KETIK, BANGKALAN – Suasana berbeda terlihat di sebuah sudut gerai batik Tresna Art di Kabupaten Bangkalan, Madura, Kamis, 12 Maret 2026. Sejumlah mahasiswa internasional tampak serius memegang canting, menorehkan malam panas di atas kain putih.
Sesekali mereka tersenyum, saling berdiskusi, bahkan bertanya kepada para pengrajin tentang makna motif batik yang sedang mereka buat.
Kegiatan belajar budaya tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai negara seperti Pakistan, India, Timor Leste, Nigeria, Ethiopia, hingga beberapa negara di kawasan Afrika. Tidak hanya mahasiswa, kegiatan ini juga menarik minat para dosen dari Jepang, Thailand, Malaysia, hingga Brunei.
Mahasiswa internasional dari berbagai negara belajar membatik di Tresna Art Bangkalan, Kamis, 12 Maret 2026. (Foto: Ismail Hs/Ketik.com)
Kedatangan rombongan internasional ke Bangkalan bukan sekadar kunjungan biasa. Mereka ingin merasakan langsung pengalaman membatik sekaligus mempelajari cara membuat tongkos, salah satu kerajinan tangan khas Bangkalan, berupa ikat kepala tradisional Madura yang terbuat dari kain batik khas daerah tersebut. Ciri khasnya terletak pada bagian ekor belakang yang menyerupai biota laut belangkas.
Dalam filosofi masyarakat Madura, tongkos melambangkan kesetiaan. Selain digunakan sebagai bagian dari pakaian adat, tongkos kini juga telah ditetapkan sebagai atribut resmi bagi pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangkalan.
Bagi para mahasiswa mancanegara, tradisi Indonesia, terutama yang ada di Madura, memiliki daya tarik tersendiri. Mereka mengaku kagum dengan kekayaan budaya yang masih hidup dan dijaga oleh masyarakat.
“Tradisi di Indonesia luar biasa. Membatik bukan sekadar membuat kain, tapi ada cerita dan filosofi di dalamnya,” ujar Askha, salah satu mahasiswa asal Pakistan, sambil menunjukkan motif batik yang dibuatnya.
Sementara itu, pemilik gerai Batik Tresna Art, Supik Amin, tampak begitu antusias menyambut kedatangan para tamu dari berbagai negara tersebut. Sebagai pengrajin batik sekaligus pengelola galeri, ia merasa bangga melihat ketertarikan orang asing terhadap budaya lokal Madura.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa internasional yang ingin belajar langsung tentang tradisi Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus kesempatan memperkenalkan Bangkalan ke dunia internasional.
“Saya sangat senang menerima mereka yang ingin belajar tradisi Indonesia, terutama tradisi yang ada di Madura, khususnya di Bangkalan. Dengan begitu Bangkalan bisa dikenal dan dikenang sampai ke mancanegara,” kata Supik.
Namun di balik kebanggaan tersebut, Supik juga menyimpan harapan sekaligus kegelisahan. Ia menilai minat masyarakat lokal, khususnya generasi muda Madura, terhadap tradisi membatik masih tergolong rendah.
“Kalau orang luar negeri saja mau datang jauh-jauh untuk belajar tradisi kita, kenapa orang Madura sendiri kadang kurang berminat dengan tradisinya,” ujarnya.
Padahal, lanjut Supik, gerai Tresna Art selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar membatik maupun mengenal kerajinan tradisional Madura.
“Di Tresna Art ini terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin belajar. Kami selalu siap berbagi pengetahuan tentang batik dan tradisi Madura,” tambahnya.
Di tengah aroma malam panas dan warna-warna batik yang mulai bermunculan di atas kain, para mahasiswa internasional itu seolah menjadi pengingat bahwa budaya lokal tidak hanya bernilai bagi masyarakat setempat, tetapi juga memiliki daya tarik global.
Dari sebuah galeri batik Tresna Art di Bangkalan, cerita tentang tradisi Madura perlahan menyeberangi batas negara, dibawa oleh tangan-tangan muda dari berbagai penjuru dunia. (*)
