KETIK, MALANG – Kebijakan rekayasa lalu lintas berupa penerapan jalan satu arah di kawasan sekitar Pasar Bunga Splendid, Kota Malang, berdampak pada penurunan penjualan para pedagang. Perubahan arus kendaraan dinilai mengurangi jumlah pembeli yang sebelumnya kerap mampir secara spontan saat melintas di kawasan pasar.

Salah seorang pedagang tanaman, Meli, mengatakan kebijakan tersebut mengubah kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Sejak arus lalu lintas di sekitar Pasar Splendid diubah menjadi satu arah, banyak calon pembeli memilih tidak singgah karena harus memutar jalur untuk mencapai lokasi.

"Pengaruh banget, Mbak. Kan dulu kalau orang lewat iseng-iseng mampir. Kalau sekarang daripada putar-putar kan enggak enak, wis satu tujuan tok. Kalau dulu kan iseng-iseng bisa mampir," tuturnya, Selasa, 4 Agustus 2026. 

Meli yang telah berjualan sejak 2019 mengaku omzet usahanya ikut terdampak. Menurutnya, penurunan jumlah pembeli tidak hanya dipicu rekayasa lalu lintas, tetapi juga kondisi ekonomi masyarakat yang membuat daya beli menurun.

"Ya mungkin perekonomiannya sekarang sudah enggak kayak dulu. Terus satu arah itu juga pengaruh," katanya.

Baca Juga:
Pramuka Bakal Jadi Ekstrakurikuler Wajib di Sekolah Rakyat, Budi Waseso Sebut Libatkan Taruna Akmil

Ia menjelaskan keramaian Pasar Bunga Splendid kini semakin sulit diprediksi. Jika beberapa tahun lalu pasar hampir selalu ramai pada akhir pekan, khususnya Jumat hingga Minggu, kini jumlah pengunjung bergantung pada kondisi setiap harinya.

"Kalau dulu Jumat, Sabtu, Minggu itu pasti. Kalau sekarang enggak mesti, tergantung rezeki," ujarnya.

Meski menghadapi penurunan jumlah pembeli, Meli tetap mempertahankan usahanya dengan menjual berbagai jenis tanaman hias, tanaman buah, hingga sayuran. Ia juga menyediakan berbagai kebutuhan berkebun, seperti pupuk, humus, dan obat tanaman.

Menurutnya, tanaman buah masih menjadi komoditas dengan permintaan yang relatif stabil dibandingkan tanaman hias. Harga tanaman yang dijual pun bervariasi, mulai Rp3.000 untuk tanaman hias tertentu hingga jutaan rupiah untuk bonsai. Sementara tanaman buah dipasarkan mulai sekitar Rp50 ribu hingga ratusan ribu rupiah, bergantung pada jenis dan ukurannya.

Baca Juga:
Kapolres Bojonegoro Kulonuwun ke Ketua MUI, Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Di tengah tantangan tersebut, Meli memilih tetap bertahan menjalankan usahanya. Ia berharap kondisi ekonomi masyarakat membaik dan kebijakan lalu lintas di sekitar Pasar Bunga Splendid dapat dievaluasi agar akses masyarakat ke kawasan pasar menjadi lebih mudah, sehingga jumlah pembeli kembali meningkat.