KETIK, ACEH SINGKIL – Malam ke-17 Ramadan di Kota Banda Aceh berlangsung lebih khidmat dari biasanya. Pada malam yang diperingati umat Islam sebagai peristiwa turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Quran tersebut, terjadi pertemuan hangat antara pemerhati sosial dan kebijakan publik Aceh, Drs. M. Isa Alima, dengan Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf.
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana akrab di sela kegiatan keagamaan dan silaturahmi masyarakat pada malam 17 Ramadan. Kedua tokoh tampak berbincang santai namun penuh makna, membahas berbagai persoalan sosial di Aceh, mulai dari isu kesejahteraan hingga penguatan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.
Bagi Isa Alima, peringatan Nuzulul Quran tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan semata. Ia menilai momen tersebut juga menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali nilai-nilai keadilan, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap sesama.
“Al-Qur’an turun sebagai petunjuk bagi manusia. Maka di dalamnya ada pesan besar tentang keadilan, tentang bagaimana manusia saling menjaga dan saling menguatkan,” ujar Isa Alima saat berbincang dalam suasana hangat bersama Menteri Sosial, Sabtu, 7 Maret 2026.
Ia menilai peringatan Nuzulul Quran harus menjadi pengingat bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan agar tidak melupakan tujuan utama pembangunan, yaitu kesejahteraan manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Isa Alima juga menyampaikan sejumlah pandangan mengenai kondisi sosial masyarakat Aceh yang masih membutuhkan perhatian serius, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak yatim, lansia, dan masyarakat miskin di wilayah pedesaan.
Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang dalam hal solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut, kata dia, harus terus dijaga dan diperkuat dalam kebijakan publik agar tidak sekadar menjadi romantisme sejarah.
“Orang Aceh sejak dulu dikenal kuat dalam kebersamaan. Ketika ada yang jatuh, yang lain datang mengangkat. Spirit ini harus menjadi ruh dalam kebijakan sosial kita,” kata Isa Alima.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang dikenal sebagai tokoh nasional dengan pengalaman panjang di pemerintahan menyambut baik berbagai pandangan yang disampaikan Isa Alima.
Saifullah Yusuf menegaskan pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial terus berupaya memperkuat program perlindungan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk di Provinsi Aceh.
Menurutnya, Aceh memiliki potensi besar untuk berkembang, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga dari kekuatan nilai sosial dan religius yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
“Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan kita tentang empati dan kepedulian. Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri, diperlukan sinergi dengan tokoh masyarakat, pemerhati sosial, dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Saifullah Yusuf.
Dalam perbincangan yang berlangsung santai namun reflektif itu, kedua tokoh juga menyoroti pentingnya merumuskan kebijakan sosial yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat di lapisan paling bawah.
Isa Alima menegaskan Aceh memiliki berbagai potensi yang jika dikelola dengan baik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Namun ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh melupakan kelompok masyarakat yang paling lemah.
“Sering kali kita berbicara tentang pembangunan besar, tentang proyek dan angka-angka. Tetapi jangan sampai kita lupa pada orang-orang kecil yang hidup di pinggir jalan sejarah,” katanya dengan nada reflektif.
Ia menambahkan bahwa kebijakan sosial yang baik tidak hanya berkaitan dengan pemberian bantuan, tetapi juga tentang membangun harapan dan memberi ruang bagi masyarakat untuk bangkit dengan martabatnya sendiri.
Suasana malam di Banda Aceh saat itu terasa semakin syahdu. Lampu-lampu kota yang temaram berpadu dengan semilir angin Ramadan, sementara masyarakat terus berdatangan ke masjid-masjid untuk mengikuti peringatan Nuzulul Quran.
Dalam suasana spiritual tersebut, pertemuan Isa Alima dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjadi simbol pentingnya dialog antara pemerintah dan tokoh masyarakat dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik.
Bagi Isa Alima, silaturahmi seperti ini merupakan bagian dari upaya menjaga jembatan komunikasi antara Aceh dan pemerintah pusat. Ia meyakini perubahan yang baik selalu berawal dari percakapan yang jujur dan penuh kepedulian.
“Malam Nuzulul Quran mengingatkan kita bahwa cahaya petunjuk pernah turun ke bumi. Tugas kita sekarang adalah menjaga agar cahaya itu tetap menyala dalam kehidupan sosial kita,” ujarnya.
Pertemuan tersebut ditutup dengan doa dan harapan agar bulan suci Ramadan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Aceh serta memperkuat semangat kebersamaan dalam membangun negeri yang lebih adil, berkeadaban, dan bermartabat.
Di bawah langit Ramadan Banda Aceh yang tenang, pertemuan dua tokoh itu seakan mengingatkan bahwa di balik setiap kebijakan selalu ada manusia yang menggantungkan harapan. Selama harapan itu tetap hidup, masa depan Aceh diyakini akan terus memiliki cahaya. (*)
