Banyak orang menyebut era 21 sebagai era kemajuan teknologi dan globalisasi. Dengan kemajuan yang begitu cepat di sektor komunikasi, transportasi, serta perdagangan telah membuat dunia semakin dekat. Semuanya dapat terhubung dalam hitungan detik.

Namun di balik kemajuan tersebut, dunia juga menghadapi berbagai persoalan besar. Persoalan itu seperti perubahan iklim, konflik geopolitik, krisis pangan, kesenjangan ekonomi, hingga ancaman kesehatan serius. Kesemuanya menunjukkan bahwa umat manusia saat ini hidup dalam satu kenyataan baru: dunia tidak lagi mengenal batas negara.

Peristiwa di satu wilayah dapat diketahui dengan cepat karena terbentuknya sistem komunikasi modern. Mau tidak mau, suka atau tidak suka peristiwa yang terjadi tersebut dapat mempengaruhi wilayah lain. Sebagai contoh, krisis ekonomi di suatu negara dapat mengguncang pasar keuangan global. 

Konflik bersenjata di suatu kawasan dapat memicu krisis kemanusiaan yang berdampak luas. Bahkan penyakit menular dapat menyebar dengan cepat karena mobilitas manusia yang tinggi.

Adalah sebuah efek domino yang dapat “menular” dengan begitu cepatnya. Situasi dan kondisi seperti itu, sangat dibutuhkan kerjasama antar bangsa yang kuat. Persoalan yang ada tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja.

Baca Juga:
Kepemimpinan di Desa

Penulis menyebut bahwa salah satu persoalan yang sangat mendesak untuk dicarikan solusinya adalah perubahan iklim. Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change menunjukkan bahwa suhu rata-rata bumi telah meningkat. 

Peningkatan ini nyata sejak era industri dan sangat berdampak. Dapat diambil contoh seperti mencairnya es di kutub, kenaikan permukaan air laut, serta meningkatnya frekuensi bencana alam. Banjir besar, kekeringan ekstrem, serta kebakaran hutan menjadi peristiwa yang semakin sering terjadi.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Negara-negara di dunia berusaha menyepakati langkah-langkah untuk mengurangi emisi karbon dan mempercepat transisi menuju energi bersih.

Namun tantangan dan kendala muncul karena kepentingan ekonomi dan politik masing-masing negara. Kedua faktor ini merupakan faktor penghambat terbentuknya kesepakatan.

Baca Juga:
Saat Dunia Batuk, Dompet Ikut Demam karena Biaya Hidup Makin Mahal

Konflik geopolitik juga menjadi tantangan besar bagi stabilitas dunia. Persaingan kekuatan bidang ekonomi, militer, dan teknologi sering kali memunculkan konflik antar negara.

Ketika konflik terjadi, dampaknya menyebar luas seperti macetnya perdagangan global, kenaikan harga energi dan pangan. Lebih lanjut, meningkatnya ketidakpastian ekonomi merupakan konsekuensi yang sering muncul dari konflik geopolitik tersebut.

Laporan dari Bank Dunia menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi antar negara dan di dalam negara masih menjadi persoalan serius. Globalisasi memang telah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang melejit. 

Namun manfaat dari pertumbuhan tersebut tidak selalu dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebagian kelompok menikmati kemajuan ekonomi yang nyata, sementara kelompok lain masih menghadapi kemiskinan dan pendidikan, kesehatan, serta kesempatan kerja.

Perkembangan teknologi digital juga membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Internet, kecerdasan buatan, serta teknologi informasi telah mengubah peradaban manusia.

 Laporan dari International Telecommunication Union, lebih dari separuh penduduk bumi kini telah terhubung dengan internet. Membuka peluang bagi inovasi dan pertumbuhan ekonomi digital. Namun hal ini juga menimbulkan persoalan baru seperti keamanan siber, hoax, serta ancaman terhadap privasi individu.

Krisis pangan juga tidak bisa diremehkan. Data dari Food and Agricultural Organization menunjukkan bahwa jutaan orang masih menghadapi masalah kelaparan dan kekurangan gizi. Pertumbuhan penduduk dunia yang terus meningkat menyebabkan kebutuhan pangan semakin besar.

Sementara itu, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan mengancam produktivitas pertanian. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan global tidak bergantung hanya pada kemampuan produksi, tetapi juga pada sistem distribusi, kebijakan ekonomi, serta stabilitas politik

Semua persoalan tersebut menunjukkan bahwa dunia saat ini semakin saling bergantung. Tidak ada satu negara pun yang mampu menghadapi persoalan dunia sendirian.

Kerja sama internasional menjadi kunci dalam mencari solusi yang berkelanjutan. Organisasi internasional, forum diplomasi, serta kerja sama multilateral memainkan peran strategis dalam membangun kesepahaman dan koordinasi antar negara.

Bagi negara seperti Indonesia, memahami persoalan dunia merupakan hal yang sangat penting. Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia tidak hanya dapat bersikap pasif terhadap berbagai persoalan tersebut.

Sebaliknya Indonesia perlu memperkuat diplomasi, meningkatkan kerja sama dengan berbagai negara, serta memperkuat kebijakan nasional yang mampu menghadapi tantangan global.

Selain itu, pendidikan juga memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki wawasan global. Generasi muda perlu memahami bahwa mereka tidak hanya menjadi warga negara Indonesia, tetapi juga bagian dari masyarakat dunia yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan umat manusia.

Pada akhirnya, berbagai persoalan yang dihadapi dunia saat ini merupakan ujian bagi peradaban manusia. Apakah umat manusia mampu mengatasi perbedaan kepentingan dan membangun kerja sama global yang kuat, atau justru terjebak dalam konflik dan persaingan yang merugikan semua pihak. 

Masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan manusia untuk bekerja sama dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan, lingkungan, dan kemanusiaan.

Jika kerja sama global dapat dibangun dengan kuat, maka berbagai masalah besar yang dihadapi dunia saat ini masih memiliki peluang untuk diatasi. Namun jika kepentingan sempit lebih diutamakan daripada kerja sama, maka krisis global yang sedang terjadi dapat berkembang menjadi ancaman serius bagi peradaban manusia di bumi.

*) Erry Himawan adalah “Pak Guru” di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya untuk Program Studi Manajemen

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)