KETIK, SAMPANG – Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat belajar dua kakak beradik yatim piatu, Wildan dan Ainun, warga Desa Daleman yang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Miftahut Thullab, Gedangan, Kedungdung, Kabupaten Sampang, Jawa Timur.
Wildan, yang saat ini duduk di kelas 2 Madrasah Aliyah (MA), dikenal sebagai salah satu siswa berprestasi di pesantren tersebut. Sementara itu, adiknya, Ainun, masih menempuh pendidikan di kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Meski hidup dalam serba keterbatasan, keduanya tetap menunjukkan semangat tinggi untuk menuntut ilmu.
Sejak kecil, Wildan dan Ainun telah kehilangan sosok orang tua. Ayah mereka meninggal dunia saat Wildan baru berusia 40 hari. Sementara itu, sang ibu wafat ketika Wildan duduk di kelas 4 MI. Sejak saat itu, mereka harus menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan.
Dalam keseharian, kebutuhan dasar seperti makan pun kerap menjadi persoalan. Wildan mengaku terkadang harus meminta bantuan kepada teman-temannya di pondok untuk sekadar mengisi perut.
“Kadang kalau tidak punya apa-apa, saya minta ke teman pondok. Malu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, itu satu-satunya cara supaya bisa tetap bertahan,” ujar Wildan dengan nada lirih. Minggu, 12 April 2026.
Tidak hanya itu, untuk mendapatkan uang saku, Wildan sesekali membantu tetangga membuat gorengan. Upah yang diterimanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk keperluan sekolah.
“Kalau ada kesempatan, saya bantu-bantu tetangga bikin gorengan. Hasilnya tidak seberapa, tapi sangat berarti untuk saya. Setidaknya bisa untuk beli kebutuhan kecil atau sekadar jajan,” tuturnya.
Ainun adiknya Wildan (Foto: Mat Jusi/Ketik.com)
Sementara itu, Ainun yang masih duduk di bangku MI juga merasakan kondisi serupa. Meski masih kecil, ia sudah memahami keterbatasan yang mereka hadapi. Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat.
“Kami ingin tetap sekolah, ingin belajar yang rajin. Walaupun tidak punya banyak, kami percaya Allah pasti kasih jalan,” ucap Ainun.
Saat ditanya mengenai sumber uang jajan, mereka berdua memberikan jawaban sederhana yang mencerminkan keteguhan hatinya.
“Saya menunggu rezeki dari Allah Swt. Kadang ada saja jalan, entah dari siapa. Yang penting saya tetap berusaha dan tidak berhenti belajar,” kata mereka.
Saat ini, Wildan dan Ainun tinggal bersama kerabatnya. Untuk makan, mereka terkadang harus menumpang di rumah sepupu dan keponakan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari keseharian yang harus mereka jalani dengan penuh kesabaran.
Meski hidup dalam keterbatasan, keduanya memiliki harapan besar untuk masa depan. Wildan bercita-cita untuk terus melanjutkan pendidikan dan membahagiakan orang-orang di sekitarnya, termasuk sang adik.
Kisah perjuangan Wildan dan Ainun menjadi potret nyata bahwa semangat belajar tidak selalu bergantung pada kondisi ekonomi. Di tengah keterbatasan, mereka tetap teguh mengejar pendidikan demi masa depan yang lebih baik.
Sekedar informasi, bagi dermawan yang ingin membantu bisa hubungi nomor WhatsApp 0877-2306-4160. (*)
