KETIK, SURABAYA – Pesatnya perkembangan dunia digital turut membawa dampak besar bagi industri penjualan. Kini, untuk membeli berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan pokok hingga gaya hidup, masyarakat cukup mengaksesnya lewat ponsel.
Fenomena ini pun mulai dilirik banyak brand. Jika sebelumnya penjualan langsung dan interaksi tatap muka dengan konsumen menjadi andalan, kini cara tersebut tak lagi menjadi jaminan.
Produsen atau brand, wajib memiliki tambahan skill untuk mendongkrak penjualan mereka agar konsumen bisa melirik hingga memutuskan membelinya. Salah satu teknik yang bisa dipakai melalui storytelling.
"Jadi sekarang itu sudah masuk marketing 6.0. Jadi model penjualannya bukan hard selling lagi, seperti diskon atau apapun itu, tapi mengarah ke storytelling lewat konten-konten," kata CEO Increa, Nanda Rizky Amelia pada Kamis, 5 Maret 2026.
Lanjutnya, konten-konten yang ada di media sosial inilah yang nantinya menjadi kunci penting dalam mendongkrak penjualan kepada konsumen. Terlebih, konten tersebut sesuai dengan apa yang dirasakan.
"Apalagi konten yang dibuat sesuai dengan apa yang mereka alami. Justru brand ataupun produk itu akan menempel ceritanya," jelasnya.
Salah satu storytelling penjualan yang sudah dilakukan, kata Nanda, ialah Korea Selatan. Teknik ini menurutnya sudah terbukti mampu membuat konsumen tertarik. Cara ini mulai masuk ke Indonesia, khususnya Jawa Timur.
"Sekarang ini konten kiblatnya ke Korea Selatan. Di sana mereka buat konten, spill produk, lalu netizen yang mencari tahu sendiri produknya. Saat ini Indonesia sedang mengarah ke sana," imbuhnya.
Dengan netizen mencari sendiri produknya, maka akan terjadi keinginan konsumen untuk tahu lebih jauh hingga akhirnya memutuskan untuk membeli produk tersebut.
"Sementara untuk hard selling tetap ada. Namun itu akan tersegmentasi dengan sendirinya," tuturnya. (*)
