KETIK, MALANG – Kualitas menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang menjadi sorotan setelah ditemukan makanan yang tidak layak konsumsi. Anggota DPRD Kota Malang menyoroti adanya buah stroberi yang ditemukan berulat dalam menu yang disiapkan untuk siswa.
H. Rokhmad, anggota Komisi A DPRD Kota Malang, menyatakan bahwa makanan dalam program MBG harus diuji kelayakannya sebelum diberikan kepada siswa.
“Tidak boleh terjadi ada makanan yang tidak layak kemudian disuguhkan kepada anak-anak. Apalagi sampai basi, itu tidak diperbolehkan,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Rokhmad juga menyoroti temuan buah stroberi yang didapati berulat dalam menu yang disiapkan untuk siswa. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membahayakan kesehatan apabila tidak terdeteksi sebelum dikonsumsi.
Baca Juga:
Tongkat Komando Korem 083/Baladhika Jaya Resmi Berganti, Kini Dijabat Oleh Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus“Kalau sampai dimakan dan menimbulkan keracunan, tentu dampaknya sangat berbahaya,” kata Rokhmad.
Ia menekankan pentingnya pengawasan dari pihak sekolah sebelum makanan dibagikan kepada siswa. Guru dan kepala sekolah diminta untuk memeriksa kualitas makanan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada para siswa.
“Sebelum makanan diterima anak-anak, guru harus mengawasi dulu. Kalau memang tidak layak, meskipun harus dikembalikan, itu tidak apa-apa,” jelasnya.
Rokhmad menambahkan bahwa karena program MBG merupakan kebijakan nasional, pemerintah daerah hanya dapat menerima aspirasi dan laporan dari sekolah maupun masyarakat. Laporan tersebut kemudian disampaikan ke tingkat provinsi dan pemerintah pusat untuk dievaluasi.
Baca Juga:
PHRI Kota Malang Ungkap Kenaikan Harga Avtur Belum Berdampak Spesifik pada HotelSelain itu, Rokhmad juga berharap lembaga terkait seperti Badan Gizi Nasional dapat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, terutama terhadap dapur penyedia makanan agar mampu memberikan layanan terbaik.
“Program ini sudah menjadi proyek nasional, sehingga pelaksanaannya harus benar-benar dijaga agar tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan siswa,” pungkasnya. (*)