KETIK, SURABAYA – style="margin-right:19px">Di tengah hiruk pikuk mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), terselip sosok pemuda dengan segudang prestasi yang membanggakan. Namanya Muhammad Alfin Syawaluddin, atau akrab disapa Alfin.
Ia menjadi representasi nyata dari kegigihan seorang anak muda yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual, ketangkasan fisik dan spiritualitas. Inspiratif!
Lahir dan tumbuh di Surabaya, Alfin menghabiskan masa remajanya dengan menimba ilmu di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Jombang. Lingkungan pesantren dan madrasah yang disiplin membentuk karakternya menjadi pribadi tangguh.
Kini, di usianya yang menginjak semester enam bangku perkuliahan, Alfin telah mengukir namanya di berbagai ajang kompetisi, mulai dari tingkat kabupaten, nasional hingga kancah internasional.
Bagi Alfin, prestasi bukanlah tentang satu bidang saja. Ia dikenal sebagai sosok multitalenta. Ketertarikannya pada dunia seni bela diri membawanya menjadi atlet pencak silat disegani. Salah satu pencapaian tertingginya adalah meraih juara dalam ajang Bahrul Ulum Cup serta kompetisi Pagar Nusa International pada 2022.
Namun, ketangkasan fisiknya tidak membuatnya melupakan sisi religiusitas. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Alfin sudah menekuni bidang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan Tartil Quran.
Keindahan suaranya dalam melantunkan ayat suci Al-Quran telah mengantarkannya meraih berbagai penghargaan di tingkat Jawa Timur.
Tak berhenti di situ, memasuki dunia perkuliahan, Alfin mulai mengepakkan sayap di bidang akademis. Berawal dari mata kuliah teknik penulisan karya ilmiah, ia tertantang untuk terjun ke dunia kepenulisan.
Hasilnya luar biasa, ia berhasil menyabet gelar juara dalam lomba esai ilmiah nasional yang diselenggarakan oleh STAIRUA Sampang dan STIKES Bahrul Ulum pada tahun 2025.
Di balik rentetan medali dan piala, Alfin mengakui bahwa keluarga adalah pilar utamanya. Selain itu, ia juga menyebut peran besar para pelatih, guru dan teman-teman yang selalu memberikan energi positif.
"Orang tua saya adalah pendukung nomor satu. Mereka selalu men-support saya untuk terus berprestasi di bidang apa pun," ujarnya.
Alfin juga memiliki cara unik untuk memotivasi diri. Ia sering menjadikan orang-orang yang lebih sukses darinya sebagai inspirasi.
"Saya melihat mereka hebat entah siapapun itu yang lebih hebat dari saya, dan itu membuat saya ingin menjadi seperti mereka," tambahnya.
Perjalanan Alfin tentu tidak selalu mulus. Ia mengaku bahwa tantangan terbesar yang sering dihadapi bukanlah lawan di gelanggang silat atau kompetitor esai, melainkan rasa malas dalam dirinya sendiri.
"Tantangan terbesar itu rasa malas. Terkadang kalau lomba esai, malas berpikir. Kalau silat atau tilawah, malas latihannya," ungkap dia.
Untuk mengatasi kegagalan atau hambatan, Alfin memiliki resep khusus, yaitu doa dan evaluasi. Setiap kali menghadapi kegagalan, ia selalu meminta koreksi dari dewan juri atau pelatih untuk mengetahui letak kesalahannya. Sikap rendah hati dan mau belajar inilah yang membuatnya terus berkembang.
Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan kariernya adalah saat mengikuti lomba MTQ yang dihadiri oleh tokoh nasional, Erick Thohir. Kala itu, Alfin tidak hanya mendapatkan pengalaman berharga, tetapi juga menerima apresiasi berupa beasiswa sebesar Rp5 juta secara langsung dari Menpora tersebut.
Momen bersalaman dan berfoto bersama Erick Thohir yang juga pernah menjabat Menteri BUMN itu menjadi kenangan yang terus memicu semangatnya hingga kini.
Bagi dia, prestasi adalah bentuk pembuktian diri sekaligus cara untuk membahagiakan orang-orang di sekitarnya serta membawa nama baik instansi tempatnya bernaung. Dengan prinsip "jatuh bangun, kalah menang, harus mencoba lagi," Alfin bertekad untuk tidak pernah patah semangat dalam mengejar mimpi-mimpinya yang lain.
Kisah Muhammad Alfin Syawaluddin mengajarkan bahwa dengan kerja keras, dukungan keluarga dan spiritualitas terjaga, seorang pemuda mampu menaklukkan berbagai tantangan dan meraih prestasi yang melintasi berbagai bidang kehidupan. (*)
