KETIK, CILACAP – Kiprah Palang Merah Indonesia Kabupaten Cilacap selama ini dinilai telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, hingga penanganan bencana.
Dalam berbagai kegiatan tersebut, PMI Cilacap aktif melakukan sosialisasi melalui media digital maupun media sosial.
Seluruh program kemanusiaan dan penanggulangan bencana dijalankan menggunakan dana hasil penggalangan Bulan Dana PMI.
Menanggapi pertanyaan publik terkait mekanisme pengelolaan anggaran Bulan Dana dan layanan donor darah, Ketua PMI Cilacap, Farid Ma'ruf menegaskan seluruh proses telah berjalan sesuai regulasi dan diaudit secara independen.
Farid menjelaskan, Bulan Dana PMI merupakan agenda rutin tahunan berdasarkan rekomendasi Gubernur Jawa Tengah yang dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota.
Baca Juga:
Ketua PMI Jatim Imam Utomo Sambang Bondowoso, Bahas Pengembangan PMI dan Perluasan RSPMI di masing-masing daerah, termasuk Cilacap, terlebih dahulu mengusulkan pembentukan panitia kepada kepala daerah sebelum pelaksanaan penggalangan dana yang biasanya berlangsung selama tiga bulan hingga Desember.
“Jadi sebelum panitia menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada bupati, hasil Bulan Dana terlebih dahulu diaudit oleh akuntan publik independen,” ujar Farid kepada wartawan, Rabu, 13 Mei 2026.
Menurutnya, kegiatan Bulan Dana sempat dihentikan saat pandemi COVID-19, namun kembali dilaksanakan setelah kondisi membaik.
Farid menambahkan, audit independen dilakukan atas penunjukan PMI Provinsi Jawa Tengah guna memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan, mulai dari target penerimaan, distribusi karcis, hingga penggunaan dana.
Baca Juga:
Puskesmas dan RSU Islami Mutiara Bunda Tanjung Bersama POGI Sinergi Luncurkan Gerakan SPRIN untuk Selamatkan Perempuan IndonesiaSetelah audit selesai, hasilnya kemudian dibahas dalam musyawarah kerja PMI sebagai bentuk pertanggungjawaban tahunan organisasi.
Dana hasil Bulan Dana tersebut digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti operasi katarak gratis, pembagian kacamata gratis, khitanan massal, bantuan korban bencana, penyediaan air bersih saat kemarau, pengembangan klinik PMI, hingga pembinaan relawan.
Pada tahun 2025, Bulan Dana PMI Cilacap berhasil melampaui target dengan perolehan mencapai Rp3,4 miliar yang dihimpun selama September hingga November 2025.
Dana tersebut berasal dari berbagai unsur masyarakat, termasuk kontribusi sekitar 558 ribu kepala keluarga di Cilacap.
Farid menyebut, selama tahun 2025 PMI berhasil melaksanakan operasi katarak gratis untuk 82 mata.
Selain itu, program khitanan massal yang awalnya menargetkan 100 anak justru diikuti 153 peserta dan seluruhnya dapat dilayani.
Sementara program pembagian kacamata gratis yang semula menargetkan 1.000 penerima mampu menjangkau sekitar 2.000 warga.
“Yang mendapat kacamata gratis Kecamatan Kesugihan, Gandrungmangu, Sidareja sebagai reward dan apresiasi bulan dana tercepat,” katanya.
Selain pelayanan sosial, PMI juga terus memperkuat pelatihan kebencanaan bagi perangkat desa agar penanganan bencana di tingkat kecamatan dapat dilakukan lebih cepat.
“Selain itu, PMI terus memperkuat pelatihan kebencanaan bagi perangkat desa khususnya kadus supaya penanganan bencana di tingkat kecamatan bisa cepat dan maksimal,” imbuhnya.
Farid juga menjelaskan mekanisme layanan donor darah yang kerap disalahpahami sebagian masyarakat. Ia menegaskan tidak ada praktik jual beli darah kepada pasien.
Menurutnya, biaya yang muncul merupakan pengganti biaya pengolahan darah sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/504/2024.
Biaya tersebut digunakan untuk operasional pengolahan darah, mulai dari laboratorium, kendaraan operasional, pelatihan, pengembangan fasilitas layanan, hingga penghargaan donor.
“Jadi bukan jual beli darah tapi adalah ini untuk membiayai pengolahan darah yang harganya atau yang nilainya sebanyak Rp490 ribu,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembayaran juga tidak dilakukan langsung oleh pasien kepada PMI, melainkan melalui rumah sakit dan mayoritas ditanggung BPJS Kesehatan.
Saat ini, PMI Cilacap melayani kebutuhan darah untuk 13 rumah sakit di wilayah tersebut.
“Hingga saat ini, ada 13 rumah sakit yang kita layani. Dan itu BPJS, 99,9 persen. Jadi yang bayar bukan pasien, tapi yang bayar adalah BPJS,” jelasnya.
PMI Cilacap juga mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan donor darah sehingga stok darah tetap terjaga, termasuk saat Ramadan maupun kondisi tertentu.
Farid memastikan seluruh dana yang terkumpul tersimpan di perbankan dan dikelola secara transparan.
“Bahwa kita itu dianggarkan ada silpa dan sebagainya. Kita ada rencananya itu Rp6,8 miliar, itu terealisasi Rp4,1 miliar atau 60 persen. Jadi ada silpa, ini kita kan punya uang dana abadi Rp3,8 miliar sehingga silpanya ada Rp3,2 miliar, jadi uangnya ada di bank,” pungkasnya.(*)