KETIK, JEMBER – Pendapa Wahyawibawagraha Jember dipenuhi para tokoh agama, pengasuh pondok pesantren, guru ngaji, organisasi kemasyarakatan, hingga jajaran Pemerintah Kabupaten Jember, Selasa, 16 Juni 2026. Mereka berkumpul dalam pelantikan Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji yang digelar sebagai wadah memperkuat kolaborasi dan pertukaran gagasan.

Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang diskusi berbagai isu strategis. Para peserta membahas beragam persoalan, mulai dari kebangsaan, pembangunan daerah, hingga perkembangan ekonomi nasional yang saat ini menjadi perhatian masyarakat.

Bupati Jember Muhammad Fawait menghadiri langsung kegiatan tersebut. Sejumlah organisasi dan lembaga keagamaan juga turut hadir, di antaranya PCNU Jember, PCNU Kencong, Muhammadiyah, LDII, PHDI, hingga Musyawarah Antar Gereja.

Dalam sambutannya, Gus Fawait menegaskan bahwa pondok pesantren dan guru ngaji memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai moral masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.

 

Baca Juga:
Ada Kabar Baik dari Sektor Investasi RI, Prabowo Minta Rosan Umumkan Terbuka ke Publik

Bupati Jember Gus Fawait saat berfoto bersama para pengurus dan anggota Forum Komunikasi Pondok Pesantren dan Guru Ngaji di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa, 16 Juni 2026. (Foto: Fadli/Ketik.com)

 

"Hari ini pesantren dan guru ngaji menurut saya adalah benteng dari akhlak bangsa Indonesia," ujar Gus Fawait di hadapan para kiai, gus, lora, serta tokoh lintas agama.

Menurutnya, perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat menerima dan mengonsumsi informasi. Karena itu, kemampuan menyaring informasi dan meningkatkan literasi digital menjadi kebutuhan yang semakin penting.

Baca Juga:
41,75 Persen Lansia Masuk Kelompok Rentan Ekonomi, Ekonom Soroti Lemahnya Sistem Pensiun

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai narasi yang beredar di ruang digital tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

"Ada upaya menggiring opini dan memengaruhi masyarakat untuk mencaci maki pemimpin kita. Ini harus disikapi dengan bijak," katanya.

Gus Fawait juga mengajak masyarakat untuk melihat kondisi nasional berdasarkan data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya berdasarkan opini yang berkembang di media sosial.

Sebagai contoh, ia menyinggung perbandingan kondisi ekonomi Indonesia saat ini dengan masa krisis ekonomi tahun 1998. Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan situasi yang berbeda jauh dibandingkan periode tersebut.

"Kalau berbicara nilai tukar rupiah, kondisi hari ini tidak bisa disamakan dengan tahun 1998. Faktanya tidak seperti itu," ungkapnya.

Lebih lanjut, Gus Fawait menyebut kondisi ekonomi nasional masih berada dalam situasi yang relatif stabil. Ia menilai laju inflasi tetap terkendali, cadangan devisa negara masih kuat, serta berbagai program strategis pemerintah terus berjalan.

"Cadangan devisa kita masih sangat kuat, bahkan Indonesia kini menuju swasembada pangan," tuturnya.

Melalui forum tersebut, Gus Fawait berharap peran pesantren, guru ngaji, dan tokoh agama dapat terus diperkuat sebagai mitra strategis dalam menjaga persatuan, memperkuat literasi masyarakat, serta mengawal pembangunan daerah dan nasional di tengah tantangan era digital. (*)