KETIK, MALANG – Peringatan Hari Kartini yang biasanya identik dengan kebaya dan kegiatan seremonial, dihadirkan dengan cara berbeda oleh siswa SMP Progresif Spemuga (SMP Muhammadiyah 3) Surabaya. Mereka merayakannya melalui kegiatan napak tilas ke sejumlah titik edukatif di Malang, mulai dari sumber air, masjid, hingga museum. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang dirancang sekolah agar siswa tidak hanya mengenal sosok Raden Ajeng Kartini melalui teori, tetapi juga memahami nilai perjuangannya secara langsung.

Kepala SMP Progresif Spemuga, Maria Ellen Veronica, mengatakan pendekatan tersebut merupakan upaya sekolah untuk menghadirkan peringatan Hari Kartini yang lebih bermakna.

" Spemuga memang ingin memperingati Kartini dengan cara progresif. Bukan seremonial, anak-anak langsung membuat dan mempresentasikan karyanya di perjalanan", ujar Maria Ellen Veronica.

Ia menambahkan, semangat emansipasi yang diperjuangkan Kartini perlu ditanamkan melalui pengalaman nyata agar lebih membekas bagi siswa.

Baca Juga:
Dosen HTN Malang: Kartini Pejuang Literasi Hukum Pertama Perempuan Indonesia

“Kami tak ingin merayakan Kartini lewat seremonial kaku. Di Spemuga, nilai ‘terang’ harus dijemput dengan bergerak langsung. Kami ajak anak-anak keluar zona nyaman agar semangat perjuangan itu benar-benar meresap di ingatan, bukan sekadar menjadi hafalan,” lanjutnya.

Secara umum, peringatan Hari Kartini setiap 21 April di berbagai daerah masih didominasi kegiatan simbolik seperti lomba busana atau upacara tematik. Namun, pendekatan berbasis pengalaman seperti ini dinilai lebih relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini.

Selama kegiatan berlangsung, para siswa terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian. Mereka aktif berdiskusi, mengamati lingkungan sekitar, hingga mempresentasikan hasil pemahaman mereka di lokasi yang dikunjungi.

Kunjungan ke sumber air dan masjid tidak hanya mengenalkan aspek sejarah, tetapi juga menanamkan nilai spiritualitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Sementara itu, museum menjadi ruang pembelajaran untuk memahami perjalanan perjuangan perempuan Indonesia.

Baca Juga:
Kado Hari Kartini dari Khofifah, Ratusan Buruh Rokok dan Pelaku Usaha Perempuan Terima Bantuan Modal

Pendekatan ini menunjukkan bahwa peringatan Hari Kartini tidak harus selalu identik dengan seremoni. Lebih dari itu, momentum tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran yang lebih hidup, kontekstual, dan relevan bagi generasi muda. (*)