KETIK, SITUBONDO – Pemerintah Kabupaten Situbondo menegaskan komitmennya membangun tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif di bawah kepemimpinan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah. Penempatan tokoh masyarakat dalam berbagai peran publik disebut tidak lagi didasarkan pada latar belakang politik, melainkan kemampuan dan kompetensi masing-masing individu.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Situbondo, Iwan Subakti, mengatakan semangat tersebut juga diterapkan dalam pengelolaan kegiatan keagamaan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo.

Menurutnya, penunjukan takmir masjid maupun khotib Salat Iduladha dilakukan berdasarkan kapasitas dan kemampuan tokoh yang bersangkutan, bukan karena faktor politik.

“Pemkab di bawah kepemimpinan Mas Rio dan Mbak Ulfi tidak pernah mengotak-ngotakkan sosok. Keputusan didasari pada kapabilitas dan kemampuan di bidang masing-masing, termasuk dalam penunjukan sebagai takmir masjid maupun khotib salat Id. Buktinya, pada Salat Iduladha besok, KH Moh. Jaiz Badri Masduqi menjadi khotib dan imam Salat Iduladha di Masjid Al-Abror Situbondo,” kata Iwan, Selasa, 26 Mei 2026.

Ia menegaskan pemerintah daerah saat ini ingin meninggalkan pola lama yang sarat kepentingan politik pasca-Pilkada. Pemkab Situbondo, lanjut Iwan, berupaya membuka ruang yang sama bagi seluruh elemen masyarakat untuk berkontribusi membangun daerah.

Baca Juga:
Presiden Prabowo Dijadwalkan Salat Iduladha di Prancis

“Setiap orang punya ruang yang sama. Bahkan meski dulu ada pihak yang berbeda pilihan politik, kini tetap memiliki hak yang sama untuk ikut berkontribusi,” ujarnya.

Iwan menilai pendekatan tersebut penting untuk menciptakan suasana sosial yang harmonis dan kondusif di tengah masyarakat. Pemerintah daerah, kata dia, ingin memastikan seluruh warga dapat terlibat dalam pembangunan tanpa dibayangi perbedaan politik masa lalu.

“Yang dibutuhkan Situbondo saat ini yakni kolaborasi. Siapapun orangnya jika punya kemampuan dan niat baik untuk membangun Kabupaten Situbondo, maka ruang itu terbuka bagi siapa saja,” tambahnya.

Semangat keterbukaan tersebut, menurut Iwan, terlihat dalam aktivitas di Masjid Agung Al-Abror yang berada di kawasan Alun-alun Situbondo. Masjid itu menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi ASN Pemkab Situbondo sekaligus masyarakat umum.

Baca Juga:
Masjid Al Akbar Surabaya Siap Gelar Salat Iduladha, Mantan Mendikbud Mohammad Nuh Jadi Khatib

Ketua Takmir Masjid Al-Abror, Habib Muhammad bin Abubakar Al Muhdar, mengakui suasana yang lebih inklusif membuat aktivitas kemasjidan berjalan lebih terbuka dan partisipatif.

“Masjid ini milik umat. Siapa saja terbuka untuk ikut memakmurkan masjid. Yang penting punya niat baik,” ujar Habib Muhammad.

Ia mengatakan jumlah jamaah di Masjid Al-Abror terus meningkat, terutama pada Salat Zuhur. Banyak ASN dan pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo rutin melaksanakan salat berjamaah di masjid tersebut.

“ASN dan pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Situbondo rutin mengikuti salat berjamaah. Kalau saya menjadi imam Salat Zuhur, jamaah dari kantor-kantor Pemerintah Kabupaten Situbondo banyak yang datang,” katanya.

Habib Muhammad yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Situbondo menyebut aktivitas salat berjamaah di Masjid Al-Abror cukup ramai, khususnya pada hari Senin hingga Kamis.

Selain aktivitas ibadah harian, pengurus Masjid Al-Abror saat ini juga tengah mempersiapkan pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah.

“Besok, khotib Iduladha dijadwalkan diisi oleh KH Moh. Jaiz Masduqi. Setelah Salat Iduladha, kami langsung melaksanakan penyembelihan hewan kurban sekitar pukul 08.00 sampai 09.00 WIB,” pungkas Habib Muhammad.

Pendekatan inklusif yang dibangun Pemerintah Kabupaten Situbondo dinilai menjadi bagian dari visi “Situbondo Naik Kelas” yang diusung Mas Rio dan Mbak Ulfi, tidak hanya dalam pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga dalam membangun budaya politik yang lebih dewasa, harmonis, dan merangkul seluruh elemen masyarakat. (*)