KETIK, MALANG – Remaja perlu mengenali dan menolong sesama saat terjadi krisis kesehatan mental. Pengetahuan mengenai tanda-tanda gangguan mental menjadi hal wajib bagi generasi muda, terlebih di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang diiringi maraknya kasus bunuh diri akibat persoalan psikologis.
Pesan tersebut disampaikan dr. Winarni Fian Dwiastuti Wisnu Putri, Sp.KJ., dalam Sarasehan Dialog Interaktif bertema "Literasi Kesehatan Mental Remaja" yang digelar Komisi G Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang di Aula D3 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu, 8 Agustus 2026.
Dalam pemaparannya, dr. Winarni menyebut banyak remaja yang saat ini berjuang melawan krisis kesehatan mental. Mereka kerap tampak baik-baik saja di luar, namun menyimpan beban pikiran yang berat. Karena itu, peran lingkungan sekitar sangat krusial untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
"Banyak remaja yang tampak baik-baik saja sebenarnya sedang berjuang dalam diam, karena itu, kepedulian dan pertolongan awal psikologis (PFA) sangat penting," tuturnya.
Baca Juga:
Komisi G MUI Kota Malang Gelar Serasehan Dialog Interaktif, Dorong Literasi Kesehatan Mental Remaja di Era DigitalBerdasarkan data yang dipaparkan, 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya sebagian kecil yang memperoleh bantuan profesional.
Sementara itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 1 dari 7 remaja usia 10 hingga 19 tahun mengalami gangguan mental. Bahkan, bunuh diri menjadi salah satu dari tiga penyebab kematian tertinggi pada kelompok remaja dan dewasa muda.
Dr. Winarni merinci beberapa masalah kesehatan mental yang kerap menimpa remaja, mulai dari stres, kecemasan, depresi, perundungan (bullying), kecanduan melukai diri (self-harm), penyalahgunaan zat, hingga adiksi gawai dan media sosial yang berisiko memicu ide bunuh diri.
Sebagai kelompok rentan, remaja menghadapi beragam tekanan, seperti tuntutan akademik, dinamika media sosial, pergaulan, konflik keluarga, krisis identitas, hingga ketidakpastian masa depan.
Baca Juga:
Skrining Kesehatan Mental Remaja Dinilai Belum Cukup, Pendampingan Jadi Kunci KeberhasilanHingga kini, berbagai mitos seputar kesehatan mental masih dipercayai remaja, sehingga mereka cenderung memendam masalah. Dr. Winarni mengungkapkan, masyarakat kerap mengaitkan gangguan jiwa semata-mata dengan kurangnya iman. Padahal secara medis, kondisi psikologis dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
Stereotipe bahwa depresi hanya dialami orang lemah juga perlu dikikis, sebab kondisi ini bisa menimpa siapa saja. Mitos lain yang masih beredar di masyarakat antara lain menganggap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pasti berbahaya, gangguan jiwa tidak dapat sembuh, hingga anggapan bahwa berobat ke psikiater berarti gila.
Beberapa mitos keagamaan tentang kesehatan mental juga perlu diluruskan, seperti rajin ibadah pasti tidak depresi, berobat berarti kurang tawakal, semua gangguan jiwa karena gangguan gaib, dan mencari bantuan adalah kelemahan.
Mitos-mitos keagamaan tersebut perlu diluruskan berdasarkan fakta bahwa iman memberi kekuatan menghadapi cobaan (iman adalah pilar), pengobatan adalah bagian dari ikhtiar (obat & dokter adalah jalan), gangguan mental memiliki faktor biologis dan sosial (bukan melulu gaib), dan keberanian adalah meminta bantuan (mencari pertolongan adalah tindakan berani).
Dr. Winarni juga menekankan untuk mengenali tanda dan gejala gangguan mental. Ini penting bagi diri sendiri dan kepedulian terhadap sesama. Tanda-tanda tersebut bisa terlihat dari emosi dan pikiran, seperti suasana hati tidak stabil (sedih mendalam, cemas atau marah berlebihan), perubahan cara berpikir (sulit konsentrasi, bingung atau keyakinan tidak wajar), perasaan tak berdaya (merasa putus asa, tidak berharga, atau hampa), pikiran menyakiti diri (pikiran untuk melukai diri sendiri atau orang lain).
Selain itu, tanda-tanda gangguan mental bisa dilihat dari perubahan perilaku dan fisik, seperti menarik diri (menjauhi dari teman, keluarga, dan hobi), gangguan tidur (insomnia atau hipersomnia), perubahan nafsu makan, dan kurang berenergi. Jika mendapatkan tanda-tanda tersebut, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional agar dapat lebih cepat teratasi.
Dr. Winarni juga menyampaikan bahwa orang yang mengalami gangguan mental akut akan melakukan red flags yang tidak boleh untuk diabaikan, seperti bicara ingin mati, mengucapkan perpisahan, self-harm, menulis pesan terakhir, memberikan barang kesayangan, berdiri lama di tempat berisiko, hingga menarik diri total.
Dalam menangani beberapa tanda-tanda masalah kesehatan mental, orang terdekat dapat melakukan beberapa dukungan kepada teman yang mengalami krisis kesehatan mental.
Jika teman menjadi korban bullying atau mulai stres, orang sekitar bisa melakukan langkah pertolongan, mulai dari tenangkan situasi, dengarkan, validasi emosi, cari solusi sederhana atau dampingi, hingga mendorongnya untuk mencari bantuan.
Sementara jika teman melakukan tindakan melukai diri sendiri (self-harm) atau sering mengatakan ingin mati, yang harus dilakukan, mulai dari meminta untuk tetap tenang, dengarkan semua ceritanya, mendampinginya, hingga mencari bantuan orang dewasa.
Dalam mengatasi masalah kesehatan mental seperti ini, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan, seperti memarahinya, mempermalukannya, menyebarkan cerita, hingga mengabaikannya.
Melalui Sarasehan Dialog Interaktif bertajuk "Literasi Kesehatan Mental Remaja", para remaja bisa lebih peduli dengan kondisi mental diri sendiri maupun orang lain, sehingga ia bisa menyelamatkan kehidupan remaja-remaja lainnya.(*)