KETIK, SURABAYA – Puasa adalah ibadah agung yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri secara menyeluruh. Namun, banyak orang yang sadar menjalankan puasa hanya secara lahiriah, sementara pahala puasanya perlahan terkikis oleh perbuatan dan ucapan yang tidak dijaga.
Hal ini disampaikan oleh Buya Yahya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, dalam tausiahnya yang tayang di kanal youtube Al-Bahjah TV pada 22 Februari 2026. Dalam tausiah tersebut, beliau mengingatkan dengan tegas, “Awas engkau dengan hal-hal yang menghilangkan pahala”
Menurut Buya Yahya, ada perbuatan yang tidak membatalkan puasa secara hukum fikih, tetapi bisa menghapus nilai dan ganjarannya di sisi Allah.
Rasulullah SAW memperingatkan bahwa banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena tidak menjaga lisan dan perbuatan dari dosa. Hadis shahih berbunyi, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR. Ath-Thabraniy & Ahmad).
Peringatan ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan puasa bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai di sisi Allah.
Secara hukum, puasa tetap sah selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan seperti makan, minum, atau hubungan suami istri di siang hari Ramadan. Namun, bahaya yang lebih besar justru terletak pada hilangnya pahala akibat dosa yang dilakukan selama berpuasa.
“Biarpun puasanya tidak dihukumi batal, dikhawatirkan telah terhapus pahalanya,” tegas Buya Yahya dalam ceramah tersebut.
Adapun beberapa hal yang dapat membuat puasa menjadi sia-sia antara lain:
- Berkata dusta dan melakukan kebohongan
Tidak meninggalkan ucapan bohong termasuk sebab utama hilangnya pahala puasa.
- Ghibah, adu domba, dan mencaci maki
Membicarakan keburukan orang lain atau memicu permusuhan dapat merusak nilai ibadah.
- Perkataan kotor dan candaan yang membangkitkan syahwat (rafats)Ucapan jorok atau obrolan yang mengarah pada hal-hal yang tidak pantas bisa mengurangi bahkan menghapus pahala.
- Pertengkaran dan emosi berlebihan
Berteriak, marah, dan terlibat perselisihan bertentangan dengan tujuan puasa sebagai latihan kesabaran.
- Perbuatan iseng yang menyakiti atau mengganggu orang lain
Sikap sembrono dan tindakan yang menimbulkan gangguan juga termasuk hal yang merusak kesempurnaan puasa.
Di akhir ceramahnya, Buya Yahya mengingatkan Kembali agar seorang Muslim menjaga akhlaknya selama berpuasa.
“Jika ada orang mengganggumu, katakan: aku sedang berpuasa,” ujar beliau. Kalimat itu bukan sekadar pemberitahuan, melainkan pengingat agar diri tetap sabar dan tidak terpancing emosi.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa puasa bukan hanya ritual tahunan, tetapi latihan pengendalian diri dan perbaikan akhlak. Jangan sampai yang tersisa dari puasa hanyalah rasa letih dan dahaga, sementara pahala justru hilang karena lisan dan sikap yang tidak dijaga. (*)
