KETIK, SITUBONDO – Upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208 yang berlangsung di Alun-Alun Situbondo berlangsung semarak dengan nuansa pakaian adat Nusantara, Sabtu 15 Agustus 2026.

Forkopimda sebagai tamu undangan juga mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing, sehingga suasana upacara semakin kental dengan identitas dan kekayaan adat budaya daerahnya masing-masing.

Penggunaan pakaian adat tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus memberikan warna tersendiri dalam rangkaian peringatan Harjakasi ke-208. Beragam busana tradisional yang dikenakan para peserta turut mencerminkan keberagaman serta kebanggaan masyarakat terhadap budaya Nusantara.

Selain menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang Kabupaten Situbondo, peringatan Harjakasi ke-208 juga diharapkan mampu memperkuat rasa cinta terhadap daerah dan mendorong generasi muda untuk terus menjaga warisan budaya bamgsa ini.

Dengan balutan pakaian adat, pelaksanaan upacara Harjakasi ke-208 tidak hanya berlangsung khidmat, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan Nusantara dari Kabupaten Situbondo.

Baca Juga:
Bupati Situbondo Kukuhkan Paskibraka, Upacara Dialihkan ke Alun-Alun Besuki

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Situbondo ke-208 menjadi momentum penting, untuk memaparkan capaian pembangunan sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat bergerak bersama membawa daerahnya lebih maju dan berdaya saing.

Dalam sambutannya, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo menegaskan bahwa kepemimpinannya bersama Mbak Ulfi berkomitmen melakukan pemerataan pembangunan dan penguatan identitas daerah.

Salah satunya adalah penguatan potensi lokal dan literasi, seperti memberi wadah kreativitas anak muda, pemutaran film lokal karya sineas Situbondo yang dibintangi Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo K.H. Azaim Ibrahimy, hingga menghadirkan novelis ternama Sanie B. Kuncoro (Sania Rashid) untuk mendorong penciptaan karya sastra berlatar sejarah Panarukan.

“Perjalanan sejarah dan pergeseran pembangunan. Perubahan nama wilayah ini sejak berdiri pada 15 Agustus 1818 di bawah kepemimpinan Bupati pertama Besuki, Raden Tumenggung Prawrowinoto (Bambang Sutiknyo). Nama kabupaten ini sempat berganti sebanyak tiga, Pertama Kabupaten Besuki, kemudian menjadi Kabupaten Panarukan pada 1858 seiring perpindahan pendopo ke lokasi saat ini, sebelum akhirnya resmi berganti menjadi Kabupaten Situbondo pada tahun 1972 di masa Bupati Tahir,” jelas Mas Rio, panggilan akrab Bupati Situbondo.

Baca Juga:
Bupati Mas Rio Bakal Gelar Pacuan Kuda di Kampung Kerbau Situbondo

Kabupaten Panarukan, lanjut Mas Rio, adalah nama besar yang tercatat dalam sejarah, bahkan sejak ekspedisi Raja Majapahit Hayam Wuruk pada 1355. “Tugas kita hari ini memastikan Situbondo tidak hanya terbangun secara fisik, tetapi juga dikenal luas oleh publik nasional," ujar Mas Rio.

Untuk mewujudkan hal tersebut, sambung Mas Rio, Pemkab Situbondo mendorong pergeseran fokus pembangunan ke wilayah barat pada yang dimulai tahun 2025–2026, untuk memperkuat kerja sama antar-daerah. “Terkait sejarah Anyer-Panarukan, Pemkab Situbondo dengan Pemkab Serang, sudah menjalin kerjasama untuk mempromosikan komoditas unggulan Situbondo,” tutur Mas Rio.

Untuk penguatan ekonomi dan Identitas daerah, lanjut Mas Rio, di sektor ekonomi, indikator makro menunjukkan tren positif, mulai dari penurunan angka kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, hingga perbaikan ketimpangan pendapatan.

“Selain capaian makro, Pemkab juga berupaya mengenalkan potensi kebudayaan dan kuliner khas. Melalui rangkaian Harjakasi, pemerintah berupaya menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai identitas daerah, sekaligus mempromosikan kekayaan kuliner lokal seperti Nasi Sodhu, Tajin Palappa, serta potensi olahan seafood di sepanjang jalur Pantura Situbondo,” kata Mas Rio.

Menutup sambutannya, Mas Rio mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari aparatur sipil negara, guru, ulama, hingga pedagang untuk menjalankan perannya secara optimal demi satu tujuan bersama.

"Saya masih bersemangat, percaya diri, dan yakin bahwa Situbondo bisa melompat jauh lebih tinggi, asalkan kita mau melangkah bersama-sama,” pungkas Mas Rio. (*)