KETIK, BANDUNG – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) bersama Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat menggelar Safari Dakwah Volume 5 di Pondok Pesantren Bustanul Wildan, Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, Rabu (4/3/2026).
Agenda strategis ini bertujuan memperkokoh ajaran Aswaja An-Nahdliyah dan memperkuat konsolidasi dakwah di wilayah Bandung Raya.
Kegiatan yang berlangsung khidmat di tengah suasana bulan suci Ramadhan ini dihadiri oleh jajaran pengurus LDNU dan RMI dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, serta Kota Cimahi.
Ketua RMI PWNU Jawa Barat, Kiai Abdurrahman, menegaskan pesantren merupakan benteng pertahanan ideologi sekaligus jantung Nahdlatul Ulama. Ia meminta setiap pesantren di bawah naungan RMI tetap teguh menjaga tradisi namun tetap adaptif.
"Melalui Safari Dakwah Vol. 5 ini, kami ingin memastikan pesantren di Bandung Raya tetap menjadi pusat transmisi keilmuan yang sanadnya tersambung hingga Rasulullah SAW, tanpa kehilangan jati diri Aswaja An-Nahdliyah," ujar Kiai Abdurrahman.
Senada dengan hal tersebut, Ketua LDNU PWNU Jawa Barat, KH Jamil Abdul Latif, menyoroti pentingnya gaya dakwah yang menyejukkan. Ia mengingatkan para dai untuk mengedepankan pendekatan yang santun di tengah masyarakat.
"Tugas LDNU adalah membumikan ajaran yang rahmatan lil alamin. Dakwah kita adalah dakwah yang mengajak, bukan mengejek; yang merangkul, bukan memukul," tegas KH Jamil.
Menurutnya, sinergi ini penting agar narasi di masjid dan majelis taklim tetap berada dalam jalur moderasi NU.
Pemilihan Pondok Pesantren Bustanul Wildan sebagai tuan rumah menjadi simbol kuat kemitraan antara lembaga dakwah dan institusi pendidikan tradisional. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan rumusan dakwah yang efektif dalam menangkal paham radikal, terutama di lingkungan masyarakat urban Bandung Raya.
Acara ditutup dengan diskusi panel mengenai tantangan dakwah digital, doa bersama untuk kemaslahatan umat, serta buka puasa bersama guna mempererat silaturahmi antar pengurus dan santri. Sumber: https://jabar.nu.or.id
