KETIK, MALANG – Setiap tanggal 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini. Meski dilahirkan di dalam keluarga bangsawan Jawa, R.A Kartini gigih memperjuangkan emansipasi perempuan.

Langkah perjuangannya dalam emansipasi perempuan, dilakukan oleh Kartini lewat tulisan surat yang dikirimkan ke teman-temannya di Eropa. Nantinya, kumpulan surat tersebut diterbitkan menjadi suatu karya buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. 

Meski tidak ada catatan sejarah terkait kedatangan Kartini, namun di Kota Malang terdapat wilayah yang dinamakan Bareng Kartini. Wilayah itu berada di Kecamatan Klojen atau tepatnya di sekitar Jalan Kelud. 

Pemerhati sejarah Kota Malang, Agung H Buana, mengatakan, wilayah tersebut dinamakan Bareng Kartini karena dulunya pernah berdiri sebuah sekolah khusus perempuan. Sekolah tersebut bernama Malangsche Kartinischool atau Sekolah Kartini. 

Baca Juga:
Polresta Malang Kota Bongkar Praktik Penjualan Pertalite Ilegal, Oknum Karyawan SPBU Terlibat

"Sekolah Kartini ini dibuka dan menerima murid pertama pada tahun 1915. Sekolah ini didirikan oleh sebuah yayasan yang bernama Kartinifonds, dan dulunya berdiri di lahan yang saat ini menjadi eks Bioskop Kelud," ujarnya kepada Ketik.com, Selasa, 21 April 2026. 

Sebagai informasi, Kartinifonds adalah yayasan yang didirikan tahun 1913 di Belanda. Dengan salah satu pendirinya adalah Mr. JH. Abendanon yang merupakan Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda tahun 1900-1905 

Diketahui, Mr JH Abendanon juga dikenal sebagai orang yang menerbitkan kumpulan surat-surat R.A Kartini menjadi buku Habislah Gelap Terbitlah Terang pada tahun 1911.

Selain mengajarkan pendidikan umum, Sekolah Kartini juga mengajarkan tentang kepandaian putri berupa ketrampilan seperti menjahit, menyulam, serta memasak. 

Baca Juga:
Waspada Kamera di Behel Gigi, Panitia UTBK UM 2026 Wajibkan Peserta Pakai Masker

"Sekolah ini khusus diperuntukkan bagi perempuan dan murid-muridnya dari kalangan pribumi. Selain diajarkan pelajaran pada umumnya, mereka juga diajari berbagai ketrampilan seperti menjahit, menyulam, dan memasak," bebernya. 

Agung mengungkapkan, Sekolah Kartini didirikan karena pada waktu itu kesempatan bersekolah bagi perempuan sangatlah kecil dibandingkan laki-laki. Selain itu, berdirinya sekolah ini diilhami dari perjuangan dan emansipasi perempuan yang digerakkan oleh R.A Kartini. 

Karena di dekatnya terdapat gudang kopi dan membutuhkan perluasan, maka Sekolah Kartini pun ditutup dan berpindah tempat. Aktivitasnya kemudian berpindah ke Jalan Kawi yang sekarang menjadi SDN Bareng 2 atau tepatnya di samping Kantor KNPI.

Namun sayangnya, usia Sekolah Kartini tidak berlangsung lama. Masuknya Jepang ke Kota Malang pada tanggal 8 Maret 1942 menjadi titik berakhirnya operasional Sekolah Kartini. 

"Pengajar atau guru di Sekolah Kartini kebanyakan orang Belanda dan ditahan oleh Jepang. Jadi bisa dibilang, ketika pendudukan Jepang inilah berakhir pula Sekolah Kartini," tandasnya. (*)