KETIK, SURABAYA – Menjadi seorang pengajar, mahasiswa, sekaligus pekerja di usia muda bukanlah perkara mudah. Namun hal tersebut dijalani dengan tekun oleh Ahmad Bachtiar Wiranu, atau yang akrab disapa Ranu.
Pemuda asal Gununganyar, Surabaya ini mampu menyeimbangkan waktunya antara kuliah, mengabdi sebagai pengajar TPQ, dan mengelola bisnis online shop yang ia jalankan setiap hari.
Ranu tercatat sebagai mahasiswa aktif program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Di tengah kesibukan akademiknya, ia tetap menyempatkan diri untuk mengajar di TPQ Darunnajah yang berada di lingkungan tempat tinggalnya.
Selain mengajar, Ranu juga aktif mengelola toko online yang menjual berbagai jenis topi. Bukan sekadar pekerjaan sampingan, aktivitas ini ia jalankan secara konsisten setiap hari.
“Kesibukan saya setiap hari itu mengajar di TPQ, kuliah S1 PAI di UINSA, dan bekerja online shop. Kalau orang sekarang bilangnya freelance, tapi kalau saya kerjanya setiap hari dan setiap jam, cuma lebih fleksibel saja,” ujar Ranu.
Geluti Bisnis Online Shop
Bisnis yang dikelolanya berfokus pada penjualan topi, khususnya topi jaring dan topi baseball dengan desain custom. Produk-produk tersebut dipasarkan secara online dan telah menjangkau konsumen di berbagai daerah di Indonesia.
Menjelang Idulfitri, aktivitas penjualan di toko online miliknya biasanya meningkat. Banyak pelanggan yang memesan topi custom untuk melengkapi penampilan saat momen Lebaran dan silaturahmi bersama keluarga.
“Menjelang Idulfitri, permintaan topi custom memang meningkat pesat, terutama dari pelanggan yang ingin tampil beda saat momen silaturahmi,” kata Ranu.
Namun, meningkatnya pesanan tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait pengelolaan stok barang. Apalagi ketika berbagai event promosi di platform marketplace berlangsung berdekatan.
“Tantangannya ketika ada beberapa event yang berlangsung bersamaan, sehingga menyebabkan pembludakan pesanan. Contohnya baru-baru ini, Hari Raya Idulfitri berbarengan dengan Hari Raya Imlek. Dampaknya, stok barang cepat habis, padahal proses pemesanan stok membutuhkan waktu yang cukup lama,” Kata Ranu.
Untuk mengatasi keterbatasan stok, Ranu terkadang menerapkan strategi penggantian produk dengan barang serupa yang memiliki motif yang sama, namun tetap memberi kesempatan bagi pelanggan untuk melakukan retur jika tidak sesuai.
“Kalau stok habis, kami kirim barang sejenis dengan motif yang sama. Tapi kami tetap terbuka untuk retur kalau pelanggan merasa tidak cocok, karena kepuasan pelanggan tetap prioritas,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa menjelang Hari Raya Idulfitri, setiap hari libur atau akhir pekan pihak gudang Shopee tidak menerima pesanan baru. Meski demikian, pengiriman barang tetap dapat dilakukan, namun sifatnya tidak mendesak. Hal ini berbeda dengan hari biasa, di mana pesanan yang bersifat mendesak harus segera diproses dan dikirim pada hari yang sama.
Dalam menjalankan bisnisnya, Ranu berperan sebagai seller yang bekerja sama dengan pemilik gudang. Barang dikirim langsung dari gudang kepada pembeli, sementara ia bertanggung jawab mengelola toko serta melayani pelanggan secara online.
Produk topi yang ia jual kini telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Namun luasnya jangkauan pengiriman tersebut terkadang menghadirkan tantangan, terutama ketika terjadi kendala distribusi di daerah tertentu.
“Produk saya sebarluaskan se-Indonesia. Bahkan dulu waktu Aceh sempat terdampak bencana, ada notifikasi dari pihak marketplace kalau paket tidak bisa dikirim dan resi tidak keluar,” kenangnya.
Disiplin Bagi Waktu
Dalam pengelolaan bisnis sehari-hari, Ranu memegang peran penting dalam mengatur pesanan yang masuk. Ia bahkan memiliki jadwal khusus untuk mencetak resi pengiriman, yakni sebelum sahur sekitar pukul 03.00 dan sore hari sekitar pukul 14.00.
Baginya, ketepatan waktu sangat penting untuk menjaga reputasi toko di mata pelanggan. Ia juga rutin memeriksa pesan dari pembeli setiap beberapa jam sekali melalui ponselnya.
“Gampang saja, waktu mengajar ya mengajar. Tapi setiap dua jam sekali saya pasti cek HP untuk melihat apakah ada pesan masuk dari pembeli. Bisnis ini solusinya paling mudah karena bisa dijalankan saat waktu senggang atau saat kuliah kosong,” ujar Ranu.
Dari usaha yang dijalankannya tersebut, Ranu mengaku bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu dalam sepekan. Sementara itu, omzet kotor penjualan bisa mencapai sekitar Rp1 juta dalam satu hari. Jika dihitung dalam satu bulan, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp2 juta.
Meski permintaan meningkat menjelang Lebaran, Ranu memilih untuk meliburkan sementara toko online-nya pada hari pertama Idulfitri agar dapat fokus merayakan hari raya. Ia berencana kembali membuka operasional toko pada hari ketiga Lebaran.
Ranu mengaku tidak mudik saat Lebaran tahun ini. Ia menjelaskan bahwa dirinya lebih memilih merayakan Hari Raya Idulfitri bersama keluarga di rumahnya sendiri. Meski demikian, ia mengaku pernah merasakan pengalaman mudik dan merasakan perbedaan antara merayakan Lebaran dengan mudik maupun tidak.
“Kalau dulu mudik itu karena masih ada kakek dan nenek di desa, jadi rasanya lebih menyenangkan karena suasana pedesaannya masih terasa. Mungkin sekarang karena rumahnya sudah direnovasi dan menjadi lebih bagus, jadi rasanya mudik tidak lagi seperti dulu,” ujarnya.
Mengajar Adalah Pengabdian
Bagi Ranu, menjalankan bisnis tidak harus mengganggu aktivitas pendidikan maupun pengabdian di masyarakat. Ia memandang bisnis online sebagai sarana untuk belajar mandiri sekaligus mengasah kemampuan di bidang digital.
“Tujuannya agar bisa mandiri secara finansial sambil tetap menjalankan pengabdian di TPQ. Bagi saya, mengajar itu soal panggilan hati, sementara bisnis adalah cara saya belajar tanggung jawab,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Ranu juga berpesan kepada para mahasiswa atau generasi muda yang ingin memulai bisnis agar tidak terlalu ragu untuk mencoba.
“Jangan terlalu banyak berpikir sampai tidak mulai-mulai. Mulai saja dulu dari yang kecil, seperti yang saya lakukan dengan jualan topi. Konsistensi itu jauh lebih penting daripada modal yang besar,” pungkasnya. (*)
