KETIK, TULUNGAGUNG – Gemuruh ombak pesisir selatan berpadu apik dengan riuh tabuhan gamelan dalam gelaran adat Larung Sembonyo yang kembali digelar di Pantai Popoh, Tulungagung, Minggu pagi, 5 Juli 2026.

Warisan leluhur yang telah dijaga ketat selama puluhan tahun oleh komunitas nelayan setempat ini tidak hanya menjadi ritual sakral, tetapi juga magnet pariwisata yang sukses mendatangkan ribuan pelancong.

Ritual dimulai dengan arak-arakan khidmat yang mengusung jodang berisi kepala kerbau dan gunungan hasil bumi. Berangkat dari Pendopo Pantai Popoh, kirab budaya ini menuju aula Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebagai titik kumpul warga untuk memanjatkan doa bersama. 

Seusai didoakan, sesaji tersebut dilarung oleh para nelayan ke tengah samudra. Sebuah simbolisasi sakral atas rasa syukur atas rezeki laut, permohonan keselamatan saat melaut, dan komitmen menjaga keseimbangan alam.

Acara yang berlangsung meriah ini turut dihadiri oleh jajaran forkopimda. Dalam sambutannya, Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi masyarakat pesisir dalam menjaga warisan leluhur ini. 

Baca Juga:
Peringati Tahun Baru Islam, Pemdes Plosokandang Tulungagung Salurkan Santunan Rp200 Juta kepada 55 Anak Yatim

Beliau menekankan bahwa kekuatan Tulungagung terletak pada keselarasan antara kemajuan zaman dan kelestarian budaya.

"Larung Sembonyo ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita kaya akan nilai gotong royong dan rasa syukur," ucap Ahmad Baharudin.

"Pemerintah daerah akan terus mendukung penuh kegiatan seperti ini, karena kemajuan Tulungagung tidak hanya kita lihat dari gedung-gedung yang berdiri, tetapi dari seberapa kokoh kita menjaga identitas budaya dan merawat alam. Ini adalah modal besar untuk sektor pariwisata berbasis kearifan lokal kita," ujar Plt. Bupati.

Kemeriahan acara kian memuncak dengan ditampilkannya ragam kesenian tradisional khas Tulungagung di sepanjang area pantai. 

Baca Juga:
Bersama Plt Bupati, Pemdes Tamban Tulungagung Gelar Wayang Kulit "Semar Bangun Desa"

Panggung ini menjadi ruang bagi para seniman lokal untuk mengekspresikan karyanya sekaligus memberikan hiburan edukatif bagi para wisatawan yang hadir.

Di tengah arus modernisasi yang kian deras, bertahannya Larung Sembonyo menjadi pesan kuat bahwa pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter bangsa. 

"Kami atas nama pemerintah Kabupaten Tulungagung berpesan kepada warga masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang negatif dan tidak obyektif yang berpotensi membuat gaduh Bumi Ngowo tercinta." katanya 

"Pemerintah Kabupaten Tulungagung tidak diam, kami bersama jajaran OPD terus bekerja untuk mewujudkan Kabupaten Tulungagung untuk lebih baik dan maju." tambahnya.

"Kami juga mengajak kepada warga masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi menjaga kondusifitas wilayah, dengan semangat Jogo Tulungagung agar tetap tercipta guyub rukun, damai, dan aman di wilayah kota kita tercinta." pungkasnya.

Melalui agenda tahunan ini, masyarakat Tulungagung tidak hanya berhasil mempererat solidaritas sosial, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi masa depan.(*)