Nilai Perkara Mafia Tanah Yogyakarta Capai Dua Ribu Triliun, Mantan Kajati: Semoga Penerus Saya Sakti Mandraguna

Jurnalis: Fajar Rianto
Editor: M. Rifat

15 Jun 2024 05:02

Thumbnail Nilai Perkara Mafia Tanah Yogyakarta Capai Dua Ribu Triliun, Mantan Kajati: Semoga Penerus Saya Sakti Mandraguna
Mantan Kajati DIY Ponco Hartanto, sekarang Kajati Jateng, didampingi istri pada acara Pisah Sambut di The Rich Jogja Hotel, Jumat malam (14/6/2024). (Foto: Fajar Rianto/Ketik.co.id)

KETIK, YOGYAKARTA – Acara pelepasan dan pisah sambut Kepala Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta (Kajati DIY) yang digelar di The Rich Jogja Hotel Jumat malam (15/6/2024) berlangsung meriah.

Selain unsur jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DIY, para Kepala Daerah tingkat 2, maupun keluarga besar Korps Adhyaksa lingkup DIY hadir.

Putri sulung Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, yakni Gusti Kanjeng Ratu atau GKR Mangkubumi juga tampak hadir.

Mengawali sambutannya, mantan Kajati DIY Ponco Hartanto yang saat ini menjadi Kajati Jawa Tengah menyampaikan, dirinya bertugas di DIY selama 1 tahun 4 bulan.

Baca Juga:
Sowan ke Sri Sultan HB X, Danrem 072/Pamungkas Bicara Ketahanan Nasional dan Budaya Yogyakarta

Menurut Ponco, sebetulnya itu bukan waktu yang lama. Karena Yogyakarta serasa rumah sendiri, jadi baginya ibarat pulang kampung saja.

Namun, kalau melihat tempelan foto di kantor, sebut Ponco, rata-rata para pendahulu sebelumnya tidak ada satu tahun menjabat Kajati DIY.

Ponco menyebut kesan pertama baginya adalah Yogyakarta memang Istimewa. Berikutnya, Ponco juga mengaku dapat amalan untuk puasa selama satu tahun dari Sri Sultan HB X dan ia dengan ikhlas dapat menjalaninya sampai tuntas.

"Saat awal diberi mandat jadi Kajati DIY sebelumnya, saya sempat menanyakan pada Jaksa Agung. Kenapa musti dipulangkan ke Yogyakarta. Saat itu saya yakin karena Yogyakarta Istimewa maka adem ayem kondisinya," terangnya.

Baca Juga:
Dugaan Mafia Tanah di Brebes, Ahli Waris Kaget Lahan Orang Tua Beralih Nama Saat Daftar PTSL

Ia tambahkan, memang setiap daerah punya spesifikasi tersendiri. Kalau di Kepri misalnya, di sana ada perkara penyelundupan, human trafficking atau perdagangan orang (TPPO) dan lain-lain. Sedangkan Kalimantan dan Sulawesi marak perkara terkait tambang.

Foto Didampingi suaminya, Kajati DIY yang baru Ahelya Abustam, memperkenalkan diri dalam acara pisah sambut Kajati DIY, Jumat (14/6/2024). (Foto: Fajar Rianto/ Ketik.co.id)Didampingi suami, Kajati DIY baru Ahelya Abustam memperkenalkan diri dalam acara Pisah Sambut Kajati DIY, Jumat (14/6/2024). (Foto: Fajar Rianto/ Ketik.co.id)

Nah, setelah dilakukan penyelidikan, evaluasi dan profiling, Yogyakarta memang berbeda dengan daerah lainnya. "Saat kita profiling ternyata Yogyakarta marak dengan mafia tanah," ungkapnya.

Soalnya, terang Ponco, semua masyarakat ingin memiliki properti berupa tanah di Yogyakarta. Entah buat anaknya yang kuliah ataupun mencari kenyamanan setelah pensiun. Sehingga kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh para mafia tanah.

"Mereka bahkan melakukan aksi kejahatannya secara terstruktur, masif dan redesain. Hal itu terungkap saat jajaran Kejati DIY melakukan penyelidikan, mengikuti cara yang dilakukan oleh mereka (mafia tanah)," jelasnya.

Hingga terbongkarlah ulah mafia tanah dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan Tanah Kas Desa (TKD) di DIY. Hasilnya dalam perkara yang ditangani Kejati DIY tersebut, TKD yang kesemuanya berasal dari Sultan Ground (tanah milik Kasultanan Yogyakarta) dapat terselamatkan keberadaannya.

Nilainya Dua Ribu Triliun

Ponco juga menyebut, kalau dihitung TKD yang berhasil ia tangani melalui Tipikor kurang lebih Rp316 Triliun nilainya. Itupun, jelas Ponco, cara menghitungnya hanya berdasar NJOP (Nilai Jual objek Pajak), satu juta rupiah per meternya.

Lebih mengejutkannya lagi saat Ponco menyinggung apabila terselesaikan semua. Maka perkara TKD di Yogyakarta yang berasal dari tanah Sultan Ground maupun Pakualaman Ground (tanah Pakualaman), kurang lebih Rp2.000 Triliun nilainya.

Foto Momen Ponco Hartanto dan Ahelya Abustam foto bersama unsur Forkopimda DIY, serta GKR Mangkubumi. (Foto: Fajar Rianto/ Ketik.co.id)Ponco Hartanto dan Ahelya Abustam foto bersama unsur Forkopimda DIY, serta GKR Mangkubumi. (Foto: Fajar Rianto/Ketik.co.id)

Untuk itu Ponco memohon dan titip pesan pada penggantinya Ahelya Abustam, SH MH untuk menindaklanjuti hal ini

"Kepada Chely selaku pengganti saya, apa yang telah kita lakukan ditindaklanjuti. Nyuwun pangestu sama Ngarso Dalem, biar sehat walafiat. Semoga bu Chely juga dikasih ilmu yang sama yakni kesaktian yang mandraguna," pesan Ponco diselingi gurauan, dan disambut tepuk tangan hadirin semuanya.

Menanggapi pesan tersebut, usai memperkenalkan diri, Kajati DIY yang baru Ahelya Abustam yang biasa dipanggil Chely ini secara tegas menyatakan dirinya siap dan akan meneruskan langkah yang dirintis oleh pendahulunya tersebut. Termasuk menangani persoalan mafia tanah menyangkut penyalahgunaan TKD ini. (*)

Baca Sebelumnya

Menko PMK Sebut Korban Judi Online Bakal Dapat Bansos dari Pemerintah

Baca Selanjutnya

Daop 8 Surabaya Catat 20 Ribu Lebih Pelanggan Gunakan Kereta Api Jelang Libur Idul Adha

Tags:

Pelepasan dan Pisah Sambut Kajati DIY Kajati Jateng Ponco Hartanto Ahelya Abustam Chely Mafia Tanah Pemda DIY DPRD DIY Korupsi Tanah Kas Desa GKR Mangkubumi

Berita lainnya oleh Fajar Rianto

Pemkab Sleman dan Pengadilan Agama Perkuat Sinergi, Bidik Penurunan Pernikahan Dini

13 April 2026 22:04

Pemkab Sleman dan Pengadilan Agama Perkuat Sinergi, Bidik Penurunan Pernikahan Dini

Intip Perencanaan Sumber Daya Air (SDA) Sleman Tahun N+1: Fokus Rehabilitasi Irigasi dan Embung

13 April 2026 15:21

Intip Perencanaan Sumber Daya Air (SDA) Sleman Tahun N+1: Fokus Rehabilitasi Irigasi dan Embung

Pengamat Hukum Yogyakarta: Inkonsistensi Aktivis Ancam Kredibilitas Gerakan Anti-Korupsi

9 April 2026 16:31

Pengamat Hukum Yogyakarta: Inkonsistensi Aktivis Ancam Kredibilitas Gerakan Anti-Korupsi

Sleman Genjot Pemeliharaan Jalan, DPUPKP Targetkan Kemantapan Infrastruktur 80 Persen

9 April 2026 16:18

Sleman Genjot Pemeliharaan Jalan, DPUPKP Targetkan Kemantapan Infrastruktur 80 Persen

Babak Baru Penanganan Korupsi: MK Ketok Palu, BPK Satu-Satunya Penghitung Kerugian Negara

9 April 2026 05:50

Babak Baru Penanganan Korupsi: MK Ketok Palu, BPK Satu-Satunya Penghitung Kerugian Negara

Bupati Harda Kiswaya Kukuhkan Pengurus LKK Banyuraden, Tekankan Sinergi Membangun Sleman

8 April 2026 08:20

Bupati Harda Kiswaya Kukuhkan Pengurus LKK Banyuraden, Tekankan Sinergi Membangun Sleman

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar