KETIK, MALANG – Komisi G Bidang Keluarga dan Remaja Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang menggelar Sarasehan dan Dialog Interaktif bertajuk “Literasi Kesehatan Mental Remaja” di Aula D3 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar sebagai ruang edukasi dan dialog untuk meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan mental remaja sekaligus mendorong terciptanya lingkungan keluarga, pendidikan, dan sosial yang suportif.
Sarasehan dihadiri Koordinator Komisi G Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Keluarga, Prof. Dr. Abd Haris, Prof. Dr. Ir. Hj. Noor Harini, M.Si., Lailatul Fithriyah Azzakiyah, S.HI., M.Pd., serta Dr. H. Miftahul Huda, M.H.
Kegiatan juga melibatkan berbagai unsur kepemudaan dan organisasi remaja. Di antaranya Forum Anak Kota Malang, perwakilan OSIS, Karang Taruna, PRISMA (Persatuan Remaja Masjid), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Nasyiatul 'Aisyiyah (NA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat NU, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Untuk memperkaya pembahasan, panitia menghadirkan Prof. Dr. Hj. Muslihati, M.Pd., dosen Bimbingan dan Konseling UM, serta dr. Winarni Dian Dwiastuti Wisnu Putri, Kp.K.J., dokter spesialis kesehatan jiwa di RS Lavalette.
Baca Juga:
Sentuhan Edukasi di Ruang Rawat: RSUD Dr. Saiful Anwar Luncurkan Inovasi "Sahabat RSSA" Bagi Pasien Anak KronisRangkaian kegiatan diawali pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan-sambutan, kemudian dilanjutkan dengan sesi sarasehan dan dialog interaktif. Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H.
Dalam sambutannya, Koordinator Komisi G MUI Kota Malang, Prof. Abdul Haris, menegaskan kesehatan mental remaja merupakan persoalan penting yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama.
Menurutnya, remaja menghadapi berbagai tekanan di tengah kemajuan teknologi, mulai dari persoalan sosial hingga hubungan interpersonal. Karena itu, diperlukan respons yang bijak agar persoalan yang dihadapi tidak mendorong remaja melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama akibat kehilangan harapan.
“Melalui sarasehan ini, kita ingin memberikan pemahaman kepada remaja tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Dalam perspektif Islam, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan jasmani, tetapi juga menyangkut kondisi rohani dan mental. Karena itu, membersihkan dan menata hati melalui ibadah menjadi bagian penting dalam membangun ketenangan sekaligus ketahanan diri,” ujarnya.
Baca Juga:
Agustusan Jadi Momentum Pererat Persaudaraan, Warga RT 05 Merjosari Gelar Festival HarmoniWakil Ketua MUI Kota Malang, Dr. K. H. Khusairi, juga menekankan pentingnya perhatian dan pendampingan terhadap remaja. Menurutnya, penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perilaku remaja sekaligus mengurangi perhatian orang tua terhadap anak.
“Handphone sering kali berhasil mengelabui remaja, bahkan orang tua. Karena itu, perhatian dan pendampingan orang tua sangat penting. Anak pada dasarnya belajar dari kebiasaan orang tuanya. Ketika orang tua lebih sering sibuk dengan handphone, anak pun dapat meniru kebiasaan tersebut,” ujarnya.
Khusairi berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan duta remaja yang tidak hanya memperoleh manfaat dari sarasehan, tetapi juga mampu menularkan pengetahuan, nilai-nilai positif, dan kepedulian kepada teman sebaya serta lingkungan sekitar.
Dalam sesi utama, Prof. Muslihati menyampaikan bahwa literasi kesehatan mental tidak cukup dipahami sebagai pengetahuan mengenai gangguan psikologis. Literasi juga perlu menjadi bagian dari proses pendidikan dan pengasuhan.
“Remaja tidak cukup hanya dibekali kecerdasan akademik. Mereka juga perlu memiliki kemampuan mengenali diri, memahami emosi, mengelola tekanan, serta memiliki keberanian untuk mencari bantuan ketika menghadapi persoalan. Karena itu, keluarga dan lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi remaja untuk tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Winarni mengingatkan pentingnya kepekaan orang tua dan lingkungan sekitar dalam mengenali perubahan perilaku maupun kondisi emosional remaja.
“Kesehatan mental remaja perlu diperhatikan sejak munculnya tanda-tanda awal. Perubahan perilaku, emosi, pola tidur, interaksi sosial, maupun prestasi dapat menjadi sinyal yang perlu diperhatikan. Jangan langsung menghakimi, tetapi dekati, dengarkan, dan berikan dukungan agar remaja tidak merasa menghadapi persoalannya seorang diri,” jelasnya.
Peserta kemudian mengikuti dialog interaktif dan menyampaikan berbagai pertanyaan serta pengalaman terkait persoalan remaja, mulai dari tekanan akademik, relasi sosial, dinamika keluarga, hingga tantangan penggunaan media digital.
Melalui sarasehan tersebut, MUI Kota Malang mendorong penguatan kepedulian terhadap kesehatan mental remaja dengan melibatkan keluarga, sekolah, organisasi kepemudaan, masyarakat, dan lembaga keagamaan. (*)