Reses Ada, Rakyat Tak Merasa: Kritik Telak ke DPRD Halsel

Editor: Mursal Bahtiar

28 Jan 2026 17:51

Thumbnail Reses Ada, Rakyat Tak Merasa: Kritik Telak ke DPRD Halsel
Ketua Forum Anti Korupsi dan Peduli Lingkungan (FORMAL) Samsudin saat menyampaikan kritik Rabu 28 Januari 2026 (Foto: Mursal/Ketik.com)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Di tengah tuntutan efisiensi anggaran dan meningkatnya kebutuhan dasar masyarakat, fungsi representasi politik di daerah dipertanyakan. 

Ketua Forum Anti Korupsi dan Peduli Lingkungan (FORMAL), Samsudin Chalil, melontarkan kritik terhadap kinerja DPRD Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), khususnya terkait pelaksanaan reses, pengawalan aspirasi, hingga perjalanan dinas ke luar daerah.

Bagi Samsudin, persoalan DPRD hari ini bukan sekadar soal kehadiran fisik, melainkan krisis fungsi. Ia menilai, DPRD lebih sering tampil dalam ruang komentar ketimbang ruang kerja nyata yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Kita terlalu sering mendengar komentar DPRD soal masalah daerah. Tapi sekarang masyarakat bertanya lebih jauh, apa yang sudah benar-benar mereka ikerjakan?” ujarnya, Rabu 28 Januari 2026.

Baca Juga:
Nasyir Koda Ingin Bangunan Warga Halmahera Selatan Cepat Legal

Sorotan utama diarahkan pada reses, instrumen formal yang seharusnya menjadi jantung kerja representasi anggota DPRD. Dalam konsepnya, reses adalah mekanisme ilmiah penyerapan aspirasi, di mana wakil rakyat hadir, mendengar, mencatat, lalu memperjuangkan kebutuhan konstituennya dalam sistem perencanaan dan penganggaran daerah.

Namun menurut Samsudin, di Halmahera Selatan, konsep itu berhenti sebagai teori.

“Ada masyarakat di dapil yang bahkan tidak mengenal anggota DPRDnya. Ini bukan soal lupa nama, tapi soal tidak pernah hadir,” katanya.

Ia mengurai secara logis dalam satu tahun anggota DPRD memiliki kesempatan reses hingga tiga kali, lengkap dengan dukungan anggaran dan perjalanan dinas. Secara matematis, jangkauan reses seharusnya bisa menyentuh beberapa desa.

Baca Juga:
Sianida di Halmahera Selatan Hanya Lewat Satu Tangan

“Kalau secara anggaran dan jadwal semuanya tersedia, tapi masyarakat tidak pernah merasa didatangi, maka yang patut dipertanyakan adalah substansi reses itu sendiri,” tuturnya.

Samsudin kemudian menggeser kritiknya pada titik yang lebih struktural ke mana sebenarnya aspirasi reses itu bermuara. Ia mempertanyakan apakah hasil reses benar-benar diperjuangkan sebagai kebutuhan publik, atau justru dipersempit menjadi alat administratif untuk kepentingan tertentu.

“Reses itu untuk menyerap aspirasi rakyat, bukan sekadar pintu masuk Pokir. Kalau Pokir tidak menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, maka reses kehilangan maknanya,” paparnya.

Dalam kerangka perencanaan pembangunan, ia menilai DPRD seharusnya berperan sebagai pengawal aspirasi dari bawah mulai dari Musrenbang Desa, Kecamatan, hingga Kabupaten agar tidak terputus di meja perencanaan.

“Keluhan masyarakat itu datang dari bawah. Tapi tidak pernah dikawal sampai ke Bappelitbangda. Akhirnya, penganggaran terlihat sepihak dan jauh dari realitas kebutuhan rakyat,” katanya.

Kritik tersebut semakin tajam ketika Samsudin menyinggung perjalanan dinas dan studi banding DPRD ke luar daerah. Ia menyebut, kegiatan itu seharusnya memiliki parameter manfaat yang jelas, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan secara publik.

“Kalau satu anggota DPRD menghabiskan sekitar Rp15 juta dan itu dikalikan 30 orang, maka publik berhak tahu: apa hasilnya?” imbuhnya.

Samsudin secara khusus menyinggung kegiatan studi banding DPRD Halmahera Selatan yang dilakukan ke dua kota, yakni Yogyakarta dan Bogor, beberapa pekan lalu. Menurutnya, hingga kini tidak ada penjelasan terbuka kepada publik terkait tujuan substantif, materi yang dipelajari, maupun relevansi kunjungan tersebut dengan kebutuhan riil masyarakat di Halmahera Selatan. Ia menilai, tanpa laporan hasil yang transparan dan implementasi kebijakan yang terukur, studi banding ke luar daerah hanya akan dipersepsikan sebagai aktivitas seremonial yang menghabiskan anggaran daerah tanpa meninggalkan jejak manfaat yang jelas.

Namun hingga kini, kata Samsudin, tidak ada penjelasan terbuka mengenai dampak konkret dari kunjungan tersebut terhadap kebijakan atau kesejahteraan masyarakat.

“Tidak ada indikator perubahan, tidak ada transfer pengetahuan yang dirasakan publik. Kalau begitu, studi banding itu lebih dekat ke pemborosan daripada investasi kebijakan,” tegasnya.

Dalam pandangannya, problem utama DPRD Halmahera Selatan hari ini adalah jarak—jarak antara wakil dan yang diwakili, antara anggaran dan dampak, serta antara formalitas dan fungsi.

“Kalau rakyat tidak pernah bertemu wakilnya, tidak merasakan hasil resesnya, dan tidak melihat manfaat perjalanan dinasnya, maka pertanyaan paling mendasar adalah, DPRD ini bekerja untuk siapa?” tambah Samsudin.

Dia berharap, masyarakat mencatat apa yang menjadi janji dan pembahasan yang lahir dalam tiap reses di Desa yang diselenggarakan anggota DPRD.

Baca Sebelumnya

Tuan Rumah Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia Targetkan Sapu Bersih Putaran Pertama Proliga 2026

Baca Selanjutnya

Coban Siuk, Destinasi Healing Tersembunyi di Kabupaten Malang

Tags:

FORMAL Samsudin Chalil DPRD Halsel Kritikan Kinerja Agenda Reses Halmahera Selatan Maluku Utara

Berita lainnya oleh Mursal Bahtiar

Nasyir Koda Ingin Bangunan Warga Halmahera Selatan Cepat Legal

14 April 2026 09:50

Nasyir Koda Ingin Bangunan Warga Halmahera Selatan Cepat Legal

Sianida di Halmahera Selatan Hanya Lewat Satu Tangan

14 April 2026 06:53

Sianida di Halmahera Selatan Hanya Lewat Satu Tangan

Total 361 Koperasi Tercatat di Halmahera Selatan

13 April 2026 19:02

Total 361 Koperasi Tercatat di Halmahera Selatan

Bassam ke KNPI Halsel: Kritis Saja Tak Cukup, Pemuda Harus Bawa Solusi

12 April 2026 17:06

Bassam ke KNPI Halsel: Kritis Saja Tak Cukup, Pemuda Harus Bawa Solusi

Taslim Abdurrahman Resmi Pimpin KNPI Halmahera Selatan

12 April 2026 16:36

Taslim Abdurrahman Resmi Pimpin KNPI Halmahera Selatan

Pelabuhan Kupal Jadi Jagoan PAD Dishub Halsel, Ramli Manui Mulai Waswas Tahun Ini

12 April 2026 10:24

Pelabuhan Kupal Jadi Jagoan PAD Dishub Halsel, Ramli Manui Mulai Waswas Tahun Ini

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar