KETIK, SURABAYA – Pengurus Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur resmi dilantik pada Selasa, 19 Mei 2026. Tugas pertama yang dilakukan fokus pada pembenahan etika komunikasi masyarakat, khususnya generasi muda di tengah masifnya penggunaan media sosial.
Ketua Umum ISKI, Prof Atwar Bajari mengungkapkan, pelantikan pengurus ISKI Jawa Timur menjadi momentum penting untuk mengaktifkan peran organisasi di daerah.
Ia mengungkapkan, selama ini aktivitas ISKI di wilayah belum banyak terekspos. Maka dari itu, di bawah pimpinan Suko Widodo, ISKI Jawa Timur diharapkan mampu menyusun agenda komunikasi yang lebih baik dan berdampak bagi masyarakat.
“Harapan ke depan bisa semakin menyusun agenda komunikasi yang lebih baik, terutama dalam penanganan komunikasi publik kita yang mungkin masih tercerai-berai, masih menimbulkan konflik antarpihak,” ujar Atwar dikutip dari keterangan resmi.
Lanjutnya, dengan adanya ISKI, dapat mengambil peran dalam membangun komunikasi publik yang lebih sehat dengan melibatkan para sarjana komunikasi dari berbagai bidang profesi.
Baca Juga:
Berkurang! 10 Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Masih Alami Tunda Keberangkatan ke Tanah SuciSementara itu Ketua ISKI Jawa Timur, Dr Suko Widodo mengatakan kepengurusan baru akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, tidak hanya melibatkan akademisi, tetapi juga wartawan, manajer perusahaan, anggota DPR, hingga komisioner lembaga.
Menurutnya, pengembangan ilmu komunikasi harus dibangun dari kombinasi teori dan pengalaman lapangan.
“Keilmuan komunikasi itu harus dikembangkan tidak hanya textbook, tapi juga belajar dari lapangan,” kata Suko.
Salah satu perhatian utama ISKI Jatim, lanjut dia, adalah persoalan etika komunikasi anak muda di era digital. Ia menilai media sosial membuat banyak anak muda sangat aktif di dunia maya, tetapi justru minim ekspresi dalam komunikasi langsung.
Baca Juga:
Jemaah Haji Wafat asal Embarkasi Surabaya Bertambah Jadi 13 Orang, Ini Daftarnya“Sinyal netizen di media sosial lantangnya luar biasa, tapi ketika bertemu di kelas kadang mereka diam. Kami harus menemukan jalan untuk menguatkan anak-anak agar lebih human dalam komunikasi,” ujarnya.
Suko menilai perkembangan teknologi juga berpotensi memunculkan dehumanisasi dalam komunikasi jika tidak diimbangi kemampuan membangun relasi secara langsung.
Selain itu, ISKI Jatim juga menyoroti pola komunikasi pejabat publik yang dinilai masih lebih banyak berorientasi pada promosi dibanding membangun dialog dengan masyarakat.
“Komunikasi itu bukan hanya bicara, tetapi juga mendengarkan. Banyak lembaga lebih banyak berpromosi daripada berkomunikasi,” tegasnya.
Menurut Suko, komunikasi publik yang sehat harus memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan suara dan kritik sebagai bagian dari proses komunikasi yang utuh. (*)