KETIK, MALANG – Pengelola Pesarean Gunung Kawi angkat bicara terkait kembali mencuatnya anggapan bahwa kawasan wisata religi di Kabupaten Malang tersebut identik dengan praktik pesugihan. Pengelola menegaskan stigma tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dan justru berdampak terhadap masyarakat yang menggantungkan perekonomian di kawasan wisata itu.
Staf Humas dan Media Sosial Pesarean Gunung Kawi, Ananda Fatma, mengatakan isu negatif yang beredar di media sosial maupun berbagai konten digital tidak hanya merugikan pengelola, tetapi juga pedagang, pelaku UMKM, hingga warga sekitar.
"Stigma negatif itu membawa dampak buruk bukan hanya kepada pengelola, tetapi juga masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas wisata di Pesarean Gunung Kawi. Kalau orang menjadi takut datang, tentu perekonomian mereka ikut terdampak," ujarnya.
Menurut Nanda, sapaan karibnya, masyarakat seharusnya mencari informasi secara utuh sebelum mempercayai atau menyebarkan anggapan yang mengaitkan Gunung Kawi dengan praktik pesugihan.
Ia menegaskan, Pesarean Gunung Kawi sejak awal merupakan tempat ziarah dan doa. Pengunjung datang untuk beribadah, mencari ketenangan batin, serta memohon keberkahan, bukan melakukan ritual yang selama ini ramai diperbincangkan.
Baca Juga:
Peziarah Bantah Isu Pesugihan Gunung Kawi, Pengelola: Slametan hingga Wayangan Bentuk Rasa Syukur"Kami tetap pada pendirian bahwa Pesarean Gunung Kawi adalah tempat untuk berziarah, berdoa, mencari berkah, dan menenangkan diri," katanya.
Pengelola, lanjut Nanda, juga terus berupaya membangun citra positif melalui berbagai kanal digital maupun dengan memberikan penjelasan langsung kepada para tamu yang datang. Namun, pihaknya mengaku tidak dapat sepenuhnya mengendalikan berbagai informasi yang beredar di media sosial.
Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa ramainya pemberitaan justru sempat meningkatkan jumlah kunjungan. Banyak wisatawan datang karena penasaran dan ingin membuktikan langsung kondisi di lokasi.
"Pengunjung malah naik. Ada yang memang datang untuk berdoa karena Bulan Suro, ada juga yang penasaran ingin melihat sendiri apakah benar seperti yang ramai diberitakan. Setelah datang, mereka bisa melihat sendiri kenyataannya," ujarnya.
Baca Juga:
Ciamsi di Pesarean Gunung Kawi Jadi Ikhtiar Mencari Petunjuk, Terbuka untuk Semua PengunjungNanda menilai peningkatan kunjungan tersebut menjadi sisi positif, tetapi ia berharap citra Pesarean Gunung Kawi sebagai destinasi wisata religi tidak lagi tertutupi oleh narasi yang tidak berdasar.
Ia juga mengingatkan bahwa berbagai informasi yang keliru tidak hanya memengaruhi nama baik pengelola, tetapi juga mencoreng nama dua tokoh yang dimakamkan di Pesarean Gunung Kawi, yang selama ini dikenal masyarakat sebagai sosok penyebar nilai-nilai kebaikan.
"Beliau berdua kan menyebarkan hal-hal yang baik, tapi kok difitnah sampai seperti ini," tandas Nanda.