KETIK, PROBOLINGGO – Sejak pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, arus manusia tak henti mengalir menuju Pondok Pesantren Ahlussunnah Wal Jamaah di Desa Brani Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Minggu, 26 Juli 2026.
Pantauan Ketik.com di lokasi, saking padatnya jemaah dan undangan yang diperkirakan melebihi 10.000 orang, membuat jaringan telekomunikasi ponsel sempat crowded tidak berfungsi, akibat membeludaknya peserta yang membawa ponsel android.
Tak pelak, undangan dan jemaah tak bisa mengakses jaringan dan tak bisa menggunakan hp androidnya sejak sekitar pukul 10.30 WIB sampai pukul 12.30 WIB.
Sedangkan Parkir kendaraan roda empat sampai sejauh satu kilometer dari lokasi. Tapi, semangat para jemaah tak surut. Mereka rela berjalan kaki dari lokasi parkir yang berjarak hingga satu kilometer demi dapat mengikuti haul hingga selesai.
Jalan-jalan menuju kompleks pesantren dipenuhi kendaraan, sementara ribuan jemaah berdatangan dari berbagai daerah untuk mengikuti Haul Habib Husein Brani.
Baca Juga:
Bupati Bondowoso Ikut Beri Selamat bagi Santri Baru Ponpes Nurul Jadid PaitonHaul yang menjadi agenda rutin untuk mengenang perjuangan dan keteladanan Habib Husein Brani itu turut dihadiri para ulama, habib, dan kiai dari berbagai daerah di Jawa Timur. Hadir pula Bupati Probolinggo, Gus dr. M. Haris, bersama sejumlah tokoh masyarakat dan unsur pemerintahan.
Di hadapan ribuan jemaah, Pengasuh Utama Pondok Pesantren Ahlussunnah Wal Jamaah, Habib Abdul Qodir, menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap amal.
Menurut ulama yang akrab disapa Sang Khalifah itu, keikhlasan menjadi pintu lahirnya kebijaksanaan dalam diri seseorang.
"Barang siapa ikhlas dalam 40 hari, akan tumbuh hikmah," ujarnya.
Baca Juga:
Pramuka Pesantren Jadikan Orientasi Santri Baru sebagai Ruang Pembentukan Karakter Generasi MudaTak hanya itu, Habib Abdul Qodir juga mengingatkan agar umat Islam menjauhi perilaku yang dapat memecah persaudaraan, terutama melalui ujaran kebencian dan membuka aib sesama.
"Menghina, mencaci, menjelek-jelekkan, membuka aib itu bukan Islam. Jangan tukar urusan dunia dengan urusan akhirat, jangan tukar surga dengan neraka," tandasnya.
Suasana haul berlangsung khidmat. Lantunan doa, selawat, dan zikir mengiringi setiap rangkaian acara, sementara ribuan jemaah mengikuti dengan penuh kekhusyukan.
Bagi mereka, haul bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum untuk mengenang keteladanan para ulama sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
Kebersamaan itu menjadi gambaran besarnya kecintaan masyarakat kepada para ulama dan pesantren yang selama ini menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam di wilayah Probolinggo.