KETIK, JAKARTA – Sedikitnya 453 orang di Jepang dilaporkan menjalani perawatan di rumah sakit akibat penyakit yang berkaitan dengan suhu panas pada Rabu, 22 Juli 2026.
Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo menyebutkan jumlah pasien diperkirakan masih akan bertambah seiring suhu udara yang terus meningkat di sejumlah wilayah.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap terhidrasi dan menggunakan pendingin udara," ujar juru bicara Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo, dikutip dari AFP.
Menurut laporan, suhu di beberapa kota di Jepang telah melampaui 40 derajat Celsius.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah menetapkan kategori baru yang disebut "kokushobi" atau "hari yang sangat panas" untuk menggambarkan suhu di atas 40 derajat Celsius.
Baca Juga:
Panas Ekstrem di Indonesia Perlu Direspons dengan Sistem Peringatan Dini, Bukan Sekadar ImbauanDi Tokyo yang dihuni sekitar 14 juta jiwa, satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat gelombang panas.
Selain itu, empat orang berada dalam kondisi kritis dan 18 lainnya mengalami kondisi serius akibat serangan panas.
Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang bahkan menyebut fenomena tersebut sebagai sebuah bencana mengingat tingginya jumlah korban yang membutuhkan penanganan medis.
"Suhu telah meningkat sejak pertengahan Juli, dan gelombang panas ekstrem diperkirakan akan berlanjut di seluruh negeri. Tidak berlebihan untuk menyebut gelombang panas ekstrem ini sebagai bencana, dengan banyak orang dilarikan ke rumah sakit atau bahkan meninggal akibat serangan panas," demikian pernyataan badan tersebut.
Baca Juga:
Penelitian Ungkap Suhu di Dalam Rumah Bisa Lebih Panas daripada di Luar, Lansia Berisiko Alami Heat StressPeringatan gelombang panas telah dikeluarkan untuk hampir seluruh wilayah Jepang.
Pada Kamis, 23 Juli 2026, sedikitnya enam wilayah mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius.
Kota Hamamatsu di Prefektur Shizuoka menjadi wilayah dengan suhu tertinggi, yakni mencapai 41,1 derajat Celsius.
Sementara Kota Toyota di Prefektur Aichi mencatat suhu 40,8 derajat Celsius, disusul Kota Kuwana di Prefektur Mie dengan suhu 40,7 derajat Celsius.
Otoritas Jepang terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, serta memanfaatkan pendingin udara guna mengurangi risiko serangan panas.
Gelombang panas yang terjadi tahun ini menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.(*)