KETIK, BLITAR – Suasana berbeda terasa di sepanjang Jalan Kenanga, tepat di samping Kantor Wali Kota Blitar, Kota Blitar. Deretan tenda warna-warni berjajar rapi, aroma gorengan dan manisnya kue bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian kecil.
Pasar Ramadan di kawasan ini benar-benar menjelma magnet baru bagi warga, Selasa, 24 Februari 2026.
Setiap sore, ribuan pembeli datang silih berganti. Ratusan orang tampak berjejalan, berburu aneka takjil untuk berbuka puasa. Dari jus buah segar, kue manis warna-warni, gorengan hangat, hingga jajanan kekinian, semuanya tersedia dengan harga ramah di kantong, mulai Rp2 ribu hingga puluhan ribu rupiah.
Salah satu pedagang yang kebanjiran pembeli adalah Adinda, penjual stick ayam dengan berbagai rasa dan topping. Ia mengaku setiap hari menyiapkan hingga ratusan tusuk.
“Alhamdulillah mas, tiap hari habis. Kami para pedagang UMKM sangat terbantu dengan adanya Pasar Ramadan ini,” ujarnya.
Menurut Adinda, lapak-lapak tenda yang berjajar rapi tersebut disediakan gratis oleh pemerintah. Para pedagang hanya perlu mendaftar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), sementara penentuan lokasi dilakukan dengan sistem undian.
“Gratis, tidak ada biaya sewa. Cuma untuk lokasinya kita diacak semacam lotre. Dulu daftarnya lewat Disperindag,” jelasnya.
Sejak siang hari, para pedagang mulai membuka lapak. Namun, sebagian besar pembeli memadati area menjelang waktu berbuka. Setelah azan Magrib berkumandang, sebagian pedagang memilih menutup lapak karena dagangan sudah ludes.
“Nanti biasanya habis jam buka puasa sebagian dari kita sudah ada yang pulang tutup. Sebagian juga masih ada yang jualan sampai malam,” tambah Adinda.
Tak hanya pedagang yang merasakan berkahnya, pengunjung pun mengaku senang dengan kehadiran Pasar Ramadan ini. Zefa, salah satu warga yang hampir setiap hari datang bersama keluarganya, mengaku antusias.
“Seru juga bisa beli berbagai jenis jajanan di sini, lengkap. Tiap hari aku ke sini sama keluarga, sambil nunggu waktu buka jadi bisa sekaligus ngabuburit bareng,” katanya.
Namun, Zefa berharap ke depan lokasi Pasar Ramadan bisa dipertimbangkan ulang agar tidak menimbulkan kemacetan.
“Semoga tiap tahun bisa ada terus pasar Ramadan seperti ini. Cuma sepertinya lebih enak lagi kalau lokasinya di dalam alun-alun, seperti pagelaran event tahunan Blitar Djadoel, jadi jalanan nggak macet kayak gini, soalnya ramai banget pengunjungnya,” pungkasnya.
Ramainya Pasar Ramadan di Jalan Kenanga menjadi bukti geliat ekonomi kerakyatan di bulan suci. UMKM tumbuh, warga bahagia, dan sore di Kota Blitar terasa lebih hidup. Tinggal bagaimana pengelolaan ke depan bisa semakin matang, agar berkahnya tak hanya terasa manis, tapi juga tertib dan nyaman bagi semua.(*)
