KETIK, SURABAYA – Pangi Syarwi Chaniago menjalani ujian disertasi tahap II (terbuka), Program Doktor Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Senin, 20 Juli 2026.
Pria yang juga seorang Pengamat politik sekaligus pendiri Voxpol Center Research and Consulting ini menjalani ujian di Ruang Adi Sukadana FISIP Unair ini berjudul Suatu Studi tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Split Ticket Voting pada Pemilu Serentak di Sumatra Barat dan Nusa Tenggara Timur, dibimbing promotor Prof. Dr. Mohammad Asfar, M.Si., serta kopromotor Prof. Ramlan Surbakti, M.A., Ph.D.
Pangi mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena split tiket voting pada Pemilu Serentak 2024 melalui studi komparatif di Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam pemaparannya di hadapan penguji dan tamu akademik, Hasto Kristiyanto dan Ganjar Pranowo, Pangi menjelaskan penelitiannya itu menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS).
Sebanyak 1.600 responden dilibatkan, masing-masing 800 responden di Sumatra Barat dan 800 responden di NTT.
Baca Juga:
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, PWNU Jatim Tugaskan Gus Kikin Maju Calon Ketua Umum"Penelitian ini menguji empat variabel utama yang memengaruhi perilaku pemilih, yakni orientasi isu, personalisasi kandidat, identifikasi partai dan orientasi persamaan kepentingan, mencakup aspek klientelistik maupun programatik," katanya.
Hasil dari penelitiannya di dua daerah itu kata Pangi memiliki karakteristik yang berbeda. Di Sumatra Barat, orientasi isu menjadi faktor paling dominan memengaruhi pilihan politik. Sedangkan di NTT, orientasi persamaan kepentingan, seperti program bantuan maupun kedekatan antara pemilih dan kandidat menjadi faktor paling menentukan.
"Di Sumatra Barat yang sangat berpengaruh adalah isu. Sementara di NTT yang berpengaruh adalah persamaan kepentingan, baik yang bersifat klientelistik maupun programatik," jelasnya.
Perbedaan itu menurutnya dipengaruhi karakter sosial masyarakat. Di Sumatra Barat, memiliki tingkat pendidikan, pendapatan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif tinggi sehingga pemilih lebih kritis terhadap isu-isu politik.
Baca Juga:
Brigjen TNI Kohir Sampaikan Pesan untuk Generasi Muda, Ini IsinyaDi NTT, masyarakatnya lebih dipengaruhi kesamaan kepentingan dan program yang ditawarkan oleh kandidat. Temuan lain yang menarik dari hasil penelitiannya, personalisasi kandidat arah faktor figur.
Pangi mengungkapkan, faktor yang ia sebutkan di atas tidak berpengaruh signifikan terhadap fenomena split tiket voting di kedua wilayah. Hasil itu berbeda dengan pandangan yang selama ini menempatkan figur sebagai faktor utama dalam menentukan pilihan politik.
Hasil penelitian itu juga menemukan bahwa semakin kuat identifikasi seseorang terhadap partai politik, kecenderungan melalukan split tiket voting semakin rendah. Temuan tersebut sejalan dengan teori party identification yang selama ini berkembang.
Ia menilai kebaruan disertasinya terletak pada pengujian empat variabel secara bersamaan, terutama variabel orientasi persamaan kepentingan yang selama ini belum banyak digunakan dalam penelitian mengenai split tiket voting.
Selain menguji pengaruh langsung, penelitian tersebut juga mengkaji pengaruh tidak langsung antarfaktor. Hasilnya menunjukkan orientasi persamaan kepentingan menjadi variabel mediasi yang signifikan dalam hubungan antara identifikasi partai dengan split tiket voting.
Menurut Pangi, hasil penelitian tersebut memperkuat pentingnya penguatan institusionalisasi partai politik di Indonesia.
Penguatan kelembagaan partai dinilai menjadi salah satu cara untuk mengurangi fenomena split ticket voting sekaligus meningkatkan ketahanan partai di tengah semakin kuatnya personalisasi politik dan liberalisasi sistem politik. (*)