KETIK, SURABAYA – Musyafak Rouf. Ia merupakan salah satu tokoh politisi senior asal Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sepak terjangnya di dunia perpolitikan sudah tak perlu diragukan lagi.
Pria kelahiran Surabaya, 17 Agustus 1964, ini sudah aktif berorganisasi sejak lama. Alumni Universitas Sunan Guru Surabaya angkatan 1990 tersebut kemudian melanjutkan kiprahnya hingga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Surabaya.
Dari sana, kariernya di dunia politik terus merangkak naik. Pria yang akrab disapa Cak Syafak ini melanjutkan prestasi politiknya dengan menjabat Wakil Ketua DPRD Surabaya, Ketua DPRD Kota Surabaya periode 2004-2009 hingga sekarang ia menjabat sebagai ketua DPRD Jawa Timur periode 2024-2029.
Sebagai Ketua DPRD Jawa Timur, Musyafak melakukan sejumlah poin-poin strategis, seperti sinergi pemprov hingga pemkot. Ia mendorong adanya pertemuan rutin dari keduanya, yaitu Pemprov Jawa Timur dan Pemkot Surabaya.
Menurutnya dorongan pertemuan kedua lembaga pemerintahan ini bertujuan untuk mempercepat proyek infrastruktur strategis, seperti Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB), Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT) dan Tol Tengah.
Baca Juga:
Anggota DPRD Jatim Khusnul Khuluk: Warga Bagian Utara Lumajang Masih Alami Kiris AirDi bidang pendidikan dan kesehatan, Cak Syafak menyoroti pentingnya pemerataan kualitas pendidikan agar tidak ada lagi perbedaan antara sekolah swasta dan negeri. Ia juga menekankan pentingnya akses layanan kesehatan dasar yang inklusif bagi masyarakat.
Ia juga membangun komunikasi politik yang kondusif di parlemen daerah. Tujuannya untuk memastikan fungsi pengawasan, penganggaran dan legislasi berjalan optimal.
Kendati sukses menduduki Ketua DPRD Jawa Timur, perjalanan Musyafak Rouf tak lepas dari kerikil. Pada tahun 2009, ia sempat tersandung persoalan hukum terkait kasus gratifikasi.
Ia divonis penjara 1,5 tahun di Lapas Porong, Sidoarjo. Selama masa penahanan, ia tetap produktif. Cak Syafak tetap produktif dengan mengajar ngaji bagi para narapidana. Cerita ini, ia jadikan perjalanan hidup sekaligus proses pendewasaan politik hingga akhirnya kembali bangkit dan dipercaya publik. (*)