KETIK, MALANG – Federasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindakan Kekerasan (Federasi KontraS) menanggapi negatif penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada mantan presiden, Soeharto.
Mereka menilai, jika Soeharto diangkat sebagai pahlawan, maka Gubernur Jenderal Hindia Belanda alias Indonesia di masa penjajahan Herman Willem Daendels juga layak.
"Logika pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto sesat. Kalau Soeharto dijadikan pahlawan, maka Daendels pun layak," kata Sekjen Federasi KontraS, Andy Irfan Junaedi, kepada Ketik.com.
"Toh, Daendels juga membangun jalan raya Anyer sampai Panarukan. Ia juga berusaha meningkatkan perekonomian melalui perkebunan," sambungnya.
Baca Juga:
Mengenal Ruhana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia yang Bergelar Pahlawan NasionalMenurut Andy Irfan, pertumbuhan ekonomi pada masa Soeharto semu belaka. Pasalnya, ia menambahkan, ekonomi Indonesia pada masa tersebut terbukti tak punya fondasi kokoh.
"Terbukti, sekali kena pukul nggak bangkit lagi sampai saat ini," tuturnya.
"Ia juga yang mengkhianati amanat undang-undang dari negara kesejahteraan menjadi pro-pertumbuhan," Andy menambahkan.
Sebelumnya, setelah sempat tiga kali tertunda, Soeharto akhirnya dianugerahi gelar pahlawan nasional. Penganugerahan ini diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo pada Hari Pahlawan, 10 November 2025.
Baca Juga:
Unitri Kembali Ajukan Ali Sastroamidjojo Menjadi Pahlawan NasionalLebih lanjut, Andy pun menyoroti reputasi Soeharto, sebagai sosok yang kerap dituding melanggar Hak Asasi Manusia, sepanjang masa kepemimpinannya. Hal inilah, sambung Andy, yang membuat Soeharto kian tak layak dijadikan sosok pahlawan.
"Soeharto itu koruptor dan penjahat HAM. Ia tidak layak mendapatkan gelar sebagai pahlawan. Seharusnya, Soeharto diingat sebagai sejarah hitam bangsa Indonesia, bukan malah sebaliknya," tandas Andy. (*)