KETIK, SLEMAN – Lapangan Denggung, Sleman, belum sepenuhnya benderang ketika saf-saf mulai merapat, pagi tadi Rabu, 27 Mei 2026. Dingin yang menggelayut di kawasan pusat pemerintahan itu perlahan luruh oleh gemuruh takbir yang bersahut-sahutan.

Ribuan umat Islam dari berbagai penjuru Sleman berbondong-bondong, membawa sajadah dan keikhlasan, mengubah hamparan rumput hijau menjadi lautan putih yang khusyuk untuk menunaikan salat Iduladha 1447 Hijriah.

Di antara ribuan jemaah yang memadati lapangan, tampak Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Hadir bersama keluarga besarnya, Danang berbaur di saf depan bersama jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Sleman dan jajaran tokoh masyarakat.

Kehadiran para pemimpin daerah ini seolah menegaskan bahwa momentum kurban adalah waktu di mana sekat-sekat sosial melebur dalam kepasrahan yang sama.

Batu Bata Peradaban dari Kisah Ibrahim

Baca Juga:
Beli 1.098 Ekor Pakai APBN, Rerata Sapi Kurban Prabowo Seharga Rp90 Jutaan

Kekhusyukan jemaah kian bermakna saat Dr Sabar Nurrohman naik ke mimbar. Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang bertindak sebagai imam sekaligus khatib tersebut membawa pesan mendalam melalui khutbah bertajuk “Belajar dari Ibrahim, Menyusun Batu Bata Kebangkitan Umat”.

Di hadapan ribuan pasang mata, Dr Sabar mengupas kembali fragmen sejarah teologis tentang Ibrahim AS. Sebuah kisah purba yang tidak pernah usang tentang bagaimana sebuah peradaban besar tidak dibangun di atas kemewahan, melainkan di atas fondasi pengorbanan yang radikal dan keikhlasan yang mutlak.

“Tugas kita hari ini bukan lagi menyembelih putra kita, melainkan menyembelih ego pribadi dan kelompok. Melanjutkan kisah pengorbanan tersebut artinya memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat, menjaga persatuan, dan tiada henti meningkatkan kualitas diri demi kebangkitan umat," tegas Dr. Sabar, suaranya menggema memecah keheningan pagi.

Pesan Kebangsaan dari Sudut Lapangan

Baca Juga:
Iduladha 1447 H, KORPRI Situbondo Qurban 8 Sapi

Pesan dari mimbar itu berkelindan erat dengan apa yang dirasakan oleh struktur pemerintahan di Sleman. Seusai ibadah, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menegaskan bahwa Iduladha seharusnya tidak berhenti pada ritual penyembelihan hewan kurban semata. Ada dimensi sosial dan kebangsaan yang musti dihidupkan pasca-salat Id.

Danang menggarisbawahi bahwa tantangan daerah ke depan hanya bisa diselesaikan jika masyarakat memiliki "jiwa Ibrahim" yakni kerelaan untuk berkorban demi kepentingan yang lebih besar.

"Saya mengajak seluruh masyarakat Sleman untuk menjadikan momentum ini sebagai perekat tali silaturahmi. Mari kita pererat persatuan, bahu-bahu membangun daerah. Jiwa pengorbanan mulia Nabi Ibrahim AS harus kita ejawantahkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di Sleman," tutur Danang dengan nada optimis.

Doa untuk Bumi Sembada

Menjelang siang, prosesi ibadah di Lapangan Denggung pungkas dengan tertib. Sebuah doa panjang melangit, memohon agar Kabupaten Sleman senantiasa diberkahi kedamaian, kesejahteraan, dan kemakmuran yang merata bagi seluruh warganya.

Ketika jemaah mulai membubarkan diri secara teratur, Lapangan Denggung kembali lengang. Namun, pesan tentang 'batu bata peradaban' dan keikhlasan berkorban tampaknya telah dibawa pulang oleh ribuan jemaah, siap diletakkan di rumah dan lingkungan mereka masing-masing. (*)