KETIK, GRESIK – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar menegaskan pertumbuhan industri harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyoroti kondisi Gresik yang memiliki kawasan industri besar, tetapi masih menghadapi persoalan pengangguran dan rendahnya partisipasi angkatan kerja. Oleh karena itu, negara hadir memastikan masyarakat di sekitar kawasan industri memperoleh manfaat melalui akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan peluang usaha.
“Jangan sampai industri tumbuh besar, tetapi masyarakat di sekitarnya justru tertinggal. Ini yang harus kita koreksi. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya mengandalkan trickle down effect,” ujar Menko Muhaimin saat mengunjungi Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (08/08/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya intervensi negara untuk menjembatani potensi industri dengan masyarakat. Karena itu, pesantren didorong menjadi salah satu pusat pemberdayaan yang menghubungkan pendidikan, dunia kerja, UMKM, dan akses ekonomi masyarakat.
“Pesantren harus menjadi pusat pemberdayaan. Bukan hanya mencetak SDM unggul, tetapi juga membuka akses kerja dan kemudahan berusaha bagi masyarakat,” katanya.
Baca Juga:
Sambangi Desa Watuagung Gresik, Menko PM Muhaimin Iskandar Cek Langsung Dampak Pembiayaan PNMUpaya tersebut dikembangkan melalui ekosistem sosial ekonomi pesantren di Ponpes Ihyaul Ulum. Ekosistem ini mengintegrasikan berbagai program pemberdayaan, mulai dari peningkatan kualitas SDM, kesehatan, kesiapan kerja, pendampingan UMKM, sertifikasi halal, hingga penguatan hubungan dengan dunia industri.
Sementara itu, penguatan akses kerja dilakukan melalui link and match SMK berbasis pesantren dengan dunia industri. Menko Muhaimin menyaksikan penandatanganan kerja sama antara Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Rumah Vokasi Kabupaten Gresik, dan Tim Koordinasi Daerah Vokasi.
Dari 62 SMK di Kabupaten Gresik, sebanyak 35 di antaranya berbasis pesantren dengan sekitar 7.883 siswa. Kerja sama tersebut diarahkan untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri, memperkuat sertifikasi kompetensi, serta membuka akses penempatan kerja bagi lulusan.
“Anak-anak SMK berbasis pesantren harus memiliki akses yang sama ke dunia industri. Jangan sampai industri tumbuh besar, tetapi lulusan di sekitarnya tidak terserap karena kompetensinya tidak tersambung dengan kebutuhan industri,” tegasnya.
Baca Juga:
BAZNAS Salurkan Rp871 Juta untuk Penguatan Ekonomi Pesantren dan Masjid di GresikMenko Muhaimin mengatakan Gresik memiliki modal sosial yang besar dengan 211 pesantren dan sekitar 10.857 santri. Potensi tersebut harus dihubungkan dengan kekuatan industri dan peluang ekonomi yang tersedia agar masyarakat tidak sekadar menjadi penonton pertumbuhan ekonomi.
“Ihyaul Ulum sudah membuktikan diri, baik dalam mencetak SDM maupun mendampingi UMKM melalui sertifikasi halal. Yang kita lakukan adalah memperkuat apa yang sudah berjalan agar dampaknya semakin besar,” ujarnya.
Dalam kunjungannya, Menko Muhaimin meninjau Cek Kesehatan Gratis dan Tes Potensi Psikologi bagi santri. Ia menekankan kesiapan fisik dan mental sebagai fondasi agar santri dapat berkembang menjadi individu yang berdaya sekaligus mampu memberdayakan lingkungannya.
Di sektor ekonomi, Menko Muhaimin berdialog dengan pelaku UMKM penerima sertifikat halal serta pengelola Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ihyaul Ulum. Menurutnya, pesantren dapat menjadi pusat layanan ekonomi yang membantu masyarakat memperoleh legalitas usaha, meningkatkan daya saing, dan memperluas akses pasar.
LP3H STAI Ihyaul Ulum juga menerima penghargaan BPJPH sebagai lembaga pendamping sertifikasi halal dengan capaian tertinggi di Kabupaten Gresik. Menko Muhaimin menilai capaian tersebut menunjukkan kontribusi nyata pesantren dalam mendorong UMKM naik kelas.
Dalam kegiatan tersebut turut diserahkan berbagai dukungan, antara lain ZMart BAZNAS RI untuk tujuh pesantren senilai Rp350 juta, lima Bumi Masjid senilai Rp500 juta, bantuan Greenzakat BAZNAS Kabupaten Gresik Rp21 juta, sertifikasi KADIN Kabupaten Gresik bagi 50 siswa SMK berbasis pesantren senilai Rp50 juta, serta kepesertaan dan santunan BPJS Ketenagakerjaan bagi ahli waris.
Cak Imin menegaskan seluruh upaya tersebut merupakan bagian dari semangat ekonomi konstitusi yang menempatkan negara sebagai penghubung agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
“Negara harus hadir mengoreksi kegagalan pasar. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh meninggalkan masyarakat yang paling rentan,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperkuat keterhubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri melalui Tim Vokasi Daerah serta kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Gresik.
“Pengembangan konsep sosio-ekonomi pesantren ini kami implementasikan melalui kerja sama Tim Vokasi Daerah, yaitu diketuai oleh Pak Sekda. Kemudian MoU dengan Kadin Kabupaten Gresik untuk mendampingi pemberdayaan talenta, skill dan kompetensi yang sasarannya adalah SMK,” ungkapnya.
Menurut Gus Yani, penguatan kompetensi tersebut menyasar SMK yang berada di lingkungan pesantren maupun SMK di luar pesantren. Pemkab Gresik tidak hanya mendorong peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan bahasa dan talenta siswa agar lebih siap menghadapi kebutuhan industri.
“Kami ingin ada pemberdayaan, peningkatan kapasitas, peningkatan skill, peningkatan bahasa, semuanya ditujukan kepada masyarakat Kabupaten Gresik agar tumbuh kembang bersama antara industri yang disampaikan oleh Pak Menko dengan kompetensi yang ada melalui anak-anak SMK,” ujarnya.
Gus Yani menilai kebutuhan peningkatan kompetensi semakin penting seiring berkembangnya investasi di Kabupaten Gresik. Masuknya investasi dari luar negeri, termasuk China, menurutnya harus diikuti dengan kesiapan tenaga kerja lokal agar masyarakat Gresik dapat mengambil peluang kerja yang tersedia.
Ia mencontohkan kemampuan bahasa asing sebagai salah satu kompetensi tambahan yang perlu dimiliki lulusan SMK untuk meningkatkan daya saing di tengah perkembangan industri.
“Oh, ternyata teknologinya cukup tinggi. Investasinya China, minimal lulusan SMK itu bisa bahasa China, minimal lulusan SMK itu punya talenta-talenta terbaik,” pungkasnya. (*)