Menyorot Kepemimpinan Desa

Jurnalis: Agus Riyanto
Editor: Rahmat Rifadin

28 Sep 2025 17:40

Thumbnail Menyorot Kepemimpinan Desa
Oleh: Nurani Soyomukti*

Mari kita mulai dari kisah ketika warga desa mulai akan memberikan suaranya untuk memilih pemimpin desa (Kades). Tentunya, juga ada para calon yang akan berkontestasi. Terkait keberadaan calon, dalam pandangan saya, biasanya akan  muncul beberapa  tipe calon. Pertama ada warga yang mencalonkan diri karena keinginannya sendiri. Kedua, ada yang dicalonkan orang lain. Ketiga,  ada perpaduan keduanya.

Tentunya tidak ada masalah pada ketiga tipe itu. Memang, kalau keinginan mencalonkan diri itu muncul dari seseorang, kesannya ia adalah calon yang ambisius. Sedangkan, jika ada calon yang maju karena keinginan orang lain atau orang banyak, kesannya tidak ambisius dan malah terkesan diinginkan banyak orang.

Sebenarnya masalahnya di sini adalah bukan apakah seorang itu nyalon karena keinginannya sendiri atau karena keinginan orang lain. Bukan itu masalahnya. Toh, keduanya juga tak melanggar undang-undang. Karena setiap warga memang boleh mencalonkan diri, karena itu adalah hak tiap warga untuk mencalonkan diri atau mengusung calon.

Yang harus dilihat sebenarnya pada “personality” calon itu sendiri. Bukan pada bagaimana ia mencalonkan. Meskipun demikian, ambisi untuk mencalonkan diri itu kadang juga menjadi bagian ‘personality’ dari calon. Umumnya orang yang ambisius itu tidak disukai di daerah pedesaan. Orang pedesaan lebih suka sosok yang tidak ambisius. 

Baca Juga:
BUMDes Desa Serang Disorot, Pemdes Tegaskan Masalah Administratif dan Siap Benahi Tata Kelola

Ambisius sebenarnya bukan watak yang terpisah dari karakter lain. Orang pasti akan melihat apakah orang yang ambisius ini memang membawa misi besar yang akan diperjuangkan yang berbasis pada karakter kebersamaan (kerakyatan), ataukah hanyalah ambisi pribadi untuk merebut kekuasaan.

Orang juga akan menilai apakah orang yang ambisius ini ada tanda-tanda akan bisa menjalankan kekuasaan dengan baik berdasarkan pada pemahamannya akan aturan-aturan untuk menjalankan kekuasaan, serta apakah ia akan menggunakan kekuasaan untuk dibuka dan dibagi untuk kepentingan orang banyak. Ataukah ia suka kekuasaan karena biar ingin naik kelas saja, memanfaatkan jabatan untuk mengambil posisi berbeda dari kebanyakan rakyat banyak.

Sebab, jujur saja, rata-rata masyarakat desa masih menganggap bahwa kekuasaan dan jabatan itu dipandang hanya pantas diduduki oleh orang-orang tertentu yang dianggap ditakdirkan untuk mendapatkannya. Dan mereka berpikir bahwa memang jabatan dan kekuasaan itu pantas didapat oleh orang-orang yang beruntung. Dan mereka menganggap bahwa mereka hanyalah pihak yang mendukung kekuasaan apapun adanya, hanya berharap bahwa kekuasaan akan membawa manfaat pada diri mereka—tapi sikap mereka adalah menunggu.

Merubah Pola Pikir

Baca Juga:
Kebahagiaan Para Pengobral Dosa dan Kesombongan Orang-Orang Tamak

Yang dibutuhkan sekarang ini, untuk menciptakan masyarakat yang maju, memanglah pola pikir dan sikap masyarakat yang harus berubah. Termasuk poa pikir dan sikap pemimpin yang akan menjadi pengarah kemajuan masyarakat.

Calon yang ambisius biasanya tak akan fokus pada bagaimana membawa masyarakat pada transformasi dan perubahan pola pikir dan sikap. Ia justru akan menempatkan masyarakat sebagai objek, yang akan dianggap menganggumi dirinya setelah dirinya mendapatkan posisi dan jabatan sebagai pemimpin.

Umumnya, posisi sebagai pemimpin yang didapat akan membuatnya “kena mental” dalam artian perasaannya meninggi dan ia merasa harus dihormati. Orang lain dirasa sebagai sosok-sosok yang akan memandangnya lebih tinggi. Tapi sayangnya, posisi kepemimpinannya tidak dimaknai sebagai sebuah kewajiban untuk menjalankan mandat untuk menjadi abdi bagi orang banyak.

Berhenti dan fokus pada menata perasaan sebagai orang yang harus dipandang terhormat, akhirnya lupa diri. Mereka lupa bahwa mereka harus menjalankan posisi dan perannya sebagai kepanjangan tangan negara dan konstitusi serta aturan-aturannya. Dalam konstitusi jelas bahwa negara kita adalah negara demokrasi, nilai-nilai kesetaraan dan keadilan sangat kebak di dalamnya. Belum lagi undang-undang yang menjadi turunannya. 

Bagi pemimpin desa, jelas ada amanat UU Desa (UU Nomor 6 Tahun 2014) yang jelas-jelas menginginkan model kekuasaan yang terbuka, dengan menempatkan partisipasi masyarakat sebagai basis kemajuan. Lalu juga ada UU Pelayanan Publik dan UU Keterbukaan Informasi Publik. 

Jelas, bahwa untuk memimpin Desa, sosok yang duduk sebagai pemimpin harus punya pola pikir yang maju, terbuka, punya prinsip kesetaraan, memandang orang lain sebagai mitra kemajuan. Jelas bahwa tugas kepala desa adalah mentransformasikan nilai-nilai yang ada dalam konstitusi, undang-undang, peraturan-peraturan. Ia harus memahami nilai-nilai ideologis dari negara bersama konstitusinya, UU-nya, dan peraturan-peraturannya.

Sayangnya, tidak ada dan hampir tak ada pemimpin desa yang benar-benar mampu mau membaca dan menyerap nilai-nilai demokrasi untuk diterapkan di masyarakat. Mereka bahkan tidak ada bahan untuk disampaikan ke masyarakat. Mereka tak mampu menyebarkan pemahaman,gara gara mereka sendiri tak paham.

Di tengah ketidakpahaman terhadap visi-misi untuk menerapkan nilai-nilai demokrasi serta membuat program untuk mengopersionalisasi dalam sebuah kegiatan, kemudian yang ada hanyalah AMBISI untuk mendapatkan kekuasaan dan mendapatkan jabatan.(*)

*) Nurani Soyomukti adalah pendiri Institute Demokrasi dan Keberdesaan (INDEK) serta santri di Pascasarjana Akidah dan Filsafat Islam UIN Tulungagung.

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Pabrik, Hotel, dan Kampus Jadi Tulang Punggung PAD Sleman

Baca Selanjutnya

Diduga Dibakar, Rumah Warga di Kandangserang Pekalongan Nyaris Ludes Terbakar

Tags:

Menyorot Kepemimpinan DESA Nurani Soyomukti

Berita lainnya oleh Agus Riyanto

Bupati Trenggalek Tanggapi Kebijakan WFH: Hemat Listrik dan Perjalanan Dinas Jadi Atensi

15 April 2026 16:36

Bupati Trenggalek Tanggapi Kebijakan WFH: Hemat Listrik dan Perjalanan Dinas Jadi Atensi

Trenggalek Raih Double Winner TOP BUMD 2026

14 April 2026 18:52

Trenggalek Raih Double Winner TOP BUMD 2026

Menanti Sentuhan Tangan Dingin Ketum Baru Persiga Trenggalek, "On Fire"?

14 April 2026 17:10

Menanti Sentuhan Tangan Dingin Ketum Baru Persiga Trenggalek, "On Fire"?

Rangkaian Muscab, PKB Trenggalek Gelar Penghijuan di Desa Depok Bendungan Usung Spirit "Partai Hijau"

5 April 2026 17:43

Rangkaian Muscab, PKB Trenggalek Gelar Penghijuan di Desa Depok Bendungan Usung Spirit "Partai Hijau"

Ketua Paguyuban Tosan Aji Parikesit Trenggalek Layangkan Somasi, Persoalkan Keberadaan Showcase

4 April 2026 08:04

Ketua Paguyuban Tosan Aji Parikesit Trenggalek Layangkan Somasi, Persoalkan Keberadaan Showcase

Pemkab Trenggalek Tunjuk 8 Pejabat Pelaksana Tugas, Begini Kata Sekda Edi

3 April 2026 12:28

Pemkab Trenggalek Tunjuk 8 Pejabat Pelaksana Tugas, Begini Kata Sekda Edi

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H