KETIK, MALANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti memberi dampak positif. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menyebut program ini mampu menekan angka stunting secara signifikan.
Dari pencatatan prevalensi, angka stunting di Kota Malang berada di kisaran 8,1 persen. Data tersebut diperoleh dari pemantauan dan penimbangan terhadap sekitar 38 ribu balita yang dilakukan rutin di Posyandu.
Kepala Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif, mengatakan, pengukuran dan penimbangan balita dilakukan setiap bulan dan dilaporkan melalui sistem elektronik.
"Hasil pengukuran itu dilaporkan lewat aplikasi e-PPGBM atau Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat. Setelah masing-masing Posyandu melakukan pengukuran dan penimbangan, langsung melaporkan ke Dinas Kesehatan lalu diteruskan ke pusat," jelasnya, Minggu, 3 April 2026.
Sebagai informasi, Pemkot Malang telah melakukan berbagai intervensi untuk mengatasi stunting. Mulai dari pemberian makanan tambahan hingga dukungan program MBG.
Baca Juga:
Setumpuk Stirfry Hadir di Kota Malang, Sajikan Oseng Unik dengan Robot dan 6 Bumbu NusantaraDengan adanya program MBG, ternyata memberikan dampak signifikan khususnya bagi anak usia prioritas di bawah dua tahun.
"Prioritas stunting yang kita ukur usia dua tahun ke bawah. Kalau dilakukan intervensi spesifik ditambah MBG, maka pengaruhnya akan besar sekali," terangnya.
Meski begitu, Dinkes Kota Malang belum memisahkan secara spesifik kontribusi program MBG terhadap penurunan stunting. Hal ini karena penanganan dilakukan secara terpadu lewat berbagai program seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Stunting di Puskesmas.
"Semua ini merupakan intervensi untuk meminimalkan atau mengurangi stunting yang ada di Kota Malang," tambahnya.
Baca Juga:
Golden Grill Malang: Sensasi All You Can Eat Daging Panggang dengan View Kota dari KetinggianSaat ditanya terkait sebaran kasus stunting di lima kecamatan di Kota Malang, pihaknya menyebut kondisinya relatif merata. Sehingga, pemantauan dan intervensi terus dilakukan secara intens.
"Pemantauan dilakukan lewat 644 Posyandu yang tersebar di seluruh Kota Malang. Target kami setiap penimbangan dan pengukuran, masing-masing Posyandu mengukur secara lengkap dan valid sehingga hasilnya bisa terlihat," pungkasnya. (*)