KETIK, SURABAYA – Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur (Kanwil Kemenag Jatim) menyambut kehadiran 57 Bhikku dalam rangkaian Indonesia Walk for Peace 2026 pada Kamis, 14 Mei 2026.

Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jatim, Syaikhul Hadi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan jalan damai tersebut.

"Kami mengucapkan selamat datang kepada Yang Mulia Bhikku Sangha beserta seluruh pendamping. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perdamaian dapat dimulai dari langkah-langkah kecil melalui sikap saling menghormati dan saling mendukung antar sesama," katanya dikutip dari keterangan resmi.

Lanjutnya, Kemenag terus berkomitmen memperkuat moderasi beragama sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang harmonis karena itu, kegiatan seperti Indonesia Walk for Peace dinilai sangat relevan dalam mempererat persaudaraan lintas agama dan budaya.

 

Baca Juga:
Lawan Terik Surabaya, 57 Bhikku Berjalan Menuju Candi Borobudur Jelang Waisak

Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jatim, Syaikhul Hadi saat menyambut Bhikku yang sedang menunaikan perjalanan damai ke Candi Borobudur. (Foto: Kemenag Jatim)

 

“Selamat melanjutkan perjalanan menuju Borobudur. Semoga langkah panjenengan semua membawa kedamaian dan harmoni bagi sesama,” tuturnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace Jawa Timur, Irwan Pontoh. Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa rombongan Indonesia Walk for Peace 2026 terdiri dari peserta dengan rentang usia yang beragam, mulai dari peserta termuda berusia 23 tahun hingga peserta tertua berusia 67 tahun.

Baca Juga:
LKPJ Gubernur Jatim TA 2025 Diterima Seluruh Fraksi DPRD, Khofifah Tegaskan Sinergi dan Kolaborasi Jadi Kunci Wujudkan Pembangunan

Perjalanan damai tersebut dipimpin langsung oleh Bhante Prakari dari Thailand. Meski memiliki postur tubuh kecil, semangat dan keteguhannya menjadi inspirasi bagi seluruh peserta selama perjalanan berlangsung.

Menurutnya kegiatan ini bukan hanya milik umat Buddha semata, melainkan menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat Indonesia.

“Perayaan Waisak dan perjalanan damai ini bukan milik satu golongan saja, tetapi milik kita semua. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam merawat Indonesia yang damai dan harmonis,” ungkapnya. (*)