KETIK, JOMBANG – Wajah tiba-tiba terlihat mencong atau perot pada salah satu sisi kerap membuat seseorang dan keluarganya panik. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan stroke.

Namun, wajah mencong mendadak juga dapat menjadi tanda Bell’s Palsy, yakni kelumpuhan pada saraf wajah yang terjadi secara akut.

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR) dr. Agustina Mufidah, menjelaskan Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf fasialis perifer yang muncul secara mendadak dan umumnya hanya mengenai satu sisi wajah.

Menurutnya, Bell’s Palsy berkaitan dengan gangguan pada saraf kranial ke-7 atau saraf fasialis. Saraf tersebut berperan penting dalam menggerakkan otot wajah, seperti tersenyum, mengangkat alis, mencucu hingga menutup kelopak mata.

“Bell’s Palsy merupakan kelumpuhan saraf fasialis perifer yang bersifat akut dan mendadak, umumnya hanya menyerang satu sisi wajah,” jelas Agustina, Senin, 28 September 2026.

Baca Juga:
[FOTO] Parkir RSUD Jombang Bukan Hanya Modern tapi Juga Ramah Pejalan Kaki

Apa Penyebab Bell’s Palsy?

Agustina menerangkan, penyebab pasti Bell’s Palsy hingga kini belum diketahui secara pasti atau idiopatik. Namun, kondisi tersebut berkaitan dengan peradangan, pembengkakan maupun penekanan pada saraf fasialis.

Salah satu faktor yang dapat memicu kondisi tersebut adalah infeksi virus atau bakteri, terutama ketika daya tahan tubuh seseorang sedang menurun.

Karena itu, masyarakat perlu mengenali faktor risiko dan gejala Bell’s Palsy agar tidak terlambat mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis.

Baca Juga:
Terus Berbenah, Masyarakat Sebut Sistem Parkir RSUD Jombang Modern Seperti di Mall

Beberapa kondisi yang disebut dapat meningkatkan risiko Bell’s Palsy antara lain usia sekitar 40 tahun, diabetes melitus, kehamilan, serta sedang mengalami infeksi saluran pernapasan.

Apakah Bell’s Palsy Disebabkan Kipas Angin?

Anggapan bahwa wajah mencong akibat terlalu sering terkena kipas angin atau udara dingin masih banyak beredar di masyarakat.

Agustina menjelaskan, paparan udara dingin secara terus-menerus pada satu sisi wajah dapat menjadi salah satu faktor yang berpotensi memicu pembengkakan saraf fasialis, terutama apabila disertai kondisi lain seperti infeksi atau daya tahan tubuh yang menurun.

Namun, Bell’s Palsy tidak cukup dijelaskan hanya karena seseorang terkena kipas angin. Penyebabnya bersifat kompleks dan hingga kini belum diketahui secara pasti.

Bedakan Bell’s Palsy dengan Stroke

Salah satu hal penting yang perlu diketahui masyarakat adalah perbedaan Bell’s Palsy dan stroke.

Pada Bell’s Palsy, gangguan terjadi pada saraf perifer atau saraf tepi wajah. Akibatnya, kelumpuhan biasanya mengenai seluruh bagian salah satu sisi wajah.

Gejalanya dapat berupa dahi sulit dikerutkan, kelopak mata sulit ditutup, sudut bibir tertarik ke salah satu sisi, mata terasa pedih atau kering, hingga perubahan rasa pada bagian ujung lidah.

Sementara pada stroke, gangguan terjadi pada sistem saraf pusat atau otak. Kelumpuhan wajah pada stroke umumnya lebih terlihat pada bagian bawah wajah, terutama sekitar mulut, sedangkan kemampuan menggerakkan dahi dan mata dapat tetap ada.

Stroke juga dapat disertai gejala lain seperti kelemahan pada tangan atau kaki, gangguan bicara maupun kesulitan menelan.

Meski memiliki perbedaan karakteristik, masyarakat tidak dianjurkan melakukan diagnosis sendiri. Wajah mencong yang muncul secara mendadak tetap perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan, terutama untuk memastikan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan Bell’s Palsy, stroke, atau penyebab lainnya.

Penanganan Bell’s Palsy

Agustina menekankan bahwa pemeriksaan dan penanganan pada fase awal penting untuk mendukung proses pemulihan.

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat antivirus, kortikosteroid serta vitamin saraf sesuai hasil pemeriksaan dan indikasi medis.

Selain terapi obat, pasien Bell’s Palsy juga dapat membutuhkan rehabilitasi medik untuk membantu mengembalikan fungsi otot wajah.

Terapi dapat meliputi latihan otot fasialis dan massage untuk membantu mencegah penyusutan otot wajah. Dokter juga dapat memberikan modalitas fisik seperti infrared, Shortwave Diathermy (SWD), electrical stimulation maupun terapi laser sesuai indikasi.

Pasien juga dapat diberikan latihan yang dilakukan secara mandiri di rumah, seperti kompres hangat, pijat wajah dan latihan menggerakkan otot wajah di depan cermin.

Karena Bell’s Palsy dapat menyebabkan kelopak mata sulit menutup, perlindungan mata juga menjadi bagian penting. Pasien dapat dianjurkan menggunakan kacamata maupun tetes mata sesuai kebutuhan dan anjuran dokter.

Jangan Abaikan Wajah Mencong Mendadak

Wajah yang tiba-tiba mencong memang tidak selalu berarti stroke. Namun, kondisi tersebut juga tidak boleh dianggap sepele.

Masyarakat yang mengalami kelumpuhan wajah secara mendadak sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan dokter untuk mengetahui penyebabnya. Diagnosis yang tepat diperlukan agar pasien memperoleh penanganan sesuai kondisi dan kebutuhan.

Layanan konsultasi dan penanganan rehabilitasi medik di RSUD Jombang dapat diakses masyarakat pada hari kerja, Senin hingga Jumat, sesuai jam pelayanan Instalasi Rehabilitasi Medik.(*)