim, Nurkholis, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi persoalan lingkungan yang semakin beragam, mulai dari pencemaran hingga degradasi lahan.

“Kami siap bersinergi dan berkolaborasi dengan PMII untuk bersama-sama menghijaukan Jatim, serta menjaga keberlanjutan lingkungan,” pintanya.

Pun ia mengatakan, pihaknya terbuka terhadap keterlibatan berbagai elemen, termasuk mahasiswa, dalam menjaga dan memulihkan kualitas lingkungan. Salah satunya adalah untuk membangun kesadaran publik, serta memperluas gerakan penghijauan di wilayah.

Dalam forum tersebut, Wakil Ketua V PKC PMII Jawa Timur Bidang Lingkungan Hidup dan Agraria/Ketahanan Pangan, Ahmad Wafa Amrillah, menyebut kondisi kerusakan lingkungan saat ini kian meningkat setiap tahun.

Baca Juga:
Kubung, Tambang Ilegal, dan Cagar Alam. Aparat di Mana

Ia menyoroti maraknya aktivitas tambang ilegal di sejumlah daerah, termasuk di Mojokerto, yang berpotensi merusak ekosistem dan mengancam keberlanjutan lingkungan.

“Dari berbagai persoalan ekologis saat ini semakin kompleks, mulai dari degradasi lahan, pencemaran, hingga aktivitas pertambangan yang tidak terkendali. Seperti di wilayah Mojokerto serta beberapa titik lainnya, sebagai contoh kawasan yang terdampak aktivitas tambang ilegal yang berpotensi merusak ekosistem dan mengancam keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Wafa menjelaskan, PMII akan berupaya mengonsolidasikan gerakan dari tingkat bawah, mulai dari rayon, komisariat hingga cabang, guna mengangkat isu-isu lingkungan spesifik di masing-masing daerah.

“Setiap daerah memiliki persoalan lingkungan yang berbeda. Kami akan mengangkat isu-isu tersebut dari tingkat bawah, agar penanganannya lebih tepat sasaran dan berbasis kondisi riil di lapangan,” jelasnya.

Baca Juga:
LBH PMII Jatim: Negara Wajib Tanggungjawab atas Insiden Peluru Nyasar di Gresik

Sementara itu, Ketua PKC PMII Jawa Timur, Mohammad Ivan Akiedozawa yang akrab disapa Edo, menyatakan kesiapannya menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif dalam pembangunan daerah, khususnya sektor lingkungan hidup.

“PMII memiliki peran ideologis dan gerakan yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat, sehingga pendekatan yang dibangun tidak sekadar advokatif, melainkan juga solutif,” kata Edo.

Ia juga mengajak keterlibatan kader dan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan lingkungan serta mendorong sinergi lintas sektor agar kebijakan yang dihasilkan mampu menjawab persoalan di lapangan.

“PMII ingin hadir sebagai mitra strategis pemerintah. Kami mengajak DLH untuk membangun kolaborasi nyata dalam menjaga dan memulihkan lingkungan di Jawa Timur, sesuai arah pembangunan daerah,” ujarnya.(*)