KETIK, SURABAYA – Capcom memastikan Onimusha akan kembali hadir pada 2026, menghidupkan kembali waralaba klasik yang sempat vakum panjang. Pengumuman ini langsung menarik perhatian industri game global.
Rilis tersebut datang di tengah tren kebangkitan game lawas melalui remake dan reboot. Namun, di balik euforia nostalgia, muncul pertanyaan tentang arah baru yang akan diambil Capcom.
Sebagai waralaba yang mengangkat era Sengoku dan tokoh seperti Oda Nobunaga, Onimusha memiliki fondasi historis yang kuat. Nilai ini dinilai sebagai potensi diferensiasi di tengah pasar game yang semakin kompetitif.
Data industri menunjukkan, pasar game global terus tumbuh dan semakin menuntut pengalaman yang lebih imersif dan bermakna. Dalam konteks ini, narasi berbasis sejarah menjadi salah satu kekuatan baru.
Pakar pembelajaran berbasis game, Dr. James Paul Gee, menyebut bahwa video game memiliki kapasitas unik sebagai media pembelajaran interaktif, bukan sekadar hiburan pasif.
Sementara itu, peneliti sejarah game, Dr. Adam Chapman, menilai tren game modern mulai bergeser ke arah interpretasi sejarah yang lebih serius dan kontekstual.
Namun hingga kini, Onimusha masih identik dengan pendekatan klasik: sejarah sebagai latar, bukan sebagai inti pengalaman. Hal ini dinilai menjadi peluang yang belum dimaksimalkan Capcom.
Dengan teknologi seperti kecerdasan buatan dan realitas virtual, Onimusha berpotensi menghadirkan pengalaman sejarah yang lebih hidup dan personal bagi pemain global.
Desainer game sekaligus akademisi, Katie Salen, menegaskan bahwa imersi menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman belajar yang efektif melalui game.
Di sisi lain, strategi nostalgia tetap menjadi andalan banyak pengembang karena memiliki basis pasar yang jelas. Namun, pendekatan ini dinilai tidak cukup untuk menjaga relevansi jangka panjang.
Perilisan Onimusha pada 2026 menjadi momen penting bagi Capcom untuk menentukan arah waralaba ini: tetap bermain aman dengan nostalgia, atau berinovasi mengikuti perkembangan industri.
Jika mampu menggabungkan sejarah, teknologi, dan narasi secara mendalam, Onimusha berpotensi melampaui statusnya sebagai game klasik yang dihidupkan kembali.
Sebaliknya, tanpa pembaruan signifikan, kebangkitan ini berisiko hanya menjadi siklus nostalgia yang cepat meredup di tengah derasnya inovasi industri game global. (*)
