KETIK, KEDIRI – Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) kembali memberikan pengalaman belajar langsung di dunia usaha kepada mahasiswa. Kali ini, mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan PSDKU Universitas Brawijaya Kediri mengikuti kegiatan Magang Berdampak di Sikumis Farm, usaha pembesaran ikan lele yang berlokasi di Desa Sidowarek, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Salah satu peserta magang, Muhammad Fauzi Aji Utama, mendapatkan kesempatan mempelajari secara langsung berbagai aspek usaha budidaya ikan lele, mulai dari proses produksi, analisis usaha, hingga strategi pemasaran. Kegiatan tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Supriyadi, S.Pi., M.P.
Budidaya ikan lele dipilih karena merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Tingginya permintaan pasar terhadap ikan lele yang mencapai sekitar 500.000 ekor per minggu menjadi peluang usaha yang menjanjikan bagi para pembudidaya.
Selama magang, Fauzi terlibat langsung dalam proses pembesaran ikan lele. Kegiatan diawali dengan persiapan kolam bundar berbahan terpal yang akan digunakan untuk menampung bibit. Proses tersebut meliputi sterilisasi kolam sebelum bibit ditebar.
Baca Juga:
Magang Berdampak, Mahasiswa UB Kediri Ikut Bongkar Muat Ikan di PrigiDalam satu kolam bundar, Sikumis Farm mampu menampung sekitar 4.000 ekor bibit ikan lele. Dengan manajemen budidaya yang baik, masa pemeliharaan hingga panen berlangsung selama tiga hingga empat bulan.
Selain itu, mahasiswa juga mempelajari manajemen pakan yang menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan budidaya. Setiap kolam membutuhkan sekitar 1.250 gram pakan pelet yang dicampur air agar lebih mudah dicerna oleh ikan. Pengelola juga rutin melakukan pengecekan kualitas air menggunakan alat ukur pH serta memantau kesehatan ikan secara berkala.
Tak hanya aspek teknis budidaya, peserta MBKM juga melakukan analisis usaha untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh dalam satu siklus produksi. Analisis dilakukan selama satu siklus budidaya atau sekitar tiga bulan dengan menghitung total penerimaan dan total biaya usaha.
Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata penerimaan dari satu kolam budidaya mencapai Rp6.863.500 per siklus. Sementara itu, biaya produksi yang meliputi pembelian bibit, pakan, upah tenaga kerja, dan listrik mencapai sekitar Rp5.190.000. Dengan demikian, pendapatan bersih yang diperoleh dalam satu kali panen dapat mencapai Rp1.673.500.
Baca Juga:
MBKM PSDKU UB Kediri Tingkatkan Pengalaman Mahasiswa di Pabrik Gula NgadiredjoFauzi juga mempelajari strategi pemasaran yang diterapkan oleh Sikumis Farm. Menurutnya, usaha tersebut mengombinasikan pemasaran konvensional dan digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Pada pemasaran offline, promosi berkembang secara alami melalui rekomendasi pelanggan atau metode word of mouth. Strategi ini dinilai efektif karena sebagian besar pembeli, khususnya tengkulak, merasa puas dengan kualitas lele yang dihasilkan.
Sementara itu, pemasaran online dilakukan dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Melalui konten-konten kreatif yang diproduksi secara rutin, Sikumis Farm mampu memperluas jangkauan pasar hingga ke berbagai daerah.
“Melalui kombinasi pemasaran offline dan online, Sikumis Farm berhasil membangun jaringan pelanggan yang tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Tulungagung hingga Blitar,” ujar Fauzi.
Pengalaman magang ini memberikan gambaran nyata kepada mahasiswa mengenai pengelolaan usaha budidaya perikanan yang berkelanjutan, sekaligus menjadi bekal dalam memahami peluang bisnis sektor perikanan air tawar di masa mendatang.