KETIK, MALANG – Sesosok arca di sudut Museum Mpu Purwa, Kota Malang, menarik perhatian rombongan pelajar SMP yang mengunjungi museum tersebut, Rabu, 14 Oktober 2026. Mereka berebut mengambil foto arca yang mereka sebut kapibara.
Sekilas, penilaian para siswa ini tak keliru. Secara kasatmata, arca setinggi 117 sentimeter itu memang menyerupai kapibara, hewan pengerat berukuran besar yang belakangan populer di media sosial.
Apalagi, bagian perutnya yang buncit semakin memperkuat kemiripan dengan hewan yang biasa disebut Masbro tersebut.
Namun, pengelola museum mengidentifikasi arca ini sebagai Singa Vyalaka. Dalam dokumen Museum Mpu Purwa, identifikasi tersebut didasarkan pada sejumlah ciri fisik. Rambut yang terurai menjadi salah satu petunjuk yang mengarah pada penggambaran singa.
Baca Juga:
Pameran Bersama Delapan Museum di Museum Mpu Purwa Ajak Pelajar Telusuri Jejak Peradaban Malang RayaMeski demikian, bentuk wajahnya justru dinilai lebih menyerupai kuda atau anjing. Ukuran tangannya yang kecil juga tidak proporsional dengan kepala dan badannya.
Dokumen tersebut menjelaskan bahwa penggambaran singa dalam seni arca di Jawa tidak selalu menyerupai bentuk aslinya. Hal ini diduga karena singa bukan hewan yang hidup secara alami di Jawa, sehingga para pemahat pada masa lalu tidak mengenal bentuknya secara langsung.
Identifikasi tersebut sejalan dengan penilaian tim BPCB Trowulan saat arca ini ditemukan pada 2012. Kala itu, arca tersebut disebut sebagai Singa Stambha.
Namun, sejarawan Universitas Negeri Malang, Drs. Ismail Lutfi, M.A., memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, arca tersebut bukan singa, melainkan Waraha, salah satu awatara atau penjelmaan Dewa Wisnu dalam wujud babi hutan.
Baca Juga:
Koleksi Museum Mpu Purwa Pikat Wisatawan Luar Kota Malang“Sebenarnya, ini bukan patung singa. Tapi, ini adalah Waraha. Waraha itu apa? Bahasa Indonesianya babi,” kata Lutfi, dikutip dari kanal YouTube Pemerintah Kota Malang.
Dalam mitologi Hindu, Waraha merupakan penjelmaan Dewa Wisnu untuk menyelamatkan Dewi Bumi dari ancaman Hiranyaksa, raksasa yang menenggelamkan bumi ke dalam lautan kosmik.
Waraha kemudian bertarung melawan Hiranyaksa hingga berhasil mengalahkannya. Setelah itu, Wisnu dalam wujud babi hutan mengangkat bumi menggunakan kedua taringnya dan mengembalikannya ke tempat semestinya.
Menurut Lutfi, jika arca tersebut benar merupakan Waraha, koleksi Museum Mpu Purwa ini memiliki nilai penting dalam kajian sejarah dan keagamaan. Sebab, tidak banyak arca yang menggambarkan awatara Wisnu tersebut.
“Jarang sekali kita menemukan di tempat lain kehadiran sosok Waraha awatara ini,” tandas Lutfi.