Background dari semua agama adalah kemanusiaan. Peradaban agama ditentukan oleh sejauh mana orang sungguh menjadi manusia bagi kemanusiaan.
Artinya, agama hadir untuk menciptakan ruang aman bagi kemajemukan hidup bermasyarakat dan berbangsa. Agama minoritas harus menjadi prioritas, dirangkul sebagai saudara, disapa sebagai sahabat dalam kemanusiaan.
Manusia yang beragama secara baik akan tercermin dari iman dan perilaku hidupnya. Artinya, semakin orang itu beragama, ia semakin mencintai Allah dan sesamanya sebagai gambar dan citra Allah (Imago Dei).
Sebaliknya, beragama yang dangkal akan menyebabkan orang menjadi fundamentalis dan melupakan kemanusiaan sebagai jantung perjuangan setiap agama.
Fundamentalisme agama itu baik jika dihayati dengan kedalaman jiwa, cinta kepada Allah dan sesama. Namun, seringkali kita tumbuh sebagai manusia yang mabuk agama, dan mudah terpancing memvonis kebenaran agama lain salah, dan agama kita yang paling benar. Sikap fatalistik ini menjadikan kita lupa bahwa kebenaran itu tak tunggal tapi jamak.
Baca Juga:
Seleksi Paskibraka Palembang 2025: Antara Prestasi, Transparansi dan Luka Seorang IbuAkhir-akhir ini kita disuguhi banyak cuitan di media sosial soal perang Israel dan Amerika Serikat vs Iran. Perang yang dimotori oleh nuansa politik ini gampang sekali disusupi oleh netizen Indonesia ke arah agama.
Maka tak heran kita lihat di media sosial ada bahaya baru yakni arus propaganda agama yang mengalir di sana, seakan-akan membela Iran berarti membela agama Islam dan membela Israel berarti berada di pihak Kristen.
Kita sepakat tak ada satu agama di dunia ini yang mengajarkan kita memusuhi sesama manusia. Setiap nabi mewartakan Tuhan yang Maha rahim dan Allah yang maha Adil. Allah yang akrab dan damai bagi setiap insan manusia.
Mengapa kita cepat membelot dari ajaran agama kita? Adakah kebencian itu lahir dari pemimpin agama kita atau dari egoisme yang mengalir dalam dada kita?
Baca Juga:
Antara Spiritualitas dan Komersialisasi HajiPara pemimpin agama yang kita harapkan menjadi benteng moral dan pelindung kebhinekaan jangan sampai menjadi biang keladi permusuhan dan menebarkan bibit kebenciaan.
Kita berharap agama hadir memberi kesejukan dan para pemimpin agama mesti benar-benar memberikan kita pemahaman bahwa kemajemukan adalah ciptaan Tuhan. Berbeda dimungkinkan karena Allah menginginkan perbedaan itu terjadi.
Para pemimpin negara harus juga merangkul agama-agama dan memberikan ruang aman bagi mereka untuk tinggal dan tumbuh sebagai bangsa yang adil dan beradab di bumi ini. Semua agama memberi kontribusi pertumbuhan Indonesia yang baik dan beradab.
Oleh karena itu, sebagai kaum intelektual yang berpikir lebih sehat dan punya nalar kemanusiaan harusnya lebih adil di dalam pikiran dan lebih waras bertindak. Kita semua akan sebel melihat orang beragama sikut menyikut, saling membunuh, membakar dan juga saling serang.
Semua itu adalah tindakan yang jauh dari ajaran Tuhan kepada kita.Tetapi mengapa itu bisa terjadi? Iya, kita kembali berefleksi. Jika agama hadir untuk membawa permusuhan alangkah baiknya orang tak beragama tetapi hatinya penuh dengan kedamaian.
Jika agama hadir membawa damai, alangkah lebih baiknya orang beragama. Karena dengan beragama kita semakin dimungkinkan untuk mencintai orang lain dan Tuhan yang kita imani.
Menjadi manusia berarti tak harus sama dalam keyakinan tetapi sama dalam kemanusiaan. Di situ denyut nadi agama itu bermuara sesungguhnya.
*) Yurgo Purab, S. Fil, M.Th merupakan aktivis perdamaian dan Jurnalis. Menetap di Larantuka, Flores Timur, NTT
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)